Intifada Para Rabbi: Yahudi Ultra Ortodoks Melawan Zionisme

“Taurat menyatakan bahwa kaum Yahudi berada dalam pengasingan dan harus menghormati negeri-negeri dimana kaum Yahudi menetap. Taurat melarang kaum Yahudi untuk memiliki negara sendiri. Senada dengan hal itu, kaum Yahudi dilarang mencuri tanah, membunuh, atau mengusir orang lain.  Dan dikarenakan kita mengalami holocaust, sikap toleran dan hormat kita pada orang lain harus ditingkatkan, bukan justru menjadikan kesengsaraan kita sebagai alasan untuk berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain, sebagaimana yang Zionis lakukan.” [Neturei Karta International].

Neturei Karta yang dalam bahasa Aramaik berarti penjaga kota, dimana kota melambangkan Yerusalem sebagai simbol dari keyakinan agama mereka, merupakan salah satu sekte dari Yahudi ultra-ortodoks yang menolak berdirinya negara Israel, menolak tindakan represeif terhadap Palestina, menolak perampasan dan pengusiran terhadap penduduk Palestina, dan secara aktif menolak tragedi holocaust untuk dijadikan sebagai legitimasi dan propaganda berdirinya negara Zionisme.

Mereka meyakini, negara bagi kaum Yahudi akan berdiri saat sang meshiach muncul. Neturei Karta adalah salah satu dari kelompok yang disebut sebagai Yahudi Haredim, sebuah gerakan yang menentang pengaruh barat, termasuk Yunani dan Islam, demi menjaga kemurnian agama mereka. Mereka menentang upaya modernisasi yang bernama haskalah, gerakan berasaskan semangat untuk terus mengikuti perkembangan zaman, meski ia harus mengadopsi sekularisme. Oleh karenanya, bagi mereka, upaya penyesuaian diperlukan bagi kaum Yahudi. Haskalah membawa sekularisasi, akulturusi, menuju pencerahan (enlightment).

Adapun Yahudi Ultra-Ortodoks menolak gerakan “modernisasi” ini dan memilih untuk berpegang teguh pada tradisi keagamaan mereka yang mengakar sejak ribuan tahun silam. Mereka mengklaim sebagai pewaris apa yang Tuhan turunkan kepada mereka di Gunung Sinai. Gerakan pemurnian agama ini disebut halakah, gerakan puritan yang mengajak umat Yahudi berpegang pada agama dan teks-teks keagamaan secara teguh. Neturei Karta termasuk ke dalam gerakan puritan ini bersama dengan sekte-sekte lain di bawah Yahudi Ortodoks. Mereka juga memandang tidak ada itu yang namanya Yahudi reformis, ortodoks, sekuler, dan sebagainya. Judaisme adalah Judaisme, tidak pernah berubah sejak dahulu dan selamanya.

Meski tidak terkait Neturei Karta, kaum wanita sebuah sekte turunan dari kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks bahkan mengenakan cadar yang menutup tubuh kaum wanita mereka dengan total, bahkan tidak menyisakan sedikit pun bagian wajah untuk sekedar memberi ruang bagi pandangan untuk melihat sebagaimana yang dikenakan sebagian wanita muslimah. Frumka, nama dari pakaian yang nyaris tak berbeda dengan cadar yang dikenakan sebagian kaum muslimah, memiliki corak seragam; berwarna hitam, lebar, dan menjulur dari kepala hingga kaki. Bagi kaum prianya, mereka menjaga diri agar tidak terlalu dekat dengan wanita yang bukan bagian dari keluarga. Mereka memelihara janggut dan banyak dari mereka mengenakan pakaian ala Yahudi Lithuania, kemeja putih dan jas hitam. Mereka juga menjaga tradisi memanjangkan jambang. Pada tahun 2018 silam, seorang pria Yahudi Ultra-Ortodoks menolak untuk duduk di sebelah wanita dalam sebuah pesawat jet komersial yang dioperasikan maskapai flag carrier “Israel” El Al. Sepekan kemudian, kasus tersebut terulang di penerbangan Austrian Airlines. Ini menandakan, mereka benar-benar berpegang teguh terhadap apa yang mereka yakini sebagai hukum Tuhan di Taurat dan Talmud.

Dalam sebuah pernyataan pada tahun 2014 yang ditandatangani oleh lusinan korban selamat tragedi holocaust, Neturei Karta menyatakan,

Kami, Yahudi ortodoks yang selamat dari holocaust, menyuarakan kepedihan kami tatkala kami melihat bagaimana zionis memanfaatkan penderitaan kami di masa lalu dan tumpahnya darah orang tua kami demi kepentingan politik mereka [zionis, sebagai justifikasi tindakan brutal yang dilakukan oleh negara [zionis]. Negara mereka itu secara fundamental menentang keyakinan Judaisme dan bertentangan dengan HAM.

Dipimpin oleh para rabbi “ultra-ortodoks”, mereka berjuang melawan Zionisme selama satu abad ini. Agenda utama dan pertama mereka adalah menolak klaim berdirinya negara Israel dalam masa-masa pengasingan, setidaknya hingga sang messiah muncul.

Sebagian besar anggota Neturei Karta adalah keturunan Yahudi di Hungaria yang kemudian menetap di Kota Tua Yerusalem di awal abad 19. Mereka adalah pedagang dan pengerajin yang mendedikasikan sebagian besar waktu mereka untuk mempelajari Talmud dan teks-teks keagamaan Yahudi lainnya. Mereka juga hidup dari halukah, semacam donasi dari para Yahudi kaya yang menetap di negara-negara lain (diaspora).

Sejak zaman Utsmaniyah, Neturei Karta sudah menentang agenda pembentukkan negara Zionis. Dalam konteks tersebut, kala itu mereka menentang ide pembentukkan negara Israel dari kaum Yahudi sekuler yang berdatangan ke negeri Syam, dan di saat yang sama, mereka meyakini bahwa negeri yang dijanjikan itu akan berdiri saat sang messiah muncul. Mereka melandasi pandangannya ini berdasarkan Talmud Midras; bahwa Tuhan, kaum Yahudi, dan bangsa-bangsa di dunia telah membuat semacam pakta ketika Yahudi terpencar dalam pengasingan di zaman Romawi Kuno. Midrash adalah penafsiran para rabbi untuk “mengisi dan menghubungkan celah” yang ada dalam Taurat.

Salah satu pakta tersebut mengatakan bahwa Yahudi tidak boleh memberontak terhadap orang-orang non-Yahudi yang telah memberikan keleluasaan bagi kaum Yahudi untuk mendirikan tempat-tempat sakral. Poin kedua dari pakta itu menyatakan orang-orang Yahudi tidak boleh pergi dan menetap di Tanah Israel secara massal (en masse). Poin lainnya adalah bahwa orang-orang Yahudi dijanjikan untuk tidak dipersekusi oleh bangsa-bangsa non-Yahudi. Menentang pakta ini, bagi mereka, adalah pembangkangan nyata terhadap Tuhan. Ini sudah menjadi keyakinan yang mereka klaim termaktub dalam Taurat dan inilah yang Tuhan kehendaki. Bagi mereka, ini sudah menjadi “akidah”.

Rabbi Ahron Cohren bahkan menyatakan, keyakinan bahwa kaum Yahudi harus menerima ketetapan Tuhan untuk terusir dalam pengasingan (diaspora) dan tidak mencoba melawan ketetapan itu dengan mengakhirinya melalui upaya tangan-tangan sendiri, sudah menjadi bagian dari prinsip Judaisme yang fundamental. Maka jelaslah, menurutnya, bahwa penganut Judaisme yang otentik melarang upaya untuk mendirikan “negara Israel”.

Di antara dalil mereka adalah Psalm 127: 1:

Kalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah tukang-tukangnya bekerja. Kalau bukan TUHAN yang melindungi kota, sia-sialah para pengawal berjaga.

Menurut mereka, kaum Yahudi terusir dikarenakan dosa-dosa mereka sendiri, dan kehadiran orang-orang sekuler dari kalangan Yahudi di “Israel” hanya akan memperburuk “hukuman” yang telah mereka tanggung dari Tuhan, yakni berupa pengusiran dan pengasingan. Lebih jauh lagi, Neturei Karta meyakini bahwa holocaust sejatinya juga merupakan hukuman Tuhan bagi kaum sekuler Yahudi. Lebih ekstrem lagi, mereka meyakini bahwa kelompok zionis sengaja membiarkan ribuan orang Yahudi mati di ruang gas saat holocaust ketimbang menyelamatkan mereka dan menempatkan mereka di Palestina. Semua itu, bagi mereka, adalah siasat agar zionisme dapat melegitimasi agenda politik mereka terhadap negara “Israel”.

Neturei karta juga menganggap media massa cenderung mengerdilkan signifikansi Neturei Karta dengan mem-framing bahwa jumlah mereka hanyalah minoritas di tengah kaum Yahudi. Padahal, klaim mereka, terdapat jumlah yang besar dari orang-orang Yahudi yang meyakini seperti apa yang mereka yakini dengan jumlah ratusan ribu. Dalam pernyataan resmi mereka pun, nama Yerusalem selalu disandingkan dengan Palestina ketimbang “Israel”. Artinya, mereka mengakui Yerusalem adalah ibukota Palestina dan milik Palestina.

Rabbi Yisroil David Weiss, putra dari korban holocaust yang selamat meski kakek dan kerabat lainnya tewas di Auschwitz, mengatakan bahwa permasalahan zionisme yang tak kunjung usai terkait Zionisme, bahkan semakin menimbulkan pertumpahan darah, adalah karena pelanggaran Zionisme terhadap ajaran Judaisme itu sendiri. Ia memandang bahwa masalah mengenai Zionisme jauh lebih parah dari yang tampak.

Baginya, Zionisme bukan “sekedar” pertumpahan darah dan kekacauan, melainkan juga masalah yang mengakar dari agama. Kerusakan yang ditimbulkan Zionisme adalah akibat dari keberpalingan kaum Yahudi dari Tuhan dan hukum-hukum Taurat. Zionisme bagi Rabbi Yisroil bukanlah masalah politik, melainkan memiliki dimensi religius yang sangat kental.

Zionisme bagi Rabbi David Weiss telah menghancurkan Judaisme dalam dua hal:

1. Zionisme sejak awal merupakan gerakan yang tidak berbasis agama. Zionisme menyalahi perintah-perintah Taurat dan sistem keagamaan. 

2. Mencoba keluar dari pengasingan dan pengusiran atas inisiasi sendiri mewakili keluarnya mereka dari keyakinan-keyakinan agama mereka. Sebab, selama berabad-abad sejak Bet Mikdash dihancurkan, kaum Yahudi menerima dengan lapang dada pengasingan dan pengusiran sebagai ketetapan Tuhan. Kaum Yahudi dilarang untuk mendirikan negara sendiri. Negara untuk mereka pada akhirnya nanti akan berdiri tanpa campur tangan manusia.

Pandangan Rabbi Yisroil ini seakan menegaskan ideologi Neturei Karta bahwa perjuangan Zionisme demi mencapai agenda mereka melalui perjuangan seperti rentetan Perang Arab-Israel hingga konflik Gaza  tidaklah berarti apa-apa. Hal itu dikarenakan Zionisme merupakan doktrin dan praktek bid’ah. Semestinya, seorang Yahudi hanya mengorbankan jiwa dan diri mereka kepada agama saja bukan kepada doktrin bidah.

Namun demikian, Neturei Karta menolak dengan tegas bahwa mereka hanyalah sekte minoritas berhaluan ekstrim yang kerap disebut Yahudi Ultra Ortodoks. Sebab, bagi mereka, Neturei Karta tidak menambah-nambah sesuatu apapun atau tidak juga mengurangi sesuatu apapun dari Taurat dan Talmud.

Neturei Karta memiliki beberapa sinagog, di antaranya adalah sinagog Torah Ve’Yirah di Yerusalem, sinagog Torah U’Tefillah di London, sinagog Torah U’Tefillah di New York, sinagog Beis Yehudi Upstate di New York, dan lainnya. Selain mendedikasikan waktu mereka untuk mendalami agama, mereka juga sangat aktif menggelar unjuk rasa menentang Zionisme. Neturei Karta merupakan bagian dari Yahudi Ortodoks sehingga secara umum tidak bisa dikatakan mewakili seluruh pandangan Ortodoks, namun demikian, mereka mengklaim jumlah penganut Yahudi Ortodoks yang memiliki pandangan yang sama terkait Zionisme jumlahnya mencapai ratusan ribu.

Neturei Karta melarang untuk berpartisipasi dalam segala hal terkait “Negara Israel”, misalnya dalam pemilihan umum, atau menerima bantuan sosial dari negara, juga dukungan finansial dari Departemen Pendidikan negara.

Sikap Neturei Karta terhadap pemukim Arab pun jelas dan tegas. Dalam situs resmi Neturei Karta disebutkan bahwa seorang Yahudi sejati menentang perampasan terhadap tempat-tempat tinggal dan tanah bangsa Arab, dan berdasarkan Taurat, lanjut mereka, tanah yang telah diambil harus dikembalikan kepada mereka [orang Arab]. Neturei Karta mengerti betul mengapa bangsa Arab yang diambil tanahnya murka dan memendam kebencian. Namun tanpa kemurkaan bangsa Arab akibat kesewenangan Zionisme sekalipun, menurut mereka, kemarahan Tuhan sudah cukup untuk membuat kaum Yahudi berada di dalam masalah berkepanjangan.

Neturei Karta juga menolak upaya “rekonsiliasi” antara Zionisme dengan kalangan Ortodoks seperti misalnya penyebutan “Zionisme religius”. Mereka menolak istilah “Zionisme religius” ini karena kedua istilah tersebut tidaklah kompatibel. Zionisme bagi mereka adalah bidah dan pelanggaran terhadap Tuhan dan hukum-hukum Taurat dan Talmud, maka, Zionisme tidak dapat dibawa ke ranah Judaisme sebagai agama.

Bagi Neturei Karta, Zionisme adalah eggel hazahav, atau lembu emas, berhala yang dahulu pernah disembah oknum-oknum rombongan Eksodus, dan para Rabbi yang mendukung Zionisme telah terperangkap dalam ‘berhala” itu. Neturei Karta dengan tegas menolak dengan keras upaya sistematis Zionisme untuk mencabut komunitas Yahudi dari tradisi yang telah mengakar sejak zaman kuno, dan juga menolak dengan keras dan tegas tumpahnya darah orang-orang non-Yahudi oleh Zionisme, dan mendukung penuh transisi damai dari rezim Zionis menuju entitas non-Zionis.

Rabbi Ahron Cohen mengatakan dalam sebuah pidato di University College of Dublin, Irlandia, pada bulan Februari tahun 2011 silam bahwa di mata dunia, Zionis dipandang sebagai Yahudi dan Zionisme disamakan dengan Judaisme. Dua persepsi itu keliru besar. Rabbi Ahron Cohren juga menjelaskan perbedaan antara anti-Zionisme dan anti-Semitisme. Neturei Karta dilabeli sebagai gerakan anti-Semitisme, sebuah klaim yang ditolak mentah-mentah oleh Neturei Karta. Adapun anti-Zionisme itulah yang diusung oleh Neturei Karta.

Dalam pidatonya, Rabbi Ahron Cohen mengatakan Judaisme adalah agama dan cara hidup. Ia merupakan konsep yang luas. Sementara itu Zionisme adalah konsep yang sempit dan terbatas. Judaisme adalah panduan untuk hidup dengan etika, moralitas, dan agama sebagai pelayanan terhadap Tuhan. Ia mencakup segala sesuatu mulai dari buaian hingga ke liang lahat dengan berpegamg pada Taurat dan Talmud. Adapun Zionisme adalah cara pandang sekuler, materialistis, tidak mengandung ajaran moral atau mengemban kewajiban etis tertentu.

Negara Zionis Israel memberi predikat fundamentalis, radikal, anti semit, dan juga ekstrimis kepada Neturei Karta. Tetapi pada akhirnya, Neturei Karta adalah di antara sekte-sekte Yahudi Ultra-Ortodoks yang menentang keras sejak H 1 akan berdirinya negara Zionis Israel dan menentang seluruh pertumpahan darah, pencurian, pengusiran, dan pemaksaan yang dilakukan oleh Zionis kepada rakyat Palestina, bangsa Arab, dan semua non-Yahudi pada umumnya. Mereka mengakui negara Palestina sebagai negara sah, mereka mengusung toleransi dan mendorong umat Yahudi untuk lebih meningkatkan lagi sikap hormat kepada negeri-negeri yang telah mengizinkan mereka menetap dalam pengasingan sejak ribuan tahun silam. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri saat terjadi holocaust, dan menganggap itu adalah di antara hukuman Tuhan atas dosa-dosa mereka. Di saat yang sama, mereka mengutuk dan menolak ketika holocaust dijadikan propaganda bagi Zionis untuk melegitimasi berdirinya “Negara Israel” di tanah orang lain.  

Mereka-lah yang secara gigih dan radikal menentang seluruh upaya Zionisme mendirikan negara illegal karena bagi mereka hal itu menyelisihi dengan gamblang kehendak Tuhan dan hukum-hukum Taurat dan Talmud. Di Tel Aviv, di New York, di London, gerakan mereka sama, memperjuangkan kemurnian agama Judaisme yang telah dirusak oleh Zionisme. Mereka adalah golongan Yahudi yang menerima nasib tragis mereka yang terasing dan terusir dengan keyakinan suatu saat mereka akan hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa di negeri Palestina ketika sang messiah muncul.

Mereka yang oleh Zionis sebut sebagai ekstrimis dan fundamentalis itu, adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk mempelajari kitab-kitab keagamaan mereka dan di saat yang sama mereka berjuang, melawan, dan berdoa akan kehancuran Zionisme yang telah membajak agama Judaisme demi kepentingan sekuler, materialistik, dan imperialistik mereka. Adalah sebuah fakta, bahwa Zionisme itulah pengusung ekstrimisme sebenarnya dengan tanah bersimbah darah, dan semua itu mereka lakukan atas nama Judaisme, dan ironisnya, semua itu mereka timpakan pada kelompok yang berseberangan dengan mereka

.

Dalam sebuah wawancara di stasiun TV berita, Press TV, di tahun 2013 saat peringatan International Quds Day, Rabbi Dovid Feldman mewakili Neturei Karta mengatakan di hadapan seorang Zionis di uung telpon, bahwa adalah sangat menyakitkan bagi seorang Yahudi di seluruh dunia menyaksikan tindak-tanduk Zionisme dianggap mewakili ajaran Judaisme dan merepresentasikan kaum Yahudi. Ia menyeru agar Yahudi mengembalikan semua yang dirampas dari rakyat Palestina dan setelahnya mengajak Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup damai berdampingan, yang berarti kaum Yahudi tidak keberatan hidup di Palestina sebagai status “menumpang” sebagai bagian dari hukuman diaspora dari Tuhan. Neturei Karta begitu giat dan lantang mengklarifikasi kepada dunia bahwa Zionisme tidaklah mewakili apapun dari Judaisme. Sebaliknya, apa yang Zionisme usung dan lakukan justru bertolakbelakang terhadap ajaran Judaisme yang otentik.

Apakah Zionisme mewakili Judaisme? Jawabannya adalah tidak. Dan apakah seluruh Yahudi adalah Zionis? Jawabannya adalah tidak. Dan apakah Zionisme berakar dari ajaran agama Yahudi? Jauh sekali dari agama Yahudi, tanpa menafikkan bahwa agama Judaisme saat ini tidaklah mendapat tempat yang sama sebagaimana di zaman Nabi Musa alaihissalam. Dan apakah konflik Palestina adalah konflik agama? Ya, ia adalah konflik agama antara sekulerisme, imperialisme, dengaan Judaisme.

Wallahu A’lam.

Wisnu Tanggap Prabowo

  1. The Tragic Irony. Misusing the Holocaust for Political Agenda – The State of Israel Hijacks a Jewish Tragedy. Neturei Karta International. Berlin, Januari 2014.
  2. Neturei Karta. Jewish Virtual Library. https://www.jewishvirtuallibrary.org/neturei-karta-2
  3. What is the Neturei Karta? Neturei Karta International – Jeiwsh United Against Zionism. https://www.nkusa.org/AboutUs/index.cfm
  4. Ultra-Orthodox & Anti-Zionism. My Jewish Learning.
  5. Haredi Judaism. https://en.wikipedia.org/wiki/Haredi_Judaism#History
  6. Anti Zionism is Not Anti Semitism. Neturei Karta International. Dublin, 2011.
  7. Anti-Zionisme Rabbi Debating Zionist on TV – Neturei Karta, Youtube. 9 Agustus, 2013.
  8. Ultra-Orthodox Men Hold Up Plane Refusing to Sit Beside Women. Times of Israel. https://www.timesofisrael.com/ultra-orthodox-men-again-hold-up-plane-refusing-to-sit-beside-women/
  9. Jewish Bible

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s