“Primitive Monotheism” [Bagian 3]

Di tengah euforia evolusi, Wilhelm Schmidt muncul dengan magnum opus-nya berjudul The Origin and Growth of Religion: Facts and Theories. Schmidt menentang keras teori evolusi dalam proses kelahiran monoteisme, bahwa Monoteisme datang melalui proses garis lurus dari bawah ke atas, bahwa segala sesuatu bergerak dari simplicity menuju complexity, dari kekurangan sempurnaan menuju kesempurnaan, dari yang primitif menuju peradaban maju[1]. William Schmidt berkata, “Seluruh pengusung teori fetishisme, penyembah ruh, animisme, totemisme, dan magisme [semuanya sejalan dengan evolusionis – pen] bersepakat bahwa “figur” tuhan yang di atas langit ini harus dihilangkan dari fase awal agama manusia. Sebab [bagi pandangan evolusionis-pen], konsep tuhan yang satu di atas langit terlalu “tinggi” dan sulit dijangkau [oleh manusia purba]. Bagi mereka, di fase-fase awal ini mestinya konsep agama sangat rendah, yang tidak terlampau berbeda seperti hewan buas. Oleh sebab itu, tuhan di langit harus dianggap ada di fase-fase belakangan.” Maksud Schimdt, kubu evolusionis memandang tidaklah logis jika kemunculan konsep monoteisme yang “luhur” ini bermula dari suatu kumpulan manusia primitif yang tidak mengenal sistem pemerintahan yang terogranisir, masih mengenakan celana dalam, dan tidak memiliki kemampuan berhitung melampaui angka tujuh.”[2] Presuposisi inilah yang menurut Schmidt menghambat kajian sejarah manusia primitif.

Pandangan Schmidt ini tenntu berseberangan dengan Neale Donald Walsch dalam bukunya Tomorrow’s God yang mengatakan bahwa tuhan dari agama-agama yang ada pada saat ini tidak lagi cocok untuk zaman sekarang, sebab tuhan bagi orang modern haruslah seperti apa yang digambarkan manusia modern. Manusia makhluk berakal (rational animal) harus lebih dominan daripada makhluk tuhan. Pada puncaknya nanti, manusialah yang menciptakan tuhan dengan akalnya.[3]

Wilhelm Schmidt tidak sendiri. Di antara peneliti barat yang paling awal mengidentifikasi adanya kecenderunan degenerasi agama manusia dari monoteisme ke politeisme adalah Stephen Langdon dari Oxford, Inggris. Langdon berpendapat bahwa di peradaban Sumeria di Mesopotamia, sebuah peradaban yang disebut tertua di dunia, telah terjadi penurunan spiritualitas manusia dari monoteisme ke politeisme serta merebaknya praktek penyembahan arwah-arwah orang mati. Langdon menyebut pola degradasi ini sebagai sejarah keterpurukan umat manusia – the history the fall of man.[4] Langdon membalikkan garis lurus dari bawah ke atas menjadi garis vertikal dengan anak panah ke bawah.

Wilhelm Schmidt mengklaim telah menemukan adanya keyakinan monoteisme pada kebudayaan-kebudayaan primitif. Ketika dahulu mereka masih berada pada fase-fase terendah dari sisi kebudayaan, mereka memiliki konsep murni akan satu tuhan. Suku-suku di Afrika Tengah, suku-suku Aborigin di sebelah tenggara Australia, suku asli Indian di Kalifornia terindikasi memiliki konsep monoteisme dalam ajaran agama mereka.[5] Menariknya, para penganut teori evolusi pun mengakui bahwa memang ada kecenderungan penurunan konsep agama yang “murni” menjadi praktek politeisme. Andrew Lang misalnya, ia mengatakan bahwa para penduduk Kepulauan Andaman, yang berada pada level kebudayaan yang sama dengan suku-suku Aborigin Australia, pada awalnya meyakini adanya satu tuhan. Mereka mendeskripsikan satu tuhan itu sebagai tuhan yang abadi, pencipta segala sesuatu, mengetahui apa yang di hati dan pikiran, tuhan yang murka karena kedustaan dan kejahatan manusia, tuhan yang menjadi penolong bagi mereka yang mengalami kesakitan dan kesedihan, konsep tuhan yang selaras dengan monoteisme. Lebih jauh lagi, tuhan itu adalah hakim bagi jiwa-jiwa dan di kemudian hari nanti dimana tuhan itu akan menghakimi sebuah sidang yang besar[6]. Andrew Lang sendiri menurut Wilhelm Schmidt adalah penganut evolusi yang moderat yang berarti masih membuka diri dengan teori monoteisme.

Sementara bagi Sir Flanders dalam The Religion of Ancient Egypt[7]yang dipublikasikan tahun 1908 menyatakan bahwa pada agama-agama purba terdapat “kelas-kelas” tuhan. Sejumlah ras, sebagaimana pada Hindu modern, menjadikan banyak tuhan-tuhan dan tingkatan-tingkatannya. Ini berarti jika konsepsi akan tuhan adalah berevolusi dari penyembahan ruh mendahului monoteisme, menurut Flanders harusnya kita menemukan bukti itu, namun justru bukti yang ditemukan adalah sebaliknya; monoteisme adalah teologi pertama manusia.[8] Maskud Flanders adalah politeisme merupakan “kombinasi” dari monoteisme sebelum menjadi politeisme. Ini juga berarti bagi Flanders adanya kreasi tuhan-tuhan yang banyak itu menandakan dahulunya hanya ada satu tuhan. Sehingga, klasifikasi dan hirarki tuhan-tuhan yang banyak menunjukkan bahwa pada awalnya konsep tentang tuhan di zaman purba itu berada pada satu level saja.

Kesimpulannya, Sanggahan pengusung evolusionis cenderung menyanggah argumentasi monoteisme dengan self-evident; “Karena saya meyakini hal itu mustahil terjadi, maka hal itu tidaklah dapat terjadi”.[9] Dalam kata lain, letak fallacy argumentasi evolusionis dapat dibingkai semisal ini: karena tuhan itu tidak ada, maka konsep monoteisme dari tuhan di fase awal tidaklah mungkin terjadi. Karena tuhan itu tidak ada, maka mustahil konsep tentang tuhan yang kompleks seperti monoteisme lahir dari manusia primitif, dan ia pasti hasil dari proses evolusi. Karena pada dasarnya menolak semua sumber ilmu yang berasal dari “Kitab Suci”, para ilmuwan barat sekular menumpukkan pencarian asal-usul alam semesta dan manusia semata-mata berdasarkan sumber “indra” (positivisme) dan sumber akal (rasionalisme)[10].

Sanggahan kepada evolusionis juga datang dari kalangan terpelajar muslim. Dr Abdullah Umar Farooq, seorang mualaf di AS yang mendirikan Nawawi Foundation dan penulis buku biografi berjudul Muhammad Webb berkata mengenai teori asal-muasal agama manusia, “Politeisme adalah realitas masa lalu, namun ia bukanlah tipikal agama purba. Dan antropologis yang menganggap agama awal mansuia di zaman kuno adalah politeisme tidak menegtahui apa-apa tentang duduk perkaranya.”[11] Hal ini senada dengan perkataan Wilhelm Schmidt dimana ia mengatakan seorang misionaris jika dilengkapi dengan informasi yang memadai akan memiliki kemampuan meneliti agama-agama kuno, maka ia akan memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dari para antropolog dan etnolog[12].

Bersambung, insya Allah


[1] Louis J. Luzbetak. Wilhelm Schmidt’s Legacy. http://www.internationalbulletin.org/issues/1980-01/1980-01-014-luzbetak.pdf. Akses 2-10-2018. 4.29 AM.

[2] Dr. Winfried Corduan. On the Case for Original Monotheism. Trinities.com. Podcast #96.

[3] Dr. Hamid Fahmy Zarkasy. Misykat: Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam. Jakarta, INSIST – MIUMI, 2012. Hal, 22.

[4] Stephen H. Langdon. Mythology of All Races, dalam Semitic Mythology Journal (Vol. 5Archeological Institute of America, 1931), p. xviii

[5] Wilhelm Schmidt. The Origin and Growth of Religion – Facts and Theories. London, 1931. Hal, 131.

[6] Andrew Lang. The Making of Religion. London, Longman Green, 1909. Hal, 175-182.

[7] Ibid,

[8] Arthur C. Custance. Evolution or Creation. The Doorway Papers, volume 4, 1976. Zondervan Publishing House, Grand Rapids, Michigan, USA).

[9] The Concept of God among the Aborigines of Australia. Alislam.com

[10] Dr Adian Husaini, et.al. Filsafat Ilmu – Perspektif Barat dan Islam. Jakarta, 2013, Gema Insani Press, hal, 44.

[11]Dr Abdullah Umar Farooq. May, 18, 2018. Primitivie Monotheism, Beowulf. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=JIQOUJ-D5Ko

[12] Louis J. Luzbetak. Wilhelm Schmidt’s Legacy. http://www.internationalbulletin.org/issues/1980-01/1980-01-014-luzbetak.pdf. Akses 2-10-2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s