“Primitive Monotheism” [Habis – Bagian 9]

Manusia telah memiliki kecenderungan kepada tauhid sejak lahir. Di mana seorang bayi terlahir, di tempat itu pula ia membawa fitrahnya untuk bertauhid. Tidak ada seorang bayi terlahir dengan tabiat kesyirikan dari “default”-nya. Manusia, di manapun mereka berada, apakah itu di Afrika, Asia, Eropa, Tiongkok, Amerika, Nusantara, di zaman apapun mereka terlahir apakah itu ribuan tahun sebelum masehi atau pada hari ini, mereka terlahir dengan membawa fitrah Islam. Sebelum mereka terlahir ke dunia, Allah telah mengambil perjanjian dan kesaksian dari seluruh manusia. Dan tidak ada satupun anak Adam yang terhapus ingatannya dari perjanjian ini. Perjanjian itu mengendap menjadi naluri paling dasar, tabiat fundamental, dan kecenderungan kuat setiap manusia untuk beriman kepad Allah dan ingin mengenal-Nya.

Naluri ini begitu kuat sehingga membuat dorongan kuat bagi seseorang untuk sadar akan keberadaan-Nya baik secara naluri maupun rasional. Bahkan jika memang ada yang namanya manusia primitif menurut sangkaan evolusionis, atau ada seorang ateis yang paling fanatic sekalipun, ketika ia dalam keadaan terdesak oleh mara bahaya, maka ia akan meminta perlindungan kepada Allah  yang satu dan memurnikan doa meminta pertolongan hanya kepada-Nya.

Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul, kami menjadi saksi,’” [QS Al A’raf: 172]

Fitrah untuk mengenal dan menyembah Allah ini berjalan di setiap diri manusia, salah satunya melalui standar baik dan buruk yang objektif.  Leibnniz dan Locke merupakan dua pemikir yang diasosiasikan dengan innatism Vs. empiricism. Bagi kubu innatism 1+1= 2 merupakan kebenaran yang tidak memerlukan pembuktian empiris. Terlepas apapun perasaan serta keadaan emosional kita, maka penjumlahan itu akan menghasilkan nominal yang sama, disepakati.

Setiap manusia memiliki naluri untuk condong pada kebaikan dan membenci keburukan dan kebaikan bawaan manusia yang terbesar adalah fitrah untuk bertauhid. Contoh lainnya, meski seluruh kota, atau negara, seluruh manusia di dunia menetapkan bahwa gay dan lesbi adalah legal dan sah, maka tetap saja manusia akan merasa bersalah dan menganggap hal itu adalah keburukan. Ini semua berasal dari dalam hati yang telah ditetapkan fitrahnya. Kemudian jika ada suatu negara yang membolehkan untuk membunuh seorang anak kecil berusia 3 tahun dan menetapkan hal itu bukanlah pelanggaran hukum menurut undang-undang setempat, maka tetaplah nurani manusia akan mengatakan hal itu salah dan buruk. Kembali kepada penambahan, jika seluruh ilmuwan sepakat bahwa 1+1= 3, maka ini tetaplah akan dipandang sebagai kesalahan berdasarkan nalar sederhana dan alur berpikir yang lurus. Dan jika seluruh manusia di bumi sepakat untuk menjadi ateis, maka di saat itu pula manusia bahwa mereka telah keliru. Tidak ada yang bisa menjelaskan dari mana manusia mengenal baik dan buruk dari dalam hatinya dalam bingkai objektivitas.

Meski standar baik dan buruk setiap suku, kota, negara, atau peradaban itu berbeda, namun jika mereka berkumpul di dalam satu unit sosial, mereka akan menyepakati bahwa membunuh ayah dan ibu kandung sendiri adalah salah. Meski di beberapa negeri tindakan seperti itu merajalela sekalipun, namun di benak-benak mereka hal itu merupakan kesalahan dan bertentangan dengan kebaikan. Objektivitas moralitas ini, yakni kebaikan dan keburukan yang disepakati di antara kalbu-kalbu manusia menandakan adanya Allah Azza wa Jalla, dan Allah telah menetapkan nilai-nilai moral objektivitas ini dan di atas semua itu, Allah telah menetapkan fitrah manusia untuk mengenal, meyakini, dan menyembah-Nya. Konvensi sosial serta peruabahan gradual biologis melalui teori evolusi tidak akan dapat menjelaskan bagaimana objektivitas moral ada pada setiap manusia. Jika moral berevolusi sebagaimana evolusi biologis dalam anggapan evolusionis, maka faktanya kebaikan dan keburukan tetaplah sama sejak dahulu kala. Jika objektivitas moralitas ini adalah hasil dari proses sosial, maka sosial itu adalah sesuatu yang berubah, namun kita masih dapati objektivitas moral itu tetap hingga hari ini.

Nilai moralitas itu objektif. Jika seorang ateis misalnya menolak objektivitas moral ini maka menurut Hamzah Tzortzis[1], para ateis seharusnya tidak perlu membenci Hitler, mencaci maki ISIS, menyesalkan kebijakan Korea Utara, menyayangkan penembakan di sekolah-sekolah di AS, dan mengutuk para pelaku 9/11 pada tahun 2001. Sebab, konsekuensi menolak objektivitas moral adalah meyakini subjektivitas moral, dimana apa yang ia anggap salah belum tentu salah bagi lainnya. Artinya ketika ia menganggap Hitler itu keji maka ia juga harus menerima jika ada yang menganggap Hitler telah benar dalam tindakannya. Jika ia menilai membunuh anak kecil tak berdosa adalah kejam maka ia harus menerima lapang dada jika ada orang lain yang menilai sebaliknya. semua relatif dan tidak ada yang pasti. Tentunya ini sesuatu yang tidak mungkin dicapai melainkan impian-impian insan-insan postmodernisme. Objektivitas dalam moralitas adalah bukti bahwa Allah telah memberikan fitrah kepada manusia sejak awal untuk condong kepada kebaikan dan cenderung mencintai hal-hal yang memberinya manfaat seperti wanita, anak, harta berupa perhiasan termasuk uang, hewan ternak, dan lading sawah.

Kesimpulannya, membunuh seorang bayi yang baru lahir dengan sengaja, bersenggama dengan sesama jenis, menjunjung Hitler, terjun ke api yang menyala dengan sengaja, dan yang paling utama, menafikkan eksistensi Sang Pencipta Yang Maha Esa merupakan keburukan, kesalahan, kekeliruan, dan kesesatan yang disepakati oleh seluruh manusia di segala zaman dan di segala penjuru benua meski dalam lisannya dan tindakannya ia memperjuangkan paham ateismenya. Objektivitas moral yang berjalan dalam dirinya tidak akan pernah hilang seluruhnya.

Pelaku syirik di Makkah pra-Islam pun ketika ditanya siapakah Rabb mereka, jawaban mereka adalah “Allah.”

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” [QS. Az-Zukhruf : 87].

Kemudian jika ditanyakan, lantas mengapa ada manusia yang menyimpang dari fitrah ini, baik objektivitas moral maupun fitrah bertauhid? Jawabannya adalah faktor keluarga, lingkungan, sosial dan faktor-faktor eksternal lainnya sebagai sebab dari Kehendak-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap bayi dilahirkan di atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi [HR. Al Bukhari dan Muslim].

Setiap manusia, yang berarti konsekuensi logisnya, setiap umat sekaligus peradabannya di kurun waktu manapu mereka hidup dan di belahan dunia manapun mereka menetap, maka pada dasarnya mereka berada di atas fitrah yang lurus. Penyimpangan dan kesesatan dalam akidah baru muncul setelah berjalannya waktu.

Allah berfirman, “Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus bersih, maka setanlah yang memalingkan mereka.” [HR. Muslim dan Ahmad].

Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, semoga Allah menambah kemulian beliau, mengatakan bahwa seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan mengarah kepada tauhid dan menerima dakwah yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam[2].Jika seseorang itu hidup di sebuah pulau seorang diri dan terasing dari pengaruh dunia luar, maka semakin ia tumbuh besar maka fitrahnya akan condong kepada tauhid. Ia akan meyakini bahwa Sang Pencipta adalah satu dan ia berada di atas. Orang tersebut tidak lantas menghampiri batu besar atau pohon menjulang tinggi kemudian bersujud dan meminta kepada keduanya. Tidak juga ia meminta kepada danau besar atau kepada bulan bintang dan matahari. Itu semua bukanlah fitrah manusia yang Allah tetapkan dalam keadaan lurus. Akan tetapi kemudian lingkungan, termasuk keluarga, mempengaruhi perkembangan akidah seseorang hingga kemudian ia menjadi pemeluk agama-agama atau kepercayaan tertentu. Ini bertolak belakang dengan teori E.B. Tylor dan Herbert Spencer bahwa manusia pada awalnya di tahap keprimitifannya menyembah benda-benda alam, ruh, dan tuhan-tuhan yang banyak sebelum di kemudian hari akhirnya mereka “menemukan” konsep monoteisme.

Sebagaimana kisah seorang laki-laki yang berada di pulau dan melakukan kontak dari rombongan yang sedang terhempas oleh cuaca buruk sehingga membawa kapal dan penumpangnya tersebut ke sebuah pulau di tengah lautan.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan dalam kitab At-Tawwaabun, dari Abdul Wahid bin Zaid, beliau berkata:

“Kami pernah berlayar di atas sebuah kapal. Lalu angin laut menghempaskan kami ke sebuah pulau. Kemudian kami turun. Tiba tiba ada seseorang yang sedang beribadah kepada sebuah patung. Kami pun menemuinya dan berkata kepadanya, ‘Wahai pemuda, siapakah yang sedang kamu sembah?’ Lalu dia menunjuk kepada sebuah patung berhala.

Kami pun mengatakan, ‘Ada di antara kami penumpang kapal yang menyembah tuhan seperti itu. Namun ini bukan tuhan yang boleh disembah.’

Dia pun berkata, ‘Kalau kalian, siapa yang kalian sembah?’

Kami menjawab, ‘Kami menyembah Allah.’

Dia menjawab, ‘Apa itu Allah?’

Kami mengatakan, ‘Allah adalah yang Arsy-Nya ada di langit, Dia menguasai bumi dan ketetapan-Nya berlaku bagi makhluk, baik yg hidup ataupun yang mati.’

‘Lalu bagaimana Dia memberitahu kalian akan hal itu?’ Tanya dia.

Kami menjawab, ‘Rabb Yang Maha Merajai lagi Maha Agung, Maha Pencipta yang Mulia menganugerahkan kepada kami seorang Rasul yang mulia, dan Rasul itulah yang mengabarkan kepada kami.’

‘Lalu apa yang dilakukan Rasul tersebut?’ Tanyanya.

Kami menjawab, ‘Menyampaikan risalah (ajaran Allah). Lalu Allah mewafatkannya.’

‘Apakah dia meninggalkan sebuah tanda untuk kalian?’ Tanyanya.

‘Ya.’ Jawab kami.

‘Apa yang dia tinggalkan?’ Tanyanya lagi.

Kami menjawab, ‘Beliau meninggalkan untuk kami sebuah kita suci dari Rabb Yang Maha Memiliki.’

‘Tunjukkan kepadaku kitab dari Rabb kalian itu.’ Pintanya. ‘Biasanya kitab-kitab nya para Raja itu bagus-bagus.’ Timpalnya lagi.

Lalu kami memberikan kepadanya mushaf Al-Qur’an.

Dia berkata, ‘Aku tidak tahu apa ini.’

Lalu kami membacakan kepadanya sebuah surat dari Al-Qur’an. Ketika kami sedang membacanya tiba tiba dia menangis dan terus menangis sampai kami selesai membaca hingga akhir surat.

Dia berkata, ‘Pemilik perkataan ini seharusnya tidak boleh ditentang dan dimaksiati.’

Kemudian dia masuk Islam lalu kami mengajarkan syariat-syariat Islam dan surat-surat dari Al-Qur’an.

Lalu kami pun membawanya ke atas kapal kami untuk melakukan pelayaran lagi. Ketika kami sedang dalam pelayaran dan malam yang gelap telah menyelimuti dan kami telah bersiap-siap untuk tidur, dia berkata, ‘Wahai kaum, Sesembahan yang kalian tunjukkan kepadaku apakah Dia tidur ketika gelap di malam hari?’

Kami menjawab, ‘Tidak wahai hamba Allah. Dia Maha Hidup Maha bersendiri dan maha Agung yang tidak pernah tidur.’

Dia mengatakan, ‘Kalau begitu kalian adalah hamba-hamba yang buruk. Kalian tidur dalam keadaan Sesembahan kalian tidak tidur.’

Lalu dia pun beribadah dan meninggalkan kami tidur.Ketika kami sudah tiba di negeri kami maka aku berkata kepada teman-temanku, ‘Ini adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang asing di negeri kita.’

Lalu kami mengumpulkan dinar dan dirham untuknya dan kami berikan kepadanya. Dia berkata ‘Untuk apa ini?’

Kami berkata, ‘Ini adalah harta yang dapat engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu.’

Dia menjawab, ‘Laa ilaha illallah, dahulu aku tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan menyembah selain-Nya namun Dia tidak membuat hidupku sengsara. Apakah Allah akan membuat hidupku menjadi sengsara setelah aku mengenal-Nya!?’

Lalu dia pergi dan mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menjadi orang shaleh yang terkenal sampai dia wafat.[3]’”

Laki-laki di pulau itu pada awalnya berada pada fitrah Islam-nya ketika terlahir sebelum kemudian ia mendapat pengaruh dari lingkungannya mengenai konsepsesembahan. Penyembahan berhala itu sendiri bukanlah fitrah laki-laki itu jika memang benar pulau tempatnya bermukin belum melakukan kontak dengan dunia luar. Indikasi hal ini adalah ketika salah satu penumpang kapal berkata kepada laki-laki di pulau itu:

Ada di antara kami penumpang kapal yang menyembah tuhan seperti itu. Namun ini bukan tuhan yang boleh disembah.

Adanya kesamaan sesembahan antara laki-laki di pulau tersebut dengan penumpang kapal menunjukkan adanya keyakinan yang meluas yang melampaui pulau itu. Namun demikian, fitrah manusia memang condong kepada kebenaran sehingga laki-laki itu mudah menerima ajaran tauhid setelah terisolir dari peradaban luar sekaligus menunjukkan bahwa kesyirikan yang membelokkan fitrah manusia itu berasal dari faktor lingkungan sekitar (peer pressure), termasuk lingkungan terdekat seperti keluarga, sebagaimana hadis yang menyebutkan bahwa orang-tua dapat menggiring seorang anak kepada agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Untuk mengembalikan manusia kepada fitrah lurusnya, para Rasul diutus Allah kepada setiap umat dengan membawa dakwah tauhid. Tidak seperti teori non-monoteisme yang mengatakan manusia pada awalnya musyrik, atau seperti teori monoteisme yang mengatakan manusia selalu dalam proses degenerasi dan degradasi spiritual secara mutlak, ketika manusia menyimpang dari tauhid seiring bergantinya zaman, selalu ada Rasul yang memberi peringatan dan menyeru kepada tauhid. Ketika kembali menyimpang, diutus kembali pemberi peringatan sebelum datang azab. Hingga kemudian diutuslah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan membawa petunjuk dan panduan yang paripurna. Setelah masa keemasan manusia itu, zaman kembali bergulir dan hingga pada hari ini tauhid semakin asing.

Setiap umat pasti memiliki Rasul yang membawa hujjah dan peringatan serta kabar gembira. Pada setiap umat itu berbeda dalam syariat namun esensinya sama, yakni tauhid. Allah berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Al-Anbiya: 25)

Perbedaan syari’at seperti tatacara shalat, ketentuan ukuran ibadah seperti zakat, puasa dan waktunya, arah kiblat, dan tatacara haji, tidaklah mengubah esensi ajaran inti para Nabi, yakni tauhid. Bekas-bekas tata cara beribadah Yahudi kuno masih dapat kita saksikan pada hari ini yang notabene dipraktekan oleh golongan Yahudi ultra-ortodoks. Mereka bersujud, bersedekap, berdiri menghadap kiblat orang Yahudi, dan ruku. Kita menyaksikan juga tata cara ibadah penganut Kristen Ortodoks Suriah. Mereka memiliki ritual harian sebagaimana Yahudi Ortodoks. Tatacara taat kepada Allah dan syariat berbeda-beda antara seorang rasul dengan rasul lainnya. Adapun agama mereka tetap satu, yaitu Islam. Dasar tauhid yang mereka serukan adalah baku, tidak pernah berubah antara seorang rasul dengan rasul lainnya, antara satu masa dengan masa lainnya. Hal ini tidak berarti praktek ibadah agama selain Islam pada hari ini adalah benar. Islam adalah satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah. Akan tetapi bekas-bekas peribadatan ahlu kitab menunjukkan indikasi historis kepada kita bahwa syariat di antara agama Samawi itu berbeda dan terkadang ada sepintas kesamaan dalam segelintir hal.

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Ma`idah: 48)


Imam Qatadah berkata dalam menafsirkan ayat syir’atan wa minhajan [syariat dan jalan/manhaj-manhaj] adalah jalan dan metode sunnah. Sunnah mereka berbeda-beda. Taurat memiliki sunnah sendiri, Injil memiliki sunnah sendiri, Al-Qur`an juga memiliki sunnah sendiri. Allah menghalalkan padanya apa yang Dia inginkan dan mengharamkan apa yang Dia inginkan sebagai cobaan. Umat Yahudi mengikuti sunnah Nabi Musa. Umat Nasrani mengikuti sunnah Nabi Isa. Umat Islam mengikuti sunnah Rasulullah.

Rasulullah bersabda, “Para nabi itu saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda dan agama mereka adalah satu.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits sahabat Abu Hurairah)


Al-Munawi berkata dalam Al-Faidhul Qadir (3/62): “Yaitu pokok agama mereka satu yakni tauhid, dan cabang syariat mereka berbeda-beda. Tujuan diutusnya para nabi yaitu membimbing seluruh makhluk diserupakan dengan ayah yang satu, sedangkan syariat mereka yang berbeda bentuk dan tingkatannya diserupakan dengan para ibu.

Al-Qadhi berkata bahwa tujuan utama dari sebab diutusnya mereka semua adalah mengajak seluruh makhluk untuk mengenal kebenaran dan membimbing mereka menuju sesuatu yang mengatur kehidupan dunianya, serta memperbaiki hari di saat mereka kembali. Mereka sama dalam pokok ajaran ini, meskipun berbeda-beda dalam cabang-cabang syariat. Allah berfirman,

“Dan Kami tidak mengutusmu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba`: 28).

Untuk mengembalikan seluruh manusia kepada fitrahnya, kepada agama Nabi Ibrahim dan agama nenek moyang manusia, Nabi Adam dan Nabi Nuh, Allah mengutus Rasulullah kepada seluruh manusia, apakah di Sabiin, Majusi, Yahudi, Nasrani, baik itu di ujung benua Amerika hingga di ujung Benua Afrika.

Rasulullah bersabda, “Dan adalah nabi terdahulu diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits sahabat Jabir).

Sementara itu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Telah diketahui secara pasti dari agama Rasul dan telah disepakati umat ini bahwa pokok ajaran Islam, dan hal yang pertama kali diperintahkan kepada seseorang adalah: syahadat La Ilaha illallah dan Muhammadur Rasulullah.

Setiap umat, di manapun dan di kurun waktu manapun telah memiliki hujjah yang dengannya jika manusia tetap berpaling maka mereka diancam oleh azab.

Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Fathir: 24)

Tiada suatu umat pun dari anak Adam melainkan Allah telah mengutus kepada mereka orang-orang yang memberi peringatan yang menyingkapkan hakikat kebenaran kepada mereka dan melenyapkan semua penyakit kekafiran.

Ajaran tauhid bukanlah ajaran yang khusus bagi manusia di Timur Tengah saja.

Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (Ar-Ra’d: 7)

Setiap umat di manapun telah ada pemberi peringatan dan ini adalah bentuk Karunia dan Nikmat Allah terhadap para hamba-hamba-Nya.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu,” maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. (An-Nahl: 36).

Akan tetapi, seberapapun dekatnya ajaran agama pada hari ini dengan ajaran tauhid, namun selama ia tidak mengikuti Rasulullah padahal mereka telah mendengar tentang Rasulullah, maka tidak ada udzur baginya.

Dari Jabi bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup maka tidak ada pilihan baginya kecuali harus mengikutiku.” (HR. Ahmad dan al Baihaqi dihasankan oleh Syaikh al Albani)

Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi mengatakan, “Seluruh Nabi, kalau seandainya mereka ditakdirkan hidup sebagai rasul pada zaman Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka semua wajib mengikutinya dan tunduk dibawah perintahnya serta melaksanakan keumumuan syariatnya, sebagaimana ketika beliau berkumpul bersama mereka pada malam Isra’. Katika itu beliau naik di atas mereka semua dan ketika mereka bersama-sama Nabi turun ke Baitul Maqdis dan melaksanakan shalat, Jibril alaihis salam menyampaikan perintah Allah kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengimami mereka. Lalu beliau shalat bersama mereka (dengan menjadi imam) di daerah dan wilayah mereka dahulu diutus.”

Dalam Shahih al Bukhari, dari Abu Hurairah radliyallah ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya sungguh akan turun kepada kalian Isa bin Maryam sebagai Hakim yang Adil, Dia mematahkan salib, dan membunuh babi, dan menolak jizyah dan tidak menerimanya dari orang kafir, harta melimpah ruah sehingga tak seorangpun menerima (shadaqah atau zakat).

Dua kurun waktu asal-muasal rusaknya fitrah tauhid anak Adam menurut Ibnu Taimiyah terjadi pada zaman Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim. Pada kaum Nuh, asal kesyirikan yang mereka perbuat adalah dari beri’tikaf (berdiam) di kuburan orang-orang sholeh, lalu mereka membuat patung-patung mereka dan akhirnya mereka menyembah orang-orang sholeh tersebut. Pada kaum Ibrahim, asal kesyirikan yang mereka perbuat adalah dengan beribadah pada bintangbintang, matahari dan rembulan[4].

Pengkultusan orang-orang shalih di zaman Nabi Nuh berujung pada politeisme sementara kesalahan takwil dalam Sifat-Sifat Allah berujung pada penyembahan terhadap penyembahan banyak berhala termasuk benda-benda langit sebagaimana disebutkan dalam bab-bab sebelumnya. Seluruh kesyirikan bermuara pada dua hal yang disebutkan Ibnu Taimiyah, namun demikian, di zaman ini, kesyirikan bukan saja menjelma bentuknya dalam penyembahan kepada false gods, tuhan-tuhan palsu, melainkan juga penyembahan terhadap modern gods, yakni ide, pemikiran, dan cara pandang yang dapat memalingkan seseorang dari mentauhidkan Allah Azza wa Jalla. Itulah mengapa Islam tidak kompatibel dengan beragam produk postmodernisme seperti liberalisme, realtivisme,sekularisme dan adik kandungnya; pluralisme agama. Semua itumeruntuhkan dengan akidah Islam sedangkan akidah adalah landasan dimana semua amalan dibangun di atasnya, jika landasan itu rusak bahkan rusak maka ia mengancam segala bangunan yang ada di atasnya dan reruntuhannya itu menimpa pelakunya.

Hijaz, Hadramaut, Afrika, Mesopotamia, Persia, Eropa, Amerika, India, Asia, Australia, Tiongkok, Nusantara, dan di seluruh penjuru bumi lainnya, kesyirikan adalah virus dan wabah paling mematikan dari millennia ke millennia hingga hari ini. Bagi evolusionis yang ateis sekalipun, politeisme, animisme, dan seluruh varian kesyirikan lainnya diakui sebagai “agama” rendahan, hina, dan tidaklah dianut kecuali oleh spesies Homo Sapiens paling primitif intelektualnya. Ini adalah anggapan tokoh-tokoh materialisme sendiri semisal Charles Darwin, Herbert Spencer, E.B. Tylor, dan Sigmund Freud. Kesyirikan bagi evolusionis diletakkan dalam fase paling bawah dalam proses evolusi karangan mereka. Dalam Islam, keysirikan lebih hina dari semua itu. Tidak saja sebagai manusia yang rendah, namun lebih hina dari hewan ternak. Di Akhirat, mereka dilemparkan ke Neraka Jahannam jika sebelum wafat mereka tidak bertaubat dan memperbaiki diri.

Memang berhala yang dipahat di Jazirah Arab Pra-Islam sudah meredup, Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr sudah tidak ada di tengah-tengah manusia. Latta dan Uzza sudah dihancurkan. Firaun telah mati. Namun kesyirikan selalu menemukan bentuknya yang lain, kesyirikan kontemporer seperti hari ini, mewujudkan dirinya sebagai isme-ismeyang memalingkan manusia dari mentauhidkan Allah Azza wa Jalla. Terkadang, kesyirikan kontemporer ini lebih samar dari kesyirikan penyembah berhala, meski kesamarannya tidaklah melampaui riya, syirik kecil yang menggiring kepada syirik akbar.

Oleh sebab itu, adalah sebuah keniscayaan, konsekuensi logis, dan naluriah bagi para Nabi dan Rasul untuk mendakwahkan tauhid sebagai dakwah pertama dan utama. Jika kesyirikan dapat menjadi solusi bagi hamba-hamba Allah agar selamat dari azab abadi di Hari Akhirat, maka ia lebih mampu lagi untuk menjadi solusi bagi permasalahan yang jauh lebih kecil dari azab di Akhirat, yakni permasalahan-permasalahan di dunia. Longsor, gempa, banjir, tsunami, atau disingkat menjadi LGBT, adalah di antara sebab kesyirikan yang mewabah, wabah dan epidemik yang lebih mematikan dari Black Plague yang menerpa dunia di abad pertengahan.

Kita telah menyaksikan segelintir peradaban kuno yang telah mencampakkan hak Allah untuk ditauhidkan. Dari ujung Afrika sampe belantara Amerika, dari Sungai Indus hingga di tanah Jawa yang subur, kesyirikan telah menjangkit para pendahulu kita. Kita tidak mewarisi harta kekayaan mereka, lalu apakah lebih layak lagi bagi generasi penerus merekatidak mewarisi kesyirikan sebagian dari mereka. Di alam pikir peradaban “purba” tidak dikenal ateisme, tidak ada satupun aspek kehidupan peradaban kuno yang tidak terkait dengan agama. Sekularisme merupakan perkara baru dan sekelam-kelamnya cara pandang. Lebih jauh lagi, sejarah manusia tidak lepas dari sejarah agama, dimana agama itu telah ada sejak manusia pertama turun ke dunia, dan manusia dan agama tidaklah berevolusi. Ia telah menjadi satu paket dari Sang Khaliq, Allah Azza wa Jalla.

Sesungguhnya, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, tidak ada tuhan yang berhak diibadahi, melainkan hanya Allah sajalah. Allahsesembahan yang berhak diibadahi. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya, Allah yang satu berada di atas langit ke tujuh – di singgasana-Nya bernama Arsy,tidak memiliki anak dan tidak dilahirkan, tidak membutuhkan setetes air pun atau satu butirgandum pun, tidak membutuhkan manusia meski hanya seorang, tidak membutuhkan pujian manusia melainkan pujian kepada Allah akan kembali kebaikannya kepada pelakunya sendiri. Allah, tidak ada awal dan tidak ada akhir bagi-Nya.Rahmat dan Ampunan-Nya luas, namun siksadan azab-Nya pedih, dan akan tiba suatu hari dimana manusia menghadap Rabb-Nya sendiri-sendiri. Siapa saja yang menghadap-Nya dengan membawa tauhid tanpa tercemar kesyirikan maka ia beruntung. Barangsiapa yang menghadap-Nya dengan keadaan mempersekutukan-Nya, maka tidak ada tempat kembali, tempat lari, dan tidak ada kesempatan kedua.

Timbul tenggelamnya umat manusia dan peradabannya, penyebab kejayaan dan kehancuran suatu kaum, keluhuran dan kehinaan spiritualitas manusia dalam berbagai zaman, dan bekas-bekas reruntuhan kota dan negeri dengan bangunan tinggi, patung berhala, dan jejak tulisan-tulisan kuno, setidaknya mengajarkan satu hal, bahwa sejarah terus berulang dan secara umum manusia semakin jauh dari fitrahnya untuk bertauhid seiring bergantinya zaman. Semua ini telah terdapat di dalam Al Quran, sebuah kitab panduan untuk meraih keselamatan, kebahagiaan dunia dan Akhirat, dan satu-satunya kitab yang paling jernih memaparkan dan membawa kisah-kisah dari ribuan tahun silam ke hari ini. Kitab yang seluruh isinya terangkum dalam satu intisari, mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam segala dimensinya.  Allahu A’lam.

Sesungguhnya hanya kepada Allah sajalah kita meminta pertolongan dan hanya Allah saja-lah yang menunjuki kepada hidayah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan mereka yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik hingga Hari Akhir.

Wallahu a’lam. Selesai.


[1] Hamzah Tzortzis. Know God, Know Good. Retrieved from: http://www.hamzatzortzis.com/know-god-know-good-god-objective-morality/. Akses 15-10-2018, 17.00.

[2]Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan. Kitab Tauhid. Penterjemah: Syahirul Alim al-Adib, Lc. Jakarta, Ummul Quro, 2014. Hal,21.

[3] At-Tawwaabun karya Ibnu Qudamah rahimahullah, hal. 179 melalui http://www.muslimahtalk.com/sebuah-kisah-yang-membuat-kulit-merinding-al-imam-ibnu-qudamah-rahimahullah/. Al-Ustadz Almanazil Billah, Lc hafizhahullah.Sebuah Kisah yang Membuat Kulit Merinding Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah. 2-10-2018. Akses 6.42 AM.

[4]Dua Asal Pokok Ajaran Musyrik. Faidah dari Qo’idah Jalilah fi At Tawasul Al Wasilah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Ar Riasah Al Ammah lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta‟, cetakan ketiga, 1429, hal. 39.

One thought on ““Primitive Monotheism” [Habis – Bagian 9]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s