Laut Hitam Dan Rute Dzulqarnain. [Bagian 1]

Bismillahirrahmanirrahim.

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad.

Dalam surah Al Kahfi ayat 86 Allah Azza wa Jalla berfirman, “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam.”[Al-Kahfi: 86].

Di antara tafsiran ayat ini datang dari Ibnu Katsir yang berkata bahwa Dzulqarnain menempuh suatu jalan hingga sampailah perjalanan­nya itu ke ufuk barat bagian bumi, yakni belahan bumi yang ada di barat. 

Ada pula yang mengatakan Dzulqarnain tiba di ujung barat Afrika, yakni tepian Samudera Atlantik, di antaranya Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Al Lathifil Mannan. Pandangan Syaikh As Sa’di ini membawa kita Maroko atau negara pesisir barat lainnya yang bersinggungan dengan Atlantik.

Lain lagi dengan pendapat Dr. Anwar Qudri, seorang peneliti dari Mesir yang menghabiskan waktu 10 tahun meneliti dari aspek sejarah dan geografi, bahwa menurutnya, Dzulqarnain tiba kawasan hulu Sungai Amazon di Brazilia. Menurutnya lagi, kawasan itu merupakan satu titik silang katulistiwa garis lurus 50 sebelah barat. Ia meyakini tidak ada kawasan yang lebih tepat dengan sifat-sifat ini melainkan lokasi tersebut sebagaimana dituliskan Muhammad Ghallab dalam Jughrafiyatul ‘Alam.

Sebagian pandangan mengatakan Dzulqarnain tiba di tepi Laut Hitam di sebelah barat Kaukasus, teori ini juga datang dari pengamat eskatologi Islam bernama Imran Hosein. Sebagian lagi berpendapat ia tiba di ujung Asia Minor, yakni sampai di ujung barat negara Turki kini dimana ia bertemu Laut Aegean, dan inilah pandangan yang konsisten dengan apa yang tampak dalam catatan sejarah ekspedisi Cyrus dalam menaklukkan Lydia.

Surah Al Kahfi Ayat 86 di atas mengisyaratkan bahwa ketika Dzulqarnain sampai ke tempat terbenamnya matahari, barulah ia melihat matahari terbenam. Artinya, Dzulqarnain bisa saja pergi ke barat atau ke timur dahulu, atau utara dan keselatan, barulah ketika ia tiba di barat dimana akhirnya ia melihat tempat matahari terbenam. Right?

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir tidak mengatakan bahwa perjalanan awal Dzulqarnain haruslah ke barat terlebih dahulu, beliau hanya menyebut “ketika” ia sampai. Wallahu A’lam. Ibnu Katsir berkata bahwa Hami-ah حَمِئَةٍ berakar dari kata al-hama-ah menurut salah satu di antara dua qiraat (dialek) mengenainya, yang berarti lumpur hitam. Pendapat yang populer setidaknya oleh para peneliti muslim belakangan, hami-ah adalah Laut Hitam di barat Kaukasus.

Ibnu Jarir at Thabari mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah menjelaskan makna ayat ini, bahwa matahari itu terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, kemudian ia menafsirkannya bahwa air laut itu benar-benar berwarna hitam.

Ka’b Al-Ahbar, seorang Yahudi yang memeluk Islam dengan keilmuan dan keislaman yang baik, pernah ditanya tentang makna ayat ini. Ka’b menjawab, “Kalian (orang Arab) lebih mengetahui tentang Al-Qur’an daripada diriku. Tetapi aku menjumpai keterangan di dalam kitab (terdahulu) ku [maksudnya Taurat mengingat dahulu ia menganut Judaisme-pen], bahwa matahari itu terbenam ke dalam lumpur yang berwarna hitam.” Hal yang sama telah diriwayatkan bukan hanya oleh seorang saja yang bermuara kepada Ibnu Abbas. Pendapat inilah yang dipegang oleh Mujahid, murid Ibnu Abbas, dan beberapa lainnya.

Sementara itu, Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Dzulqarnain melihat matahari itu terbenam di dalam laut yang airnya panas. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri. Ibnu Jarir at Thabari mengatakan, hal yang benar ialah bahwa kedua pendapat tersebut bersumber dari dua qiraat yang terkenal, yakni Hami-ah dan Hamiyah; mana saja yang dipilih maka bacaannya sudah benar. 

Kemudian Ibnu katsir berkata, “Menurut pendapat kami, kedua pendapat tidak bertentangan dari segi maknanya; karena air laut itu bisa jadi airnya panas mengingat berada di dekat panas matahari saat tenggelamnya, sebab sinar matahari langsung mengenainya tanpa penghalang. Makna hami-ah ialah di dalam air laut yang berlumpur hitam. Sama seperti yang dikatakan oleh Ka’b al Ahbar dan lain-lainnya.”

Jika demikian kuatnya dugaan bahwa tempat matahari terbenam itu adalah Laut Hitam, maka pertanyaan kita, apakah yang membuat Laut Hitam itu disebut Laut Hitam? Apakah karena ada lumpur berwarna hitam sebagaimana pandangan Ka’b al Ahbar yang dinilai kuat oleh Ibnu Katsir di atas?

Laut Hitam atau Euxine Sea menyandang gelarnya itu karena berbagai sebab, yang pertama karena airnya memang berwarna hitam saat badai di musim dingin. Pandangan ini datang dari perspektif pelaut dimana menurut mereka ketika musim dingin tiba, gelombang laut menjadi ganas dan kehitaman. Oleh karena itu ia dahulu oleh orang Yunani dinamakan Pontus Axeinus yang berarti “laut yang tidak ramah”. Sebutan ini karena gelombang tingginya kerap memakan korban, namun juga ada pandangan bahwa dinamakan demikian karena di sekitar pantai terdapat kaum “barbar” yang tidak ramah terhadap pendatang. Setelah itu namanya berubah menjadi Pontus Euxinus yang berarti “laut yang ramah”. Perubahan ini muncul setelah para pelaut mulai mengenal bangsa-bangsa di sekitar Laut Hitam yang ternyata tidak semuanya menunjukkan permusuhan.

Euxine

Selain itu, ia dinamakan Laut Hitam karena air yang berada di level bawah dan air yang berada di dekat permukaan tidaklah menyatu, padahal air yang di dekat permukaan ini membawa kandungan oksigen, sehingga air laut di level bawah tidak mendapat pasokan oksigen. Alhasil, 90% dari air di kedalaman Laut Hitam adalah air anoksia (anoxic) dimana ia tidak dapat ditinggali makhluk hidup yang membutuhkan oksigen.[1] Dengan kata lain, lapisan bawah Lut Hitam berbahaya bagi para penyelam. Oleh karena itu di kedalaman tertentu tidak ditemukan makhluk hidup kecuali bakteri sulfur. Air di kedalaman tertentu itu juga memiliki kadar kandungan garam yang minim. Oleh sebab itu benda-benda peninggalan purbakala ketika tenggelam hingga ke kedalaman tertentu di Laut Hitam kondisinya tetap baik, sebab, ketika ia sampai ke dasar laut, ia diselimuti oleh lumpur alami berwarna hitam.[2]

Nama Laut Hitam juga digunakan di era daulah Utsmaniyah yakni dengan sebutan Bahr-e Siyah atau Laut Hitam. Jika dilihat dari citra satelit, maka memang warna air laut di Laut Hitam lebih pekat dengan area kepekatan yang berpindah-pindah. Jika wilayah dekat Kaukakus berwarna kehitaman, maka jika kita berada di tepi pantai menghadap ke barat, niscaya kita menyaksikan “matahari tenggelam di lautan berwarna hitam”. Namun apakah ia adalah tempat yang dimaksud Al Quran dalam surah Al Kahfi ayat 86 di atas?

Bersambung Insya Allah

[1] Wikipedia contributors. Black Sea. Wikipedia, The Free Encyclopedia. https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Black_Sea&oldid=907271864. Akses 30 Juli 2019.

[2] Photogeography. Why Is the “Black Sea” Called black”? (24 Agustus 2016). http://fotogeograf.blogspot.com/2016/08/why-black-sea-is-black.html. Akses 30 Juli 2019.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s