“Sepotong Roti” Dalam Sejarah: Mesir Kuno, Zaman Nabi, Hingga Kompeni

Manakah yang lebih tua, olahan logam atau roti? Konon, menurut situs history.com, roti telah dikonsumsi sejak 30.000 tahun silam yang berarti pengolahan roti lebih dahulu ada ketimbang olahan logam. Bahkan olahan roti disebut telah ada sejak zaman perunggu. Pembuatan roti berawal – setidaknya salah satunya – dari Mesir kuno yang kemudian sampai ke Yunani. Di Yunani, para pembuat roti adalah para wanita di rumah-rumah sebelum dibuat di tempat-tempat khusus yang menyerupai bakery.


Dalam sejarah Nasrani, roti memiliki nilai sakral, yakni sebagai simbol pemberian tuhan, simbol kedermawanan untuk saling berbagi dengan sesama. Bagi mereka, roti merupakan makanan yang turun dari langit kepada Nabi Musa dan kaumnya saat berada di pengembaraan gurun selama 40 tahun. Dalam perayaah Hanukah oleh kaum Yahudi, roti di antara menu yang dihidangkan untuk merayakan menangnya Revolusi Maccabi terhadap kekuasaan pagan Antiochus IV.

Roti dan menorah dalam perayaan Hanukah.


Adonan roti paling awal yang diketahui oleh sejarawan adalah adonan yang terdiri dari air dan gandum saja, atau terkadang dengan garam, dan bentuknya pun flat. Kala itu roti tidak selembut sekarang dan tidak pula mengembang seperti kita temukan beragam produk di gerai mall, bakery ternama, atau pedagang roti keliling pada hari ini.

Dahulu, roti dijemur di bawah sinar matahari di atas lempengan batu atau abu yang tentu dengan tekstur lebih kasar dan terasa lebih keras ketika digigit. Untuk rasa pun tidak seperti roti modern, rasa roti di zaman kuno satu macam saja yakni tawar.

Di dalam Al-Qur’an, roti disebutkan secara gamblang satu kali dalam konteks kisah Nabi Yusuf di Mesir, sedangkan isyarat tentang gandum terdapat dalam tujuh tempat.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” Beritakanlah kepada kami ta’birnya. (Yusuf: 36), hingga akhir ayat.

Dalam ilustrasi di atas, tampak seorang yang berjalan dengan membawa roti di kepalanya. Meski ilustrasi di atas tidak terakit dengan seseorang yang menceritakam mimpinya kepada Nabi Yusuf di penjara sebagaimana termaktub di dalam Al Quran, namun ini mengindikasikan kebiasaan membawa roti di kepala juga terdapat dalam inskripsi Mesir kuno, Wallahu A’lam.

Dari zaman Nabi Yusuf dan Nabi Musa dimana kedua Nabi tersebut terikat dengan konteks era Mesir kuno, ada isyarat kuat bahwa roti merupakan makanan pokok bagi masyarakat Mesir kuno. Bahkan, roti sourdough atau roti ragi, pertama kali ditemukan di Mesir, setidaknya yang tercatat oleh sejarawan. Roti beragi akan mengembang ketika dipanggang.


Bahkan hingga abad 7 M, roti yang paling banyak dikonsumsi oleh rakyat kebanyakan adalah jenis roti yang keras, termasuk di masyarakat Jazirah Arab. Dari sahabat Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan di atas khiwan (tempat yang sangat besar) hingga beliau meninggal, dan tidak juga memakan roti yang lunak hingga beliau meninggal.” [HR. Bukhari, 5969]


Menurut Sevim Demir, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah menyantap tirit atau tharid, yakni roti yang dicelupkan ke dalam air yang telah dimasukkan daging hingga menjadi semacam kaldu. Makanan dengan konsep kaldu seperti tharid di atas sendiri sudah berusia nyaris sama tuanya dengan peradaban manusia, sebagaimana disebutkan oleh Victoria R. Rumble dalam “Soup Through the Ages (2009).” Sebelum itu, manusia zaman batu hanya memotong daging dan membakarnya.

Khubz

Roti di zaman para sahabat Nabi adalah roti yang terbuat dari jelai (barley) sedangkan roti dari tepung gandum harganya lebih mahal dan tidak semua orang mampu membelinya. Tepung gandum dibawa oleh para pedagang biji gandum dari Arab Utara. Bahkan, Abu Hurairah bersaksi bahwa beliau tidak pernah melihat Nabi memakan roti dari gandum. Roti yang terbuat dari tepung gandum begitu lembut [untuk ukuran zamannya] namun roti terbuat dari barley lebih keras dan bertekstur kasar [Ibn Sa’ad, Ibnu Majah, Al Bukhari, At’ima].


Anas bin Malik juga pernah berkata, “Sungguh aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat roti empuk hingga bertemu dengan Allah…” [HR. Bukhari, 5976].

Namun dalam riwayat lain, Rasulullah pernah memakan roti terbuat dari gandum yang merupakan pemberian Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha. Nabi memerintahkan Ummu Sulaim menghancurkan roti itu menjadi serpihan, kemudian beliau berdoa kepada Allah, lalu mengundang para sahabatnya sepuluh orang sepuluh orang hingga roti gandum itu mencukupi 70 atau 80 orang, [HR. Bukhari, 3313, dengan makna dan diringkas]

Wallahu A’lam, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memang memakan roti gandum, hanya saja beliau lebih sering memakan roti jelai yang keras, hingga saat ajalnya, beliau tidak pernah kenyang dengan roti gandum. Kompromi ini dapat disimpulkan dari sebuah hadis shahih dari sahabat Abu Hurairah;

Sampai dengan saat wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah kenyang oleh roti yang terbuat dari gandum.” [HR. al-Bukhari 5098].

Roti di zaman salaf dihidangkan dengan daging dan juga mentega. Dalam Muwatho Imam Malik hadis ke 47, Usman bin Affan memakan roti dengan daging, lalu berkumur-kumur, mencuci kedua tangannya, mengusap wajahnya, kemudian shalat dan tidak berwudlu [dari Malik dari Dlamrah bin Said Al Mazini].

Pria badui membuat roti

Di era Abbasiyah abad 10 M, tepung juga digunakan dalam beberapa cara lainnya seperti dicampur dengan air dan digunakan sebagai “pasta”, atau digulung menjadi adonan untuk diisi dengan daging. Selain menjadi santapan para elit, penjual roti di kota Basrah pada abad 9 M menjajakan dagangannya di dekat pusat kerumunan orang termasuk di dekat masjid. Hal ini kita ketahui melalui kisah masyhur Imam Ahmad bin Hambal yang diusir dari masjid lalu diundang ke rumah seorang pembuat roti yang lisannya selalu beristighfar. Tentu kualitas roti berbeda sesuai harga dan kepada siapa ia disajikan. Adapun roti maryam atau roti canai (chenai/cane), ia merupakan roti yang dipengaruhi oleh kebudayaan India dan populer hanya di Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura.

Roti awalnya dibuat untuk mengenyangkan, ketimbang untuk cita rasa. Tawar yang dimaksud bukanlah tawar sebagaimana roti tawar di zaman sekaran, apalagi diiris-iris seperti roti tawar. Roti tawar diiris-iris baru ditemukan di tahun 1928 di AS, dan saat kemunculah mesin pembuat roti iris itu, sekitar 85% penjualan roti yang paling banyak diminati adalah roti tawar iris ini. Di Mesir cikal bakal roti ragi pun muncul di sekitar tahun 300 SM. Bahkan di Mesir, ragi telah menjadi komoditi komersial yang diperdagangkan. Roti ragi berarti roti yang mengembang dengan tekstur yang lebih lembut.


Pada abad 16, kapal-kapal Belanda membawa tepung gandum masuk ke nusantara, selain bahan makanan mereka seperti bebek dan babi. Di zaman penjajahan, terdapat sejumlah regulasi yang berlaku di dalam benteng Batavia bahwa pengantaran roti kepada pelanggan tidak boleh melewati jam 8 pagi. Jika melewati waktu tersebut maka penjual akan dikenai sanksi.

Selain itu, pembuat roti dilarang mempekerjakan budak untuk menjual roti di pinggir jalan. Ketika pukul 2 siang roti yang dijajakan belum habis, maka roti-roti itu dilarang untuk dijual. Ini mengindikasikan besarnya perhatian terhadap kualitas roti sebagai makanan utama orang Belanda di Batavia, dan roti haruslah disajikan dalam keadaan prima. Bahkan untuk menjamin kesegaran roti, para pembuatnya dilarang untuk menyambi pekerjaan lain karena dikhawatirkan menurunkan performa kerja sehingga menurunkan kualitas roti. Para pembuat roti pun tidak “sembarangan”, hanya orang-orang tertentu saja yang diizinkan mengolah roti.


Di Cianjur, Jawa Barat, terdapat toko roti bernama Tang Keng Chu yang berdiri pada tahun 1926, dan sejak 1926 hingga 1950, toko roti tersebut memasokk 50 karung per hari kepada seluruh tentara Belanda di Jawa Barat. Di Bogor, toko roti Tan Ek Tjoan merupakan toko roti lokal yang terkenal di zaman Belanda, dan konon Muhammad Hatta pernah membeli roti tawar seharga 3.75 rupiah saat dalam perjalanan ke Megamendung dari Jakarta. Di tengah maraknya produsen roti semisal BreadTalk, Holland Bakery, Tous le Jours, Michelle dan lainnya, produsen roti lawas semakin tenggelam meski mereka bertahan tanpa nama besar dan daya gedor kompetisi ala kadarnya.

Roti merupakan makanan yang teramat tua umurnya dan telah mengalami perkembangan yang sulit untuk dirunut. Namun demkian, roti masih tergolong sebagai makanan yang cukup “mewah” bagi sebagian kalangan, terkhusus di Indonesia. Menikmati roti tidak lengkap rasanya tanpa mewujudkan rasa syukur atas nikmat Allah, misalnya dengan berbagi dengan mereka yang terhimpit kesusahan, atau sekedar menghadiahkan kepada tetangga yang paling dekat pintunya dengan rumah kita, atau minimal mengucapkan tasmiyah sebelum memakan hidangan roti halal yang juga kita dapatkan dengan cara yang halal.


Cuisine and Dishes in Use During the Prophet Muhammed Era (A.D. 569-632) – Sevim Demir

A Brief History of Bread – https://www.history.com/news/a-brief-history-of-bread

Roti Tan Keng Chu, Roti Para Tentara Belanda Di Zaman Kolonial – https://travel.kompas.com/read/2019/10/11/060000927/roti-tan-keng-chu-roti-para-tentara-belanda-di-zaman-kolonial?page=all

Cerita Roti Di Jakarta – https://sejarahjakarta.com/2019/03/27/cerita-roti-di-jakarta/

Tan Ek Tjoan, Kisah Sejarah Dalam Sepotong Roti – https://historia.id/kultur/articles/tan-ek-tjoan-kisah-sejarah-dalam-sepotong-roti-PGjea

Bread and Christianity – https://www.alimentarium.org/en/knowledge/bread-and-christianity

Roti Gandum Favorit Rasulullah dan Ragam Cara Menyantapnya – https://m.republika.co.id/berita/pz2dej320/roti-gandum-favorit-rasulullah-dan-ragam-cara-menyantapnya

Mengenal Tharid, Hidangan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam – https://tirto.id/mengenal-tharid-hidangan-favorit-nabi-muhammad-saw-cK8S

Roti Canai – Wikipedia

Ancient Egyptian Bread – Miguel Rios. http://www.historicalcookingproject.com/2014/12/guest-post-ancient-egyptian-bread-by.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s