“Primtive Monotheism” [Bagian 6]

Penelitian terhadap bangsa Indian di Amerika adalah di antara bukti bahwa teori evolusi agama adalah kekeliruan. Goerge Bird Grinnell menulis tentang suku Pawnee dalam bukunya The Pawnee Mythology: Tirawa melampaui inderawi, berkuasa mutlak, pemurah. Ia adalah pencipta semesta dan penguasa tertinggi. Dalam kehendaknya-lah segala sesuatu terjadi. Dia dapat membawa kebaikan dan keburukan dan kesuksesan serta kegagalan. Segala sesuatu bersandar kepadanya…”[1]

Dalam The Soul of Indian (1911), disebutkan bahwa sebagian orang menganggap bangsa Indian menyembah matahari, namun bagi mereka, matahari tidaklah lebih dari bagaimana Nasrani menghormati salib. Suku-suku Indian memiliki dan meyakini konsep satu tuhan. Bangsa Indian, berdasarkan kesaksian peneliti barat sendiri, adalah bangsa yang setidaknya mayoritasnya penganut agama monoteistik dan indikasi bahwa agama monoteistik telah ada sejak zaman kuno di benua tersebut begitu kuat.

George Catlin dalam bukunya Manners, Customs, and Conditions of The North American Indians[2] menulis bahwa bangsa Indian Amerika Utara sama sekali bukan penyembah berhala – mereka menyembah ke satu sesembahan tanpa mediator, baik itu personal atau simbolik. Orang-orang Indian juga menyerukan toleransi dalam kehidupan beragama. Toleransi bagi pemuka agama Indian bukanlah menyatukan keyakinan dengan mencampurnya dengan keyakinan lain, toleransi bagi mereka adalah tidak memaksakan agama kita kepada orang lain dan menghormati keyakinan agama suku lain dengan tidak mengganggunya,

Sebelum pendatang kulit putih tiba, bangsa Indian telah memiliki keyakinan yang matang. Bahkan bangsa Indian adalah banga yang religius dan memiliki konsep agama  yang kental dengan unsur-unsur monoteisme. Di antara ajaran-ajaran suku-suku Indian adalah[3]:

  • Hanya ada satu tuhan, dia abadi, maha kuasa, tak terlihat, pencipta dan pengatur segala sesuatu. Kepadanya kita mempertanggung-jawabkan [melalui perbuatan kita].
  • Di bumi, seseorang harus mencapai kesempurnaan dalam seluruh dimensi manusia: tubuh, pikiran, jiwa, dan pelayanan kepada orang lain.
  • Sihir adalah kejahatan. Banyak orang menyangka Shaman adalah dukun di kalangan suku Indian yang menunjukkan budaya sihir di antara mereka. Padahal Shaman adalah semacam tabib yang mengobati penyakit dengan jalur spiritual sebagaimana karakter orang Indian yang religius. Shaman menggunakan metode pengobatan empiris juga. Mereka menggunakan tanaman herbal dan elemen alam seperti sinar matahari dan tentunya doa-doa menurut keyakinan mereka, sehingga berbeda seperti yang digambarkan Hollywood.
  • Mencapai kesempurnaan manusia dengan melayani sesama.
  • Ruh manusia abadi. Setelah mati, ruh akan ke alam selanjutnya, sebuah keyakinan yang dijumpai pada agama monoteistik.
  • Tidak boleh menyerupai pencipta dengan sesuatu melalui benda sebagaimana agama-agama monoteistik lainnya.
  • Dilarang berdusta.
  • Menjaga hari raya agama, mempelajari tarian ibadah, menjaga hal-hal tabu, dan mempelajari adat-istiadat suku mereka sendiri.
  • “Hormati ayah dan ibu kalian.”
  • “Tidak boleh membunuh.”
  • “Murnikan pikiran dan perilakumu.”
  • “Tidak boleh mencuri.”
  • “Tidak boleh serakah dengan kekayaan.”
  • “Jauhi alkhohol karena ia akan membuat orang bijak jadi bodoh. Ini jelas menyelisihi kebiasaan orang barat yang sebagian besarnya beragama Nasrani.”
  • “Cintai hidupmu, sempurnakan, dan perindahlah.”
  • “Jika engkau hendak memurnikan hatimu agar dapat melihat jelas jalan tuhan, jangan sentuh makanan selama dua hari atau lebih sesuai kesanggupanmu. Sehingga tubuhmu suci dan hatimu menguasai tubuhmu.” Ritual yang mirip seperti puasa ini juga lazim didapati dalam Yahudi dan Nasrani, terlebih dalam Islam.
  • Dengan berdoa, berpuasa, dan membenahi tujuanmu, engkau akan mampu mengatur ruh-mu, dan memberimu kekuatan.
  • Hanya ada satu kewajiban yang diharapkan, yakni berdoa setiap hari, pengakuan terhadap tuhan yang tak terlihat dan abadi. Pengabdian harian ini lebih penting baginya dari makanan harian. Asupan jiwa melalui ritual melebihi pentingnya asupan makanan bagi tubuh. Hal ini memiliki kemiripan dengan nilai Islam sebaiamana perkataan ulama yang menekankan pentingnya mengingat Allah lebih dari memakan makanan.
  • Setiap pagi, mereka menuju sumber air untuk mengusap wajah dengan air dingin atau menceburkan seluruh tubuhnya ke sungai atau danau. Setelah itu, ia berdiri menghadap mentari fajar yang menyingsing kemudian berdoa. Terkadang yang lain turut bergabung dengannya.
  • “Bersyukurlah atas cahaya pagi, atas hidup dan kekuatan, makanan dan kesenangan hidupmu. Jika engkau tidak menemukan alasan untuk bersyukur, ketahuilah, kesalahan itu ada pada dirimu. Konsep syukur ini nyaris ditemui di seluruh agama besar.”

Adapun  untaian kata dalam ritual doa suku Indian adalah sebagai berikut:

O tuhan para leluhurku. Inilah doaku.

Tolonglah aku untuk mengetahui kewajiban dan pesanmu.

Tolonglah aku agar adil bahkan terhadap mereka yang membenciku, dan bantulah aku untuk berlaku baik setiap saat.

Jika musuhku lemah, tolonglah aku untuk memaafkannya.

Jika dia menyerah maka tolonglah aku agar aku memperlakukannya sebagai saudara yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

Begitu banyak contoh serupa yang ditemui di Benua Australia, Eropa, Tiongkok, bahkan dalam tradisi nusantara yang menunjukkan agama manusia tidak mengikuti garis vertikal evolusi, bahkan sebaliknya.

Penulis tidak hendak menyimpulkan dahulu bangsa “Indian” menganut monoteisme, terlebih tauhid, bukan itu, melainkan memaparkan bahwa politeisme dan paganisme itu tidak merata di seluruh peradaban sebagai agama origin.


[1] Op. cit, Ernst Thompson, hal, 4.

[3] Ibid, hal 10-15, 42.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s