Ada tiga sebab yang membuat manusia berani membangunkan macan tidur. Pertama, dia telah menyiapkan singa-singa untuk meredam kemarahan si macan. Kedua, dia tidak mengilmui tabiat macan sesungguhnya ketika diusik. Ketiga, dia tidak berilmu sehingga kerap mengenyampingkan proses berpikir sebelum bertindak.

Contoh sebab pertama tercermin pada aksi Imperial Japanese Navy membombardir Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941. Sedangkan untuk sebab kedua invasi Uni Soviet ke Afghanistan di tahun 1979 hingga akhir 80-an. Adapun jenis ketiga ini contohnya banyak sekali terjadi sedari dulu hingga hari ini.

Jenis pertama sejatinya adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan kekuatan. Jepang kala itu mengetahui betul bahwa Amerika Serikat adalah kekuatan adidaya terutama di wilayah Pasifik baik secara geopolitis maupun aset perangnya. Moral AS juga baik mengingat ia berada di pihak pemenang Perang Dunia I. Jepang mengetahui pula bahwa AS berusaha untuk menghindari keterlibatan langsung ke dalam konflik di Eropa meski Inggris terus membujuknya untuk turut menahan agresi Wermacht.

Di lain sisi, Jepang juga bukanlah negara underdog. Bahkan ia memiliki aset perang yang mumpuni untuk menguasai Asia Tenggara seluruhnya. Imperial Japanese Navy juga sudah ber“ijtihad” untuk mengantisipasi segala kemungkinan selepas penyerangan ke Pearl Harbor. Akan tetapi serangannya ke Pearl Harbor itu adalah pangkal kekalahan Kekaisaran Jepang di laut, darat, dan udara. Singa-singa Hirohito tak kuasa meredam amukan macan-macan Roosevelt.

Dalam banyak interpretasi sejarah, Jepang mengilmui betul bahwa di atas kertas agresinya itu akan berujung pada bencana. Akan tetapi perbedaan pendapat di kalangan petinggi militer serta kebutuhan bahan mentah untuk industri perangnya-lah yang memaksa mereka mencoba peruntungannya.

Tipe kedua adalah mereka yang memiliki kekuatan namun tidak memiliki ilmu memadai. Uni Soviet kala itu merupakan salah satu negara adidaya dengan pengaruh politik dan kekuatan militer yang signifikan di dunia. Sedangkan Afghanistan, menurut mereka, adalah gerombolan suku-suku gurun yang primitif tanpa persenjataan dan keahlian strategi perang yang memadai.

Uni Soviet tidak mengilmui dengan benar perihal ideologi religius masyarakat Afghanistan. Meski dapat dikatakan terbelakang dari segi teknologi militer, mereka bukanlah “anak kemarin sore” dalam kancah peperangan. Sejarah peperangan mengalir deras di darah-darah mereka. Afghanistan adalah medan perang dan lahan perekrutan laskar-laskar Imperium Abbasiyah, Bani Seljuk, Dinasti Mughal, dan singa-singa Timurid.

Uni Soviet tidak belajar kepada Guru Besar mereka, Karl Marx, yang pernah mengatakan sejarah itu berulang; pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon. Benar saja, Uni Soviet menjadi “bahan tertawaan” setelah kalah dari para mujahidin yang menahan agresi bersenjatakan seadanya. Uni Soviet tidak mengilmui betul aspek sejarah sehingga ia kemabli menjadi korbannya.

Sedangkan jenis ketiga adalah karakter yang banyak ditemui pada manusia. Mereka adalah orang yang tidak berilmu dan tidak memiliki antisipasi. Dalam Islam, ilmu itu adalah pangkal kebaikan meski ia belum final. Namun pada hakikatnya tidak mungkin seseorang berislam dan beriman tanpa ilmu. Ia haruslah mengilmui terlebih dahulu mana yang benar mana yang bathil. Dan itu menuntut pengetahuan akan hakikat sesuatu. “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).

Imam Bukhâri bahkan menyusun bab khusus dalam kitab Jami al Shahih-nya berjudul Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat). Sehingga orang yang luputnya dari proses berpikir sebelum berbicara adalah indikasi kurangnya ilmu. Padahal Rasulullah menyandingkan bahaya lisan seperti bahaya dosa yang diperbuat kemaluan.

Ilmu jualah yang memuliakan seekor anjing yang telah diajari untuk berburu ketimbang anjing-anjing lainnya. Hewan hasil tangkapan anjing yang telah dibekali ilmu berburu halal untuk dimakan. Sedangkan hewan yang ditangkap oleh anjing-anjing liar tanpa ilmu berburu maka daging itu dihukumi bangkai yang haram dimakan.

Ibnu Jauzi mengutip ucapan Yusuf bin Asbath, ia mengatakan: “Mempelajari satu bab ilmu, setara dengan mengikuti 70 peperangan.” Imam Asy Syafi’i mengatakan: “Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.” Dengan ilmu, seseorang lebih mampu mengendalikan lisannya. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.”

Salah satu bentuk berkata tanpa ilmu adalah berbicara mengenai sesuatu yang ia tidak yakini dan pahami. Oleh sebab itu, pelecehan kitab suci pemeluk agama lainnya termasuk ke dalamnya. Terlebih lagi perkataannya itu bukanlah hasil dari proses berpikir yang ilmiyah menggunakan metodologi para ulama, atau disebut juga sebagai ijtihad. Jika tanpa ilmu (kompetensi dan otoritas), maka tindakan ini diduga mengandung unsur kebencian dan menyelisihi nilai toleransi antar umat beragama.

Sejarah itu berulang. Al-Qur’an telah mengisyaratkan akan hal ini dengan sebuah ayat, “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 62). Sebab-sebab kemuliaan dan kehinaan manusia dan peradabannya selalu sama sejak dulu hingga sekarang.

Terkadang, macan-macan itu tertidur bukan karena malas, lengah, atau tidak memiliki semangat. Hanya saja ia tahu kapan sesuatu itu membahayakan jiwanya atau tidak. Andaikata hanya lalat yang hinggap di tubuhnya atau serangga-serangga kecil melintas di depannya, seekor macan masih bisa bergeming sebagai bentuk toleransi demi menjaga keharmonisan habitatnya.

Fakta sejarah membuktikan, membangunkan macan tidur seringkali berujung bencana.

 

Advertisements