Muqaddimah Penyusun

Sesungguhnya Allah telah menjadikan syetan sebagai musuh manusia. Ia selalu menghadang manusia dari jalan yang lurus dan terus mendatanginya dari segala arah dan jalan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً

“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu)…” (QS. Fathir: 6).

Allah telah memperingatkan kita agar tidak mengikuti syetan, dan justru memerintahkan untuk memusuhinya. Diantara sekian banyak tipu daya musuh yang terkutuk ini adalah dia membisikkan penyakit was-was (bimbang) ke dalam hati banyak kaum muslimin, baik dalam masalah aqidah, ibadah maupun perkara lain­nya.

Aku beritahukan kepadamu, wahai sauda­raku muslim, bahwa ada dua sebab penyakit was-was, yaitu: bisa jadi karena tidak paham terhadap syariat, atau karena otaknya bodoh. Dan kedua hal ini merupakan sebesar-besar kekurangan dan aib. Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata: “Ikutilah (As-Sunnah) dan janganlah kalian membuat sesuatu yang baru (bid’ah), karena sungguh itu telah cukup bagi kalian.”

Salah satu tipu daya syetan terhadap orang-orang bodoh adalah dia membisikkan kepada mereka perasaan was-was dalam thaharah (bersuci) dan shalat. Sehingga dengan itu, ia menjauhkan mereka dari mengikuti sunnah. Terbayangkan oleh salah seorang di antara mereka bahwa apa yang dibawa oleh As-Sunnah belum cukup, tetapi harus ditambah sebagai langkah kehati-hatian. Akhirnya, syetan mampu menya­tukan dalam diri mereka antara praduga yang rusak, kecapaian yang pasti datang, dan batal atau berkurangnya pahala.

Oleh karena itu, barangsiapa yang diuji dengan penyakit kronis ini, hendaknya bertaqwa kepada Allah. Dan hendaknya dia mengetahui hahwa kebenaran itu adalah dalam mengikuti sunnah Al-Mushthafa (Muhammad) صلي الله عليه وسلم baik da­lam perkataan maupun perbuatan beliau. Seba­liknya, menyelisihi sunnah beliau dikategori­kan termasuk godaan dan bujuk rayu Iblis. Padahal Iblis adalah musuh yang tidak mung­kin menyuruh kepada kebaikan. Namun, ia hanya mengajak golongannya agar sama-sama menjadi penghuni naar Sa’ir. Demikian pula kepada setiap orang yang diuji dengan penya­kit was-was ini. Hendaknya ia selalu meminta kepada Allah dengan doa, memperbanyak dzikir dan istighfar. Hendaklah ia menolak penyakit was-was ini sehingga bisa terbebas darinya dengan seizin Allah.

I

Faktor Penyebab Timbulnya Was-was

Fadhilatusy Syaikh, apakah faktor yang me-nyebabkan munculnya perasaan was-was dalam shalat ataupun di selain shalat? Mudah-mu­dahan Anda dapat memberi sebuah nasihat (ke­pada kami), Jazakumullah?

Fatwa : Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Saya bershalawat dan menghaturkan salam kepada Nabi kita Muhammad صلي الله عليه وسلم, penu­tup para nabi, dan imamnya orang-orang yang beriman, beserta keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan berbuat baik sampai hari pembalasan. Amma ba’du:

Sesungguhnya perasaan was-was (bimbang) dalam dada merupakan penyakit yang sangat kronis, yang menyerang setiap mukmin. Ke­cuali orang-orang yang dikehendaki oleh Allah. Oleh karena itu, Allah menurunkan satu surat lengkap tentang masalah ini. Allah سبحانه و تعالي berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ.مَلِكِ النَّاسِ(٢)إِلَهِ النَّاسِ.مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ.الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ.مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Naas: 1-6).

Perasaan was-was bisa menimpa seseorang baik dalam masalah ibadah ataupun di selain ibadah. Pertama-tama akan timbul was-was pada aqidah dan tauhid. Syetan akan membisikkan perasaan was-was dalam hati seorang hamba seputar persoalan ini. Dimana tidaklah seorang mukmin ingin dijatuhkan dari langit sehingga terpotong-potong persendiannya tanpa mampu mengungkapkannya. Atau diba­kar sampai menjadi arang juga tanpa mampu mengungkapkannya. Mayoritas, ini benar-benar menimpa seorang mukmin, karena syetan hendak merusak iman dan keyakinannya. Sam­pai-sampai hal ini juga menimpa para shahabat  sebagaimana disebutkan dalam banyak ha-dits shahih dari Nabi صلي الله عليه وسلم. Semoga Allah melim­pahkan shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya.

Kami akan menyebutkan sebagian hadits tersebut yang telah dimudahkan oleh Allah (bagi kami untuk menghafalnya). Disebutkan da­lam shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النبي صلى الله عليه وسلم إِلَيْ النبي صلى الله عليه وسلم فَسَأَلُوهُ،فَقَالُوا:يَا رَسُولَ الله إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ؟ قَالَ: أَوْقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَاكَ صَرِيْحُ الإِيْمَانِ

“Sekelompok sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم datang menghadap Nabi صلي الله عليه وسلم, kemudian bertanya kepada beliau, seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mendapati pada diri kami ini ada sesuatu yang salah seorang di antara kami kesulitan mengungkapkan­nya Beliau balik bertanya: “Apakah kalian semua juga mengalaminya?” Mereka menjawab: “Benar,” Muka beliau bersabda: “Itulah iman yang nyata.” Yakni iman yang murni.

Maksudnya adalah perasaan seperti ini tidak akan menghinggapi seseorang kecuali bila imannya benar-benar nyata dan murni. Keimanan yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Karena perasaan was-was ini akan menanti  menyusup dalam hati orang tersebut sehingga mengeluarkannya dari keimanan.

Dalam Shahihain dari riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ الله؟ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا بَلَغَهُ-يَعْنِيْ إِذَاوَصَلَ إِلَيْ هَذَا الْحَدِّ- فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

“Syetan akan mendatangi salah seorang di antara kalian seraya berkata: ‘Siapakah yang menciptakan demikian? Siapakah yang menciptakan demikian?’Hingga ia berkata: ‘Siapakah yang menciptakan Allah?’ Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: “Apabila ia sudah sampai seperti ini yakni apabila sudah sampai pada batasan ini, maka hendaknya ia segera beristi’adzah (memohon perlindungan) kepada Allah dan berhenti.”

Dalam hadits di atas, Nabi صلي الله عليه وسلم menyebutkan dua obat penyakit was-was.

  1. Beristi’adzah kepada Allah, yakni mencari perlindungan kepada Allah سبحانه و تعالي, dan bertawakkal kepada-Nya. Sehingga ia bisa sela­mat dari penyakit berbahaya ini.
  2. Berhenti, yakni berpaling dari angan-angan dan perasaan was-was ini. Jadi, hendaknya ia berpaling dari perasaan was-was tersebut, dan terus berjalan dalam mengarungi kehi­dupannya maupun dalam mengerjakan amal perbuatannya. Jika engkau bertanya kepada orang ini tentang perasaan was-was yang hinggap dalam hatinya, seraya Anda katakan kepadanya: Apakah kamu meyakini hal ini? Pasti dia akan menjawab: “Aku berlindung kepada Allah bila aku meyakininya. Karena tujuan saya shalat, berpuasa, bersedekah, dan haji itu hanya semata-mata mencari wajah Allah سبحانه و تعالي “. Maka kami katakan: “Terus­kanlah perjalananmu, tinggalkanlah perasaan was-was ini dan jangan berpaling kepada­nya. Awalnya hal ini akan terasa berat bagi­mu, namun bersabarlah niscaya perasaan itu  akan hilang insya Allah “.

Berlindung kepada Allah, berhenti dan berpalinglah (dari penyakit was-was itu) seba­gaimana yang diperintahkan Nabi صلي الله عليه وسلم kepada­mu. Oleh karena itu, kami katakan kepada orang yang diuji dengan penyakit yang dahsyat ini: “Berpalinglah dari perasaan was-was itu setelah memohon perlindungan kepada Allah dari dampak negatifnya. Sebab, dengan izin Allah niscaya penyakit itu akan lenyap dari dirimu, karena yang memberikan resep obat ini adalah Nabi صلي الله عليه وسلم, orang yang paling tahu tentang penya­kit hati dan orang yang paling paham tentang obat-obatnya.”

Syetan juga akan mendatangi manusia da­lam thaharah (bersuci)nya. Pertama-tama, syetan membuat merasa ragu dalam niatnya. Ketika sedang berwudhu, syetan akan mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya kamu belum berniat.” Orang yang berakal, hanya sekedar digambarkan permasalahan ini, niscaya dia akan tahu bahwa itu merupakan kebodohan  dalam akal dan kesesatan dalam agama.

Faktor apakah yang membuat orang itu datang ke  tempat ini, lalu membuka kran air dan mulai membasuh anggota wudhunya, selain niat dan keinginan kuat yang muncul dalam hatinya (untuk berwudhu)? Hanya dengan gambaran sederhana seperti ini sudah cukup bagi orang yang berakal untuk membantahnya bahwa keragu-raguan dan perasaan was-was ini meru­pakan suatu kesalahan dan kekeliruan.

Disebutkan bahwa ada beberapa ulama pernah didatangi oleh seorang laki-laki yang bertanya kepadanya. Ia berkata: “Wahai tuanku, sesungguhnya saya pernah mengalami junub, lalu saya pergi ke sungai Dajlah dan berendam di dalamnya untuk bersuci dari junub ini. Setelah itu saya keluar. Namun, dalam hatiku aku merasa belum bersuci? Maka Syaikh ber­kata kepadanya: “Menurutku, kamu tidak wajib shalat. Menurutku, kamu tidak wajib shalat. Laki-laki itu bertanya lagi: “Mengapa?” Syaikh menjawab: “Karena Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّيْ يَسْتَيْقِظَ،وَ عَنِ الصَّغِيْرِ حَتَّيْ يَبْلُغَ، وَ عَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّيْ يُفِيْقَ.

“Pena (untuk mencatat amal perbuatan manusia) diangkat dari tiga golongan: Dari orang tidur hingga bangun, dari anak kecil hingga baligh, dan dari orang gila hingga sadar.”

Dan kamu adalah orang gila. Bagaimana mungkin kamu pergi ke sungai, lalu bersuci di dalamnya dari junub, kemudian kamu menga­takan: “Saya merasa masih belum bersuci?”

Oleh karena itu, apabila seseorang merasa ragu dalam wudhunya; apakah dia sudah berniat atau belum, maka hendaknya ia lanjutkan Hajfl, kemudian menyempurnakan wudhunya Dan janganlah kamu hiraukan perasaan ragu-ragu ini.

Syetan akan mendatangi manusia dari arah lain. Syetan akan membisikkan dalam hatinya ketika ia sedang berwudhu bahwa ia belum berkumur-kumur misalnya. Padahal sekarang ini ia sedang mengusap kepalanya. Maka kami katakan: Janganlah kamu hiraukan hal ini, sempurnakanlah wudhumu dan kamu tidak perlu berkumur lagi. Karena ini hanya perasaan was-was belaka.

Inilah (nasihat) bagi siapa saja yang sering mengalami perkara ini -yakni selalu merasa ragu dan was-was-. Bisa jadi syetan akan mendatanginya lagi setelah ia selesai wudhu seraya mengatakan: “Kamu belum berniat, kamu belum membasuh wajah, berkumur-kumur …dst.” Maka hendaknya ia memohon perlin­dungan kepada Allah, berhenti, konsisten di jalan-Nya dan janganlah menghiraukan hal ini.

Demikian pula, syetan akan memunculkan perasaan was-was dalam jumlah basuhan (ang­gota wudhu). Syetan mengatakan: “Sesungguh­nya kamu belum sempurna dalam membasuh­nya”. Sehingga Anda mendapatinya selalu mengulang-ulang membasuh anggota wudhu-nya beberapa kali. Ini termasuk bencana pula. Oleh karena itu, janganlah menghiraukan hal ini.

Hingga meskipun syetan mengatakan kepa­danya: “Sesungguhnya kamu belum memba­suhnya, atau anggota wudhumu belum sem­purna dibasuh, atau yang semisalnya.” Hen­daknya ia terus berlalu dan jangan memperdulikannya. Meskipun ia tahu bahwa perkara itu pasti akan menyusahkannya, membuatnya sangat capek dan menyesakkan dadanya bila ia berpaling dari perasaan was-was dan tetap melanjutkan dalam urusannya. Akan tetapi, kesulitan ini insya Allah akan menjadi solusi dan jalan keluar baginya. Jadi, hendaknya ia bersa­bai dan lidak memperdulikan perasaan was-was, tersebut.

Syetan akan mendatangi orang yang shalat ketika ia mengerjakan shalatnya, kemudian mengacaukannya. Pertama-tama (yang akan dikacaukan) adalah niatnya, dengan membisik­kan ucapan: Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku sudah berniat atau belum? Subhanallah, bagaimana Anda tidak tahu apakah Anda sudah berniat atau belum, padahal Anda sudah mendatangi tempat shalat? Bukankah ini niat? Inilah niat. Sebenarnya niat tidak membutuhkan pada aturan-aturan tertentu. Hanya sekedar se­seorang melakukan satu perbuatan dan ia se­orang yang berakal lagi mampu menentukan pilihan, maka ini sudah disebut niat.

Kemudian syetan akan mendatanginya da­lam shalat. Apabila ia mulai membaca surat selelah Al-Fatihah, maka syetan akan mengata­kan kepadanya: “Sesungguhnya kamu belum membaca Al-Fatihah, kamu lupa belum mem­baca satu huruf darinya, kamu belum membunyikan huruf-huruf sesuai dengan makhroj-nya….dst.” Maka hendaknya ia tetap menerus­kan shalatnya, dan janganlah memperdulikannya.

Syetan akan mendatanginya pula berkenaan tentang jumlah rakaat. Syetan mengatakan: “Se­sungguhnya kamu belum mengerjakan shalat selain satu rakaat.” Padahal ia sudah shalat dua rakaat. “Kamu belum shalat selain dua rakaat.” Padahal ia sudah shalat tiga rakaat. “Kamu be­lum shalat selain tiga rakaat.” Padahal ia sudah shalat empat rakaat dalam shalat-shalat yang bilangannya empat rakaat. Bisa jadi, ia shalat sepuluh rakaat atau lima belas rakaat karena mendasarkan pada perasaan was-wasnya ini.

Adapun obatnya adalah hendaknya ia me­mohon perlindungan kepada Allah سبحانه و تعالي dari godaan syetan yang terkutuk ini, menghentikan dan berpaling dari semua itu. Apabila ia telah melakukannya, niscaya perasaan was-was ini akan hilang dari dirinya.

Syetan akan mendatangi manusia, kemudian membuatnya ragu-ragu dalam mengerjakan puasa, seraya mengatakan: “Sesungguhnya kamu belum berniat.” Walaupun ia telah ba­ngun waktu sahur dan makan sahur, sehingga otomatis pada pagi harinya ia telah berpuasa. Namun, kemudian, syetan mengatakan: “Kamu belum berniat,” atau mengatakan: “Sesungguh­nya niatmu batal”, atau yang semisal dengan itu. Oleh karena itu, hendaknya manusia berpa­ling dari semua ini dan janganlah menghiraukannya. Disertai pula dengan memohon perlin­dungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Syetan akan mendatangi manusia dalam thawaf dan sa‘i (berlari-lari kecil dari bukit shofa ke bukit marwa). Syetan mengatakan: Kamu belum berniat, kamu baru thawaf  3 kali putaran, kamu melakukan sa’i baru tiga kali balikan dan yang serupa dengan itu.” Terhadap semua ini, manusia wajib mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi صلي الله عليه وسلم. Yaitu hendak­nya ia memohon perlindungan kepada Allah dan tidak melakukan lagi semua itu.

Syetan akan mendatangi manusia dalam masalah pernikahan dan istrinya, seraya me­ngatakan: “Sesungguhnya kamu telah mentalak istrimu“. Sampai-sampai ada sebagian di antara mereka yang diuji, bila dia membuka pintu (ru­mahnya), syetan membisikkan ucapan: “Sesung­guhnya saya telah mengatakan kepada istriku bahwa dia saya talak”. Apabila orang itu meme­riksa mushaf Al-Qur’an untuk dibacanya, syetan membisikkan: “Sesungguhnya saya telah me­ngatakan kepada istriku bahwa dia saya talak”.

Dan perkara-perkara besar lainnya yang tidak mungkin akan lenyap dari hati seorang hamba kecuali apabila dia mau mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Nabi صلي الله عليه وسلم. Yaitu memo­hon perlindungan kepada Allah, berhenti dan berpaling dari semua perasaan was-was tersebut.

Tidak disanksikan lagi, ia pasti akan menda­patkan kesulitan dalam hal ini. Akan tetapi, hendaknya ia bersabar, meniatkannya karena Allah, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk, dan menja­dikan dirinya memiliki kepribadian yang kuat. Saya ingatkan, ada sebagian orang yang menga­takan bahwa karena dahsyatnya perasaan was­was dan himpitannya, maka ia tidak shalat, wal ‘iyadzu billah. Inilah yang diinginkan syetan. Orang itu mengatakan: “Apabila saya hendak mendi­rikan shalat, saya merasa sangat sulit berniat, kemudian sulit bertakbir, lalu saya merasa sulit membaca Al-Fatihah dan seterusnya”.

Kami katakan: Tinggalkan semua ini, bersa­barlah dan tetaplah bersabar, hingga meskipun Anda menangis dan benar-benar menangis. Bersabarlah dan tetap lakukan apa yang sedang Anda kerjakan, niscaya Allah akan mengusir syetan dan menjauhkannya dari dirimu. Tentunya bila Anda mengamalkan apa yang diperin­tahkan Allah dan rasul-Nya. Seperti memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan terkutuk, berhenti, dan berpaling dari semua itu.

Oleh karena itu, saya nasehatkan  kepada semua saudaraku yang diuji oleh Allah سبحانه و تعالي dengan ujian penyakit was-was ini, agar mereka mempraktekkan apa yang diperintahkan oleh Nabi صلي الله عليه وسلم. Hendaknya mereka memohon perlindungan kepada Allah, berhenti dari perasaan was-was ini, dan tetap beraktifitas menjalankan segala urusan kehidupannya.

Saya memohon kepada Allah سبحانه و تعالي agar me­nyembuhkan mereka dari penyakit kronis ini dan memudahkan segala urusan mereka. Se­sungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

II

Cara Mensikapi Bisikan Hati

Perempuan ini mengatakan: Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang dimurkai Oleh Allah. Sebaliknya, saya selalu menjaga (me­ngerjakan) semua perintah-Nya, saya shalat, dan saya puasa. Akan tetapi, yang membuatku pedih adalah ketika saya sampai ke Makkah, syetan selalu menyertaiku dalam segala gerak gerikku, hingga dalam shalatku. Dan dia menegaskan kepadaku bahwa aku termasuk penghuni naar. Sekalipun aku telah melakukan sesuatu, tapi itu  tidak ada manfaatnya. Syetan selalu membolak-balikkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’anku dalam shalat. Tatkala aku membuka Al-Qur ‘anul Karim, Aku selalu melihat di dalamnya ayat-ayat tentang azhab, dan seakan-akan akulah yang akan diazhab. Maka tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar, jazakumullah khairan?

Fatwa : Allah سبحانه و تعالي berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguh­nya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni naar yang me­nyala-nyala” (QS. Fathir: 6).

Syetan telah menggoda kedua nenek mo­yang kita Nabi Adam dan istrinya, Hawa, sam­pai keduanya dikeluarkan dari tempat tinggal­nya (jannah). Dan syetan akan senantiasa meng­goda anak cucu Adam, sampai dia mampu me­ngeluarkan anak cucu Adam dari cahaya menuju gelap gulita, dari jalan yang benar menuju jalan yang membinasakan.

Semua penyakit was-was ini; apabila Anda merasa terserang penyakit tersebut, maka obatnya adalah hendaknya Anda memohon per­lindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Janganlah Anda menghiraukan­nya selama-lamanya, dan janganlah Anda mengacuhkannya.

Sesungguhnya jika Anda mem­praktekkan obat itu, niscaya Allah akan mele­nyapkan perasaan was-was yang Anda rasakan, banyak orang yang mengalami hal ini. Yang de­mikian itu, karena kuatnya iman (mereka). Se­sungguhnya syetan sangat berambisi atas hal itu. Tujuannya untuk melemahkan, melunakkan dan melenyapkan iman orang tersebut. Adapun apabila imannya lemah, maka syetan tidak akan mengusiknya, karena ia telah binasa dengan sendirinya.

Oleh karena itu, dikatakan kepada Ibnu Abbas atau Ibnu Mas’ud رضي الله عنه bahwa orang-orang Yahudi mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak pernah digoda (oleh syetan) dalam shalat kami “. -Yakni, mereka tidak mempunyai rasa cemas ketika mereka shalat-. Maka sahabat tadi menjawab: “Mereka benar, sebab apa yang akan dilakukan oleh syetan terhadap hati yang sudah hancur?!” Yakni, bahwa semua hati mereka telah hancur. Sebaliknya, sungguh syetan akan mengusik semua hati yang berpenghuni (mak­mur) dengan cahaya Allah dan ilmu yang benar, hingga cahaya itu padam.

Inilah yang saudari alami karena kuatnya iman (saudari), dan syetan ingin melemahkannya dalam diri sau­dari. Kami memohon kepada Allah keselamatan dan kesehatan bagi saudari. Maka bersabarlah, berpalinglah darinya, dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang ter­kutuk.

III

Nasihat Terhadap Bisikan Hati

Penanya wanita ini mengatakan: Sesungguh­nya saya berpuasa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan beriman kepada Allah, rasul-Nya (Muhammad) صلي الله عليه وسلم, dan hari akhir. Akan tetapi, ada perasaan was-was hinggap dalam diriku yang membujukku supaya kufur, sehingga saya merasa takut dari yang demikian itu. Juga muncul kera­gu-raguan dalam diriku, meskipun saya tidak pernah meninggalkan semua perintah syari’at, dan saya juga tidak pernah mengerjakan segala apa yang dilarang-Nya. Maka apakah perasaan was-was seperti ini dapat menjadikan diriku kafir? Berilah nasehat yang bermanfaat bagi kami, jazakumullah khairan?

Fatwa : Perasaan was-was yang saudari alami ini, sesungguhnya ia akan terjadi ketika syetan mendapati seseorang sangat ingin dan cinta berbuat kebaikan, kemudian syetan hendak memalingkannya dari kebaikan tersebut menjadi rasa was-was. Kalau sekiranya seseorang menyakininya, niscaya ia pasti akan men­jadi kafir. Akan tetapi, seorang mukmin itu pasti akan membuang dan melemparkan semua perasaan was-was dan keragu-raguan ini, serta memohon perlindungan kepada Allah darinya. Sehingga semua penyakit tersebut lenyap dengan seizin Allah.

Demikian pula, sungguh para sahabat رضي الله عنهم juga pernah mengadukan hal seperti itu kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم, maka beliau bersabda: “Sesung­guhnya ini, merupakan (bukti) iman yang nyata.” Yakni, iman yang murni. Karena syetan tidak mungkin mendatangi hati yang sudah hancur untuk merusaknya.

Akan tetapi, dia akan men­datangi hati yang ditanami dengan keimanan untuk menyingkirkannya. Oleh karena itu, tat­kala ada yang mengatakan kepada Ibnu Abbas atau Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi mengatakan bahwa mereka tidak digo­da (oleh syetan) dalam shalat mereka”. Maka sahabat tersebut menimpali: “Mereka benar, dan apa yang akan dilakukan oleh syetan terhadap hati yang sudah hancur?!”

Jadi, hendaknya saudari bersabar, mengha­rap pahala dan berhenti darinya. Apabila saudari merasakan sesuatu dari penyakit tersebut, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Dengan hal itu, niscaya apa yang Anda alami akan lenyap dari saudari dengan seizin Allah. Wallahu alam

IV

Apakah Sekedar Was-was itu Sudah Dihisab?

Fadhilatusy Syaikh, apakah manusia akan dihisab atas perasaan was-was dalam dirinya dan apakah sesuatu yang terkadang muncul dalam dada itu termasuk perasaan was-was?

Fatwa : Perasaan was-was yang ada dalam dada manusia tidak akan dihisab, karena itu berasal dari godaan syetan. Nabi صلي الله عليه وسلم telah mem­beritahukan bahwa hal itu merupakan bukti keimanannya yang nyata. Apabila ia mengalami sesuatu dari penyakit was-was tersebut, maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk dan janganlah ia condong kepada syetan.

Demikian pula, hendaknya manusia tidak mengekor di belakang perasaan was-was ini, karena itu dapat membahayakannya. Sebaliknya, manusia diperintahkan supaya menjadi orang yang kuat dan kokoh, di mana ia tidak akan tergoncangkan oleh sarana-sarana seperti ini. Wallahu a’lam.

IV

Nasihat Terhadap Bisikan Hati

Penanya wanita ini mengatakan: Sesungguh­nya saya berpuasa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan beriman kepada Allah, rasul-Nya (Muhammad) صلي الله عليه وسلم, dan hari akhir. Akan tetapi, ada perasaan was-was hinggap dalam diriku yang membujukku supaya kufur, sehingga saya merasa takut dari yang demikian itu. Juga muncul kera­gu-raguan dalam diriku, meskipun saya tidak pernah meninggalkan semua perintah syari’at, dan saya juga tidak pernah mengerjakan segala apa yang dilarang-Nya. Maka apakah perasaan was-was seperti ini dapat menjadikan diriku kafir? Berilah nasehat yang bermanfaat bagi kami, jazakumullah khairan?

Fatwa : Perasaan was-was yang saudari alami ini, sesungguhnya ia akan terjadi ketika syetan mendapati seseorang sangat ingin dan cinta berbuat kebaikan, kemudian syetan hendak memalingkannya dari kebaikan tersebut menjadi rasa was-was. Kalau sekiranya seseorang menyakininya, niscaya ia pasti akan men­jadi kafir. Akan tetapi, seorang mukmin itu pasti akan membuang dan melemparkan semua perasaan was-was dan keragu-raguan ini, serta memohon perlindungan kepada Allah darinya. Sehingga semua penyakit tersebut lenyap dengan seizin Allah.

Demikian pula, sungguh para sahabat رضي الله عنهم juga pernah mengadukan hal seperti itu kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم, maka beliau bersabda: “Sesung­guhnya ini, merupakan (bukti) iman yang nyata.” Yakni, iman yang murni. Karena syetan tidak mungkin mendatangi hati yang sudah hancur untuk merusaknya. Akan tetapi, dia akan men­datangi hati yang ditanami dengan keimanan untuk menyingkirkannya. Oleh karena itu, tat­kala ada yang mengatakan kepada Ibnu Abbas atau Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi mengatakan bahwa mereka tidak digo­da (oleh syetan) dalam shalat mereka”. Maka sahabat tersebut menimpali: “Mereka benar, dan apa yang akan dilakukan oleh syetan terhadap hati yang sudah hancur?!”

Jadi, hendaknya saudari bersabar, mengha­rap pahala dan berhenti darinya. Apabila saudari merasakan sesuatu dari penyakit tersebut, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Dengan hal itu, niscaya apa yang Anda alami akan lenyap dari saudari dengan seizin Allah. Wallahu alam

Advertisements