“Primitive Monotheism” [Bagian 8]

Peradaban bangsa Tiongkok telah berdiri lebih dari 5500 tahun lalu, sebuah bangsa yang besar dengan kemunculan kekaisaran-kekaisaran silih berganti dari zaman ke zaman. Tiongkok merupakan umat manusia yang besar di antara umat-umat manusia lainnya seperti Mesopotamia, Mesir, Romawi, dan Indian Amerika.

Para sejarawan Tiongkok membagi peradaban kuno Tiongkok menjadi tiga fase, yakni primal ancient, middle ancient, dan near ancient. Fase awal peradaban tertua Tiongkok berada pada rentang waktu 21-12 SM (primal ancient). Menurut Ron Williams dalam makalahnya berjudul Early Chinese Monotheism yang ia presentasikan di Kelvin Institute, Toronto, mengatakan bahwa masing-masing ketiga fase peradaban kuno itu memiliki karakteristik agama yang khas.

Fase pertama peradaban kuno Tiongkok memiliki keyakinan dan praktek penyembahan kepada satu tuhan.

Fase kedua yakni middle ancient; keagamaan masyarakat Tiongkok menganut deiteisme dengan kecenderungan materialistik yang kental meski masih ada di sana nilai-nilai monoteisme kuno.

Terakhir, keyakinan dominan masyarakat Tiongkok adalah materialsime.Selaras dengan Ron Williams, Edward Schafer mengatakan bahwa salah satu dari sesembahan tertua bangsa China adalah tuhan yang berada di langit, Ti’en.

Dalam periode awal sejarah Tiongkok ini, menurut Williams, masyarakat Tiongkok meyakini adanya pengatur mutlak alam semesta adalah tuhan yang satu dan tidak terbagi-bagi menjadi tuhan-tuhan lain, tidak berubah, tidak ada tandingan, mengatur dengan mutlak sendirian apa yang di atas langit dan di bawah bumi. Dia melakukan apa yang ia inginkan dan tidak ada kekuatan apapun yang menghalanginya dan keinginannyaadalah kebenaran. Di zaman kuno bangsa Tiongkok, Ti’en adalah raja teragung di langit. Ia lebih agung dari apapun yang ada di bumi [1].

Jauh sebelum era Konfusius, Budisme, dan Taoisme, bangsa Tiongkok menyembah Shang Ti (Ti’en). Mereka memahami Shang Ti sebagai pencipta dan pembuat hukum. Mereka meyakini Shang Ti adalah penggerak segala sesuatu dan tidak boleh diwakilkan melalui berhala. Ketika dinasti Zhou memerintah Tiongkok di era 1066-770 SM, penyembahan kepada Shang Ti tergantikan oleh penyembaha langit sebelum akhirnya tiga agama lain muncul di Tiongkok. Namun demikian, meski telah lewat ribuan tahun, masyarakat Tiongkok masih menyebut-nyebut Shang Ti, sesembahan kuno mereka.[2]

Sebagaimana di peradaban-peradaban lainnya di masa lampau, degenerasi keyakinan monoteisme kepada bentuk keyakinan agama selainnya pun berjalan di Tiongkok. Teori para peneliti barat ini menunjukkan bahwa spiritualitas manusia itu berubah dari bentuk yang luhur (monoteisme) kepada keyakinan yang lebih rendah sebagaimana pandangan Wilhelm Schmidt dan Andrew Lang. Ini berarti dalam pandangan penganut toeri monoteisme sebagai asal-muasal agama manusia, seiring bergantinya zaman, manusia mengalamai degradasi spiritual. Sebaliknya, bagi penganut teori non-monoteisme, konsep manusia akan agama dan tuhan berangsur-angsur menemukan bentuknya yang paling luhur; semakin lama manusia semakin mengetahui tentang konsep agama dan tuhan.

Di era dinasti Yao dan Shun, 18 abad sebelum era Konfusius dan Laotze, terdapat suatu masa keemasan bagi orang-orang bijak di Tiongkok, yakni orang-orang yang menyeru pada penyembahan satu tuhan. Konfusius masih mencatat upacara sakral koronasi kaisar-kaisar Shou dan di dalam catatanya itu terdapat ritual adat penyembahan kepada satu tuhan yang termasuk ke dalam upacara koronasi tersebut. Menurut Frank Ellinwood lagi, Konfusius adalah seseorang yang mengumpulkan hikmah-hikmah dari masa dinasti-dinasti Tiongok kuno sebagaimana tertulis dalam Analek-nya. Meski dianggap sebagai nabi oleh para pengikutnya, Konfusius menolak dengan tegas. Ia berkata, “bahwa andaikata saya dijuluki sebagai seorang nabi atau seorang bijak, saya tidak berani menerimanya (若圣与仁;则吾岂敢《论语:述而》- ruo sheng yu ren, ze wu qi gan)”.[3]

Professor Legge dari Oxford dalam bukunya The Religion of China mengklaim bahwa melalui bukti linguistik yang ia pandang shahih, jauh sebelum era dinasti Yao dan Shun, terdapat praktek penyembahan kepada satu tuhan. Legge berkata, “Limaribu tahun silam, terdapat agama monoteisme [di Tiongkok], bukan henoteisme melainkan monoteisme.” Ia menamabahkan, ketika itu sudah ada perlawanan dari kubu politeisme terhadap doktrin monoteisme. Hingga era dinasti Ming (1538 M), di tengah tersebarnya agnositisme, Shang Ti masih disembah oleh sebagian rakyat Tiongkok meski di sana ada sesembahan-sesembahan lain yang “otoritasnya” di bawah Shang Ti. Jika melihat ke belakang, kita mendapati ini sebagaimana terjadi di Makkah pra Islam.

Beberapa abad berlalu, penyembahan kepada Shang Ti kemudian bergeser ke ide-ide Konfusius, Taoisme, dan Budha. Budha menekankan pendekatan filosofis, fisiologis, dan psikoterapis ketimbang konsep agama yang familiar dikenal kebanyakan orang[6]. Budhisme adalah the way of life – pandangan dan cara menjalani hidup. Professor Liu Wu-chi menganggap bahwa nilai-nilai ajaran Budha bersifat universal dan pada dasarnya kompatibel dengan proses sinkretisme. Sama halnya dengan Konfusianisme, ajaran Budhabernuansa filosofis dan non-religius, ia adalah sistem moral tanpa ada jejak metafisik atau supernatural[7]. Namun demikian Howard Smith dari University of Manchester menyanggah anggapan Profesor Liu Wu-chi dari Yale University di atas. Menurut Howard, Konfusius memiliki pehamaman agama yang mendalam sebagai jejak sisa-sisa konsep adanya tuhan tertinggi di Tiongkok kuo meski pada zaman Konfusius hidup, politeisme adalah doktrin dominan.

Keyakinan eksistensi tuhan yang berada di langit dalam masyarakat Tiongkok terdapat di buku-buku sastra kuno dimana tuhan dideskripsikan dengan kualitas yang bertentangan, tuhan yang memberi kehidupan sekaligus kematian. Selain keyakinan adanya kekuatan besar tuhan, mereka juga meyakini adanya ruh-ruh yang juga memiliki kekuatan untuk bertindak setelah mereka pindah ke alam ruh setelah kematian. Ruh-ruh itupun juga disembah di Tiongkok dan pada setiap keluarga memiliki sesembahan ruh masing-masing sehingga terdapat tuhan lokal pada masing-masing wilayah.

Namun demikian keyakinan terhadap tuhan yang di langit tetap lestaru meski kemudian tercampur dengan penyembahan ruh leluhur sebagai perantara untuk menggapai tuhan di langit[10]. Lao-Tzo kemudian datang dan mengajarkan doktrin mistisme di Tiongkok.

Bersambung, Insya Allah


[1] Schafer, Edward. Ancient China, dalam seri The Great Ages of Man, Time Life inc, New York 1967, hal, 68.

[2] E. Allie and M. Frazer. Chinese and Japanese Religion, Philadelphia, West Minister Press, 1969, hal, 268.

[3] Sucahya Tjoa. 10-06-2016. Kong Hu Cu – Kongfusianisme – Pendukung dan Pengeritik pada Zaman Pra-Dinasti Qin 551–221 SM Jilid I (1).

https://www.kompasiana.com/makenyok/575a9094337a61b10e35b4fa/kong-hu-cu-kongfusianisme-pendukung-dan-pengeritik-pada-zaman-pradinasti-qin-551221-sm-jilid-i-1?page=2. Akses 1-10-2018, 8.40 AM.

www.travelchinaguide.com/intro/history/zhou/eastern/confucius.htm. Akses 8.49 AM.

[6] Source of Light: A Contemplative Monastry. Chinese Monotheism.

http://sourceoflightmonastery.tripod.com/chinese-monotheism.html. 30-9-2018, 9.19 AM.

[7] D. Howard Smith. Religious Development in Ancient China Prior to Confucius. Lecture in Comparative Religion in the University of Manchester. Hal, 433, mengutip Prof. Liu Wu-chi dari Yale University.

[8] Samuel Marinus Zwemer, D.D. L,H, D. The Origin of Religion – Evolution orRevelation. 3rd Revised Edition, Loizeaux Brothers, New York, 1945, hal, 84.

[9]Belief of Monotheism in Ancient and Medieval Religions of the Nations – (An Analytical Study of Abu Al Kalam Azad’s Writings). Prof Dr. Salahudin Mohd. Shamsuddin et.al. IOSR Journal of Humanities and Social Science. Volume 19, Issue 10, Oct, 2014, hal, 96.

[10] Ibid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s