“Primitive Monotheism” [Bagian 7]

Teori evolusi dan seluruh pengetahuan yang sampai pada kita melalui testimoni. Dapat dipastikan, sebagian besar dari kita tidak pernah benar-benar melakukan uji coba, penelitian, dan penggalian untuk membuktikannya mandiri. Bahkan sebagian besar ilmuwan dan akademisi pun bergantung kepada testimoni. Transmisi testimoni begitu vital dalam sains.

Bagaimanakah kita mengetahui bahwa ibu kita yang kita kenal sepanjang hidup kita itulah yang melahirkan kita? Jawabannya adalah testimoni, kita mengetahui beliau adalah ibunda kita dari kesaksian orang lain yang kita percayai kebenarannya dan disepakati otoritasnya. Akte lahir, kesaksian ayah kita, merwka yang hadir saat proses persalinan, atau bukti album foto, atau melalui penuturan para bidan, maka semua itu testimoni yang kita yakini kebenarannya dan verifikasi otoritasnya. Ini berarti ada orang lain yang mengatakan kepada kita bahwa akte lahir tersebut benar sebagaipenanda administratif kelahiran kita, ada orang lain yang mengatakan pada kita bahwa bahwa benar foto tersebut adalah proses persalinan kelahiran kita. Semua itu adalah testimoni yang disampaikan kepada kita dan kita yakini kebenarannya. Kita tidak ada di sana saat peristiwa itu terjadi.

Bulatnya bumi kita yakini sebagai kebenaran melalui foto satelit, artikel ensiklopedia, atau menukil para guru dan dosen yang mereka dapat juga dari kesaksian orang lain melalui transimisi para pakar. Tatkala kita terbang di ketinggian jelajah 40.000 kaki sekalipun, kita belum sepenuhnya membuktikan secara empirik. Sebab, di ketinggian itu kita melihat curvature, atau bentuk yang melengkung, bukan bulat utuh meski ia menjadi petunjuk bagi rasionalitas terhadap bulatnya bumi. Namun kurva bukanlah bentuk bulat sempurna. Sehingga, kita tetap melengkapi kesimpulan rasionalitas kita dengan otoritas  dan ini membawa kita kembali kepada testimoni. Sebuah testimoni haruslah datang dari pembawa transmisi yang kredibel, otoritatif, dan terverifikasi. [Bukan, penulis bukan penganut FE, in case you’re curious :D]

Ibadah shalat lima waktu pun berdasarkan testimoni guru kita yang didapat dari guru para guru kita hingga terus bermuara pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika kita hendak memeriksa langsung ke sumber primer pun kita tidak bisa terlepas dari testimoni. Para sahabat, para tabiin, para imam mazhab, ulama hadis, fikih, adalah para transmitor yang otoritatif. Begitu juga sirkulasi darah kita yang mengalir, tekanan darah kita, kadar gula darah dan kolesterol kita, serta seluruh pengetahuan di buku-buku sekolah dan kampus, semua didapat dari transmisi testimoni dimana kita nyaris tidak pernah menelusurinya sendiri, melihat, atau melakukan uji coba sendiri untuk membuktikan informasi-informasi yang kita benarkan.

Transmisi testimoni tidak bertentangan dengan sains. Islam tidak anti sains namun mendudukan sains itu dengan proporsional, di antaranya berhenti ketika sains bertentangan dengan testimoni Al Quran dan hadis Nabi. Justru kebangkitan peradaban ilmu barat didorong oleh masa keemasan keilmuan peradaban Islam. Franz Rosenthal, penterjemah kitab Tarikh Al Rusul Wal Muluk karya Imam At Tabari dan kitab Muqoddimah karya Ibnu Khaldun ke dalam bahasa Inggris, pernah berkata bahwa peradaban Islam adalah peradaban dimana ilmu berjaya. Islam adalah satu-satunya agama yang meletakkan menuntut ilmu sebagai kewajiban individu.

Sumber primer ilmu dalam epistemologi Islam adalah wahyu yang diterima Rasulullah yang berasal dari Allah Azza wa Jalla, karena Allah adalah sumber segala sesuatu. Setelah itu adalah hadis Nabi, kemudian akal, kalbu, dan indra. Objek ilmu dalam epistemologi Islam tidak semata menjangkau realitas fisik seperti tengkorak, fosil, atau batu-batu, melainkan mencakup aspek metafisik sebagai hal yang mungkin diketahui manusia.[1]

Kesimpulannya, manusia semakin berdevolusi seiring berjalannya waktu, dari monoteisme menjadi isme-isme lain. Sejak awal, manusia menyembah Tuhan Yang Ahad sebagai innatism.

Sejak “Day 1”, manusia bukanlah tabulae kosong tanpa rasa. Innate disposition ini ada dalam setiap manusia dan bersemayam di dalam diri kita sebagai default setting, sebagai fitrah manusia untuk menyembah Tuhan Yang Ahad dan meniadakan penyembahan kepada selainnya:

Allah Berfirman,Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. [QS. Al A’raf: 172].

Bersambung, Insya Allah


[1] Dr. Adian Husaini,et.al. Filsafat Ilmu – Perspektif Barat dan Islam. Dalam bab: Objek Ilmu dan Sumber-Sumber Ilmu, Dr Dinar Dewi Kania. Jakarta 2013, Gema Insani Press, hal, 92, 109.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s