“Primitive Monotheism” [Bagian 5]

Bangsa Sumeria, pionir peradaban Mesopotamia, dalam satu waktu sempat menyembah 5000 sesembahan. Ada tuhan khusus untuk pengatur cuaca, ada tuhan yang mengurus sapi, ada tuhan yang otoritasnya hanya sebatas berkuasa pada aspek agrikultur, dan ada juga tuhan yang mengurus gandum. Konsekuensi dari banyaknya tuhan-tuhan itu adalah klasifikasi tuhan berdasarkan fungsi dan otoritas serta klasifikasi. Beberapa tuhan terkadang dianggap memiliki kekuasaan lebih dari satu, semisal Enki, yang berkuasa atas kesuburan bumi, sihir, dan air segar. Tidak hanya tuhan, konsep dewi (goddess) pun masyhur di kalangan bangsa Sumeria. Nammu adalah dewi dari semua dewi. Inanna adalah dewi cinta dan perang, sedangkan Ninshubur adalah dewi bintang pagi. Benda-benda langit pun mereka sembah. Nanna (Sin) adalah tuhan bulan, Utu (Shamash) adalah tuhan matahari, dan Ishkur (adad) adalah tuhan bintang-bintang.

Tidak hanya itu, terkadang perkawinan terjadi di antara para dewa-dewi. Dalam satu waktu sebelum punah dan tergantikan oleh peradaban Babilonia Kuno, sesembahan bangsa Sumeria dapat mencapai 5000 tuhan.[1] Tuhan-tuhan itu juga memilih teritori, setiap negara-kota (city-state) memiliki tuhan sendiri, setiap pantheon, atau kuil peribadatan, memiliki tuhan-tuhan sendiri. Masing-masing kuil memiliki pemuka agamanya sendiri, semacam kuncenpantheon

Terlepas dari data di atas, peneliti bernama Stephen Langdon justru berpendapat sebaliknya. Dalam bukunya berjudul Semitic Mythology of All Races ia berkata: Menurut pendapat saya, sejarah dari peradaban tertua manusia adalah sejarah tentang penurunan drastis dari agama monoteisme menjadi politeisme yang ekstrem dan penyembahan ruh-ruh jahat. Ini adalah sebenar-benarnya kejatuhan umat manusia.[2] Lima tahun kemudian Langdon menulis dalam sebuah artikel dalam karya-nya The Scotsman dimana ia menulis: Sejarah dari agama bangsa Sumeria, bangsa dengan pengaruh budaya terkuat di peradaban manusia kuno, dapat ditelurusri melalui ukiran-ukiran  piktograf yang dapat membawa ke konsep manusia akan manusia di era-era awal. Bukti-bukti tanpa diragukan lagi mengarah kepada “original monotheism”, atau “monoteisme murni[3].

Langdon melanjutkan, memang pada masa-masa sebelum kehancurannya, bangsa Sumeria menyembah 5000 tuhan bahkan lebih. Namun jika menelusuri ke zaman sebelumnya, ukiran yang ditemukan dari era 3.000-4.000 SM menunjukkan bahwa bangsa Sumeria menyembah sebanyak 750 tuhan. Bahkan terdapat 300 tablet yang berisi aksara paku yang ditemukan di wilayah Jamdet Nasr pada tahun 1928 “hanya” terdapat tiga tuhan saja, yakni tuhan langit bernama Enlil, tuhan bumi bernama Enki, dan Babbar sebagai tuhan matahari. Kemudian sebanyak 575 tablet aksara paku yang diterjemahkan pada tahun 1936 dan diduga berasal dar era 3.500 SM “hanya” ditemukan dua tuhan saja. Keduanya yakni An sebagai tuhan langit (sky god), dan dewi seluruh dewi, Innana, yang kemudian nanti dikenal dengan nama Ishtar oleh bangsa semit. Pengerucutan kuantitas tuhan-tuhan ini jika ditelusuri semakin ke belakang menunjukkan bahwa politeisme itu bermula dari monoteisme sebagaimana terjadi pada peradaban Lembah Indus, bukan sebaliknya.

Dalam ensiklopedi al I’jaz al ‘Ilmi fi Al Quran wa al Sunnah terbitan Kairo Mesir[4] disebutkan bahwa konsep Allah Yang Mahaluhur hampir ditemukan pada semua suku. Bahkan, konsep Zat yang selalu cukup dan menyeluruh kekuasaannya, bisa kita temukan di tengah-tengah banyak suku seperti Zulu di Afrika Selatan dan Rwanda, Ashanti di Pantai Gading, Akan di Ghana, Yoruba di Negria, Bakongo di Angola, dan M’Bochi di Kongo.

Dr Abdullah Hakim juga menyebutkan bahwa terdapat tanda-tanda adanya ajaran tauhid yang tampak pada suku Burundi. Di kalangan mereka, dikenal beberapa kata sifat yang disematkan pada tuhan.

Bisabwe, “dia saja yang layak diembah.”

Habimana, yang berarti “hanya dia yang ada.”

Hazikimana, yang artinya “hanya dia yang menyelamatkan.”

Habonimana, “Hanya dia yang melakukan apa yang dikhenendakinya.

Birori, yang berarti “hanya dia yang mengawasi segala sesuatu.”

Suku Akan di Afrika Barat mengenal tuhan yang mereka sebut sebagai “dia yang melihat segala sesuatu.” Sedangkan suku Yoruba mengenal tuhan yang “maha bijaksana“ dan juga “dia yang mengetahui hati”. Suku Banyawarda sebagaimana suku Zulu di Afrika bagian selatan mengenal tuhan yang “bijaksana”, sedangkan suku Bacongo meyakini tuhan yang “dia tidak diciptakan oleh apapun dan siapapun dan tidak ada siapapun selain dia.”Suku Zulu juga menggunakan atribut ”Umdali” yang berarti “sang pencipta”. Canon Titcomb berkata, “Zulu tidak memiliki berhala melainkan mengenal satu kekuatan yang “maha berkuasa” atau disebut juga “yang ada pertama kali” dan “pencipta segala sesuatu dan segala manusia”[5]. Dalam grup bahasa di belahan selatan benua Afrika, terdapat nama tradisional untuk tuhan yaitu “Ramasedi” yang berarti “dia yang darinya dating cahaya.”[6]

Sementara Canon Titcomb dalam Prehistoric Monotehism juga mengutip sebuah bait syair penduduk asli Madagaskar yang ia sinyalir sebagai jejak ajaran monoteisme.

Jangan kira lembah itu rahasia, karena tuhan ada di atas kita

Keinginan seseorang dapat terwujud oleh pencipta, karena tuhan sendiri-lah yang mengatur

Lebih baik bersalah kepada manusia ketimbang bersalah kepada tuhan.

Suku-suku primitif terisolasi dari dunia luar sehingga ia bagaikan mesin waktu oleh karena keadaan mereka tidaklah banyak berubah dari ribuan tahun silamm termasuk keagamaan mereka.

Bersambung, insya Allah


[1] Ibid. Hal, 72.

[2] Stephen Langdon. Semitic Mythology of All Races, Vol. 5. Archeological Institute of America, 1931, hal. xviii).

[3] Arthur C. Custance. Evolution or Creation. The Doorway Papers, volume 4, 1 Januari 1976. Zondervan Publishing House, Grand Rapids, Michigan, USA).

[4] Judul asli dari Ensiklopedia Mukjizat Al Qur’an Dan Hadis, kutipan ini terdapat dalam Jilid 1 – Kemukjizatan Fakta Sejarah Dalam Al Quran, hal, 184-185. Kairo, Mesir. Distributor: PT. Amira Widyatama, hak cipta terjemahan Indonesia: PT. Sapta Sentosa.

[5] Titcomb J.H., Prehistoric Monotheism. Transaction of the Victorian Inst. Vol 8, 1873, hal. 145.

http://www.creationism.org/victoria/VictoriaInst1872_pg141.htm

[6] Essa Al-Seppe, (rahimahullah), Some Points of Similarity between Islam, Africa and the African, Africa Muslim Agency, Fordsburg, South Africa sebagaimana dikutip oleh Dr Abdullah Quick dalam Islam in Africa, hal, 14.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s