Antara Tauhid Dan Monoteisme (Bagian-2)

Sebagai pembanding, berikut perincian monoteisme mengacu pada pada uraian Dr. Winfried Corduan, professor emeritus dalam studi perbandingan agama di Taylor University, Indiana, AS [11]:

1. Tuhan dalam konsep monoteisme adalah tuhan yang personal (personal god).

Tuhan personal adalah konsep tentang tuhan yang menganggap tuhan sebagai The Other, yang berbeda dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta dan terkadang digambarkan anthropomorphosis. Anthhropomorphosis adalah keyakinan bahwa tuhan menyerupai manusia, misalnya tuhan memiliki emosi manusiawi dan terkadang menyerupai makhluknya dalam bentuk [12].

Artinya, tuhan memiliki sifat sebagaimana manusia meski tuhan juga transenden, yakni melampaui apa yang terlihat. Tuhan personal adalah tuhan yang “jauh dan berjarak” dari manusia dan mustahil difahami manusia hakikatnya.

Budi Munawar Rahman mendefinisikan tentang tuhan personal, bahwa ia adalah pandangan yang menyatakan bahwa tuhan seperti manusia dalam artian memiliki kepribadian [13]. Tuhan personal sering dikaitkan dengan konsep tuhan dalam turunan agama Ibrahim (Abrahamic Faiths) yang dipahami secara tekstualis dan literer.

Konsep personal god monoteisme ini memang terdapat juga sebagian kesamaan dengan tauhid, yakni Allah Memiliki Sifat seperti Murka, Takjub, Cinta, Pengasih, Melihat, Mendengar, Mengetahui, Membenci dan selainnya. Akan tetapi semua Sifat Allah itu sama sekali berbeda dengan sifat manusia dimana manusia juga bisa murka, takjub, mencintai, mengasihi, melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, dan mengetahui dengan pengetahuan serba terbatas.

Allah tidak sama dengan manusia dan Dia melampaui segala sesuatu. Kesamaan penyebutan secara bahasa tidak menuntut kesamaan hakikat.

Seorang laki-laki badui yang melihat dengan matanya tidak sama dengan Sifat Allah yang Maha Melihat. Cinta seorang ibu kepada anaknya tidak sama dengan kecintaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin. Menyamakan antara sifat manusia dengan Sifat Allah justru mencederai tauhid itu sendiri, yakni dalam tauhid Asma wa Shifat.

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya,” [QS. Asy-Syuura: 11].

Meski ia memiliki kemiripan dengan tauhid Asma wa Shifat (Nama dan Sifat Allah) bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki Nama dan Sifat berupa Sifat Maha Pengasih, Penyayang, Pemaaf, Mengetahui, Malu, Gembira, Heran, Syukur, namun kesemuanya berbeda dengan dengan sifat-sifat yang ada pada makhluknya atau apapun yang terlintas dalam pikiran manusia.

Manusia dapat mengenal Allah melalui wahyu yakni Al Quran dan Assunnah dimana Nama dan Sifat-Nya diterangkan di dalamnya. Keduanya membatasi akal manusia untuk berjalan terlalu jauh dalam memahami tentang Allah.  Maka, memikirkan Dzat Allah adalah mustahil dan jika dipaksakan maka kesimpulan apapun akan berujung pada kesalahan dan berkonsekuensi terhadap keimanan seorang muslim. Namun manusia dapat mengenal Allah melalui Ciptaan-Nya dengan cara tafakkur dan tadabbur.

2. Monoteisme menurut Dr Winfried Corduan cenderung menyematkan tuhan dengan kualitas maskulin.

Dalam gramatika bahasa arab, Allah memiliki dhomir muzakkar (kata ganti untuk benda maskulin). Ini hanyalah tradisi bahasa Arab, bahasa yang Allah Turunkan Al Quran dengan-Nya. Hal ini sama sekali tidak merepresentasikan bahwa Allah memiliki gender, Maha Suci Allah dari segala penyerupaan dengan makhluk-Nya. Tidak ada satupun ulama bahkan di kalangan selain mereka yang menisbatkan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah laki-laki oleh sebab dhamir-nya menunjukkan demikian. Hal ini sebagaimana dalam terjemahan Al Quran berbahasa Inggris untuk tuhan yakni “He – Him” ketimbang “She- Her”. Ia tidak berarti bahwa Allah adalah “father” misalnya.

3. “Syarat” bagi tuhan agama monoteisme adalah tuhan harus menetap di langit untuk membedakan dengan konsep tuhan dalam politeisme, animisme, manisme dan selainnya.

Adapaun dalam tauhid, Allah beristiwa di atas Arsy. Sejatinya istiwa tidak memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia meski seringkali diterjemahkan dengan bersemayam. Namun secara global, Allah berada di atas langit dan ini ditunjukkan dalam Al Quran dan hadis-hadis Nabi, dalil yang menunjukkan hal ini begitu banyak dan jelas.

4. Tuhan monoteisme memiliki kekuatan dan pengetahuan yang Besar.

5. Menciptakan Dunia.

6. Yang Menulis kitab-kitab suci.

Al Quran merupakan kalamullah, perkataan Allah. Ia bukanlah makhluk melainkan ia adalah perkataan yang merupakan bagian dari Shifat Allah.

7. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan.

8. Manusia teralineasi dari tuhan tatkala manusia tidak patuh aturan-aturan-Nya.

9. Corduan mengatakan bahwa Tuhan menyediakan metode-metode untuk mengatasi keterasingan manusia dari Tuhan (alienasi) dengan memerintahkan untuk mempersembahkan hewan-hewan di atas altar batu yang tidak dipahat.

Ini adalah keyakinan Ahli Kitab bahwa tuhan-lah yang memerintahkannya. Dalam Exodus 20:24 dikatakan, “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa, ‘Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan kobran keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu.”[14]

Tidak ada keterangan dari Al Quran dan Assunnah mengenai altar atau mezbah ini. Andaikata ia memang benar merupakan bagian dari syariat Nabi Musa sekalipun, maka seluruh syariat-syariat terdahulu sudah tergantikan setelah Allah Mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kecuali sebagian dari syariat umat terdahulu yang memang ditetapkan oleh Islam sebagai bagian dari syariat Islam.

Suatu ketika Umar radhiallahuanhu memegang lembaran taurat. Kemudian Rasulullah bersabda,

“Apakah engkau merasa ragu, wahai Umar bin Khaththab? Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka kabarkan yang benar, namun kalian mendustakan. Atau mereka kabarkan yang bathil, kalian membenarkannya. Demi yang diri Muhammad berada di tanganNya, seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku”[15].

Setelah merunut kaidah-kaidah monoteisme, di bawah ini adalah keyakinan atau“isme –isme” lainnya dalam teologi. Kesemuanya tidak kompatibel dengan tauhid:

Politeisme. Ia adalah keyakinan adanya banyak tuhan terlepas mereka menyembah semua, sebagian atau salah satu dari tuhan-tuhan itu.

Hal ini menyelisihi tauhid. Allah berfirman:

“Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada tuhan yang hak untuk disembah melainkan Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia. Dia Pemelihara segala sesuatu.” [QS. Al An’am: 102].

Deiteisme. Ia adalah penyembahan kepada dua tuhan.

Hal ini menyelisihi tauhid:

“Dan Allah berfirman, ‘Janganlah kamu menyembah dua tuhan, hanyalah Dia Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” [QS. AN Nahl: 51].

Triteisme. Ia adalah keyakinan adanya tiga tuhan.

Hal ini menyelisihi tauhid. Allah berfirman

“Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa.” [QS. Al Maidah: 72].

Henoteisme. Ia adalah praktek penyembahan satu tuhan namun meyakini adanya sesembahan-sesembahan lain yang tidak sekuat “tuhan utama” meski yang lain itu tidak di sembah.

Hal ini menyelisihi tauhid. Allah berfirman,

“Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan lain bersama-Nya, (sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” [QS. Al Mu’minun: 91].

Animisme dan Magisme. Karena ia meyakini benda-benda alam memiliki ruh dan kekuatan, maka ia tak ubahnya seperti politeisme.

Hal ini menyelisihi tauhid. Allah berfirman,

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) seperti kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika memang kamu orang-orang yang benar.

Star Myth. Ia meyakini bahwa benda-benda langit memiliki kekuatan dan oleh sebab itu disembah.

Hal ini menyelisihi tauhid. Allah berfirman,

“Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang Menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” [QS.Fushilat: 37].

Manisme. Ia meyakini ruh manusia yang sudah wafat memiliki kekuatan dan kekuasaan. Apa yang mereka yakini sebagai arwah manusia yang telah wafat ketika menampakkan diri ke hadapan manusia adalah golongan jin.

“Dan mereka menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang Menciptakan jin-jin itu,” [QS. Al. An’am: 100].

Fetisisme dan Dinamisme. Ia meyakini adanya kekuatan sakti dalam benda tertentu seperti jimat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah, maka ia telah berbuat syirik.” [HR. Ahmad][16]

Teori kemunculan agama menurut Marxisme.

Terakhir, Marxisme merupakan faham yang menafikkan eksistensi tuhan. Ia adalah faham yang mengingkari fitrah manusia untuk bertuhan serta mengingkari nalar yang sehat terlebih lagi berdasarkan Al Quran dan Assunnah.

***


Wallahu A’lam.


Wisnu Tanggap Prabowo

[11]The Origin of Man’s Religions: Evolutionary Artifact or Remnants of Knowing Our Creator. Probe.org.

[12] Wikipeda, Personal God.

[13] Tuhan Personal dan Tuhan Impersonal. hminews.com

[14] Sabda.org. Exodus 20:24.

[15][HR Ahmad, III/387; ad Darimi, I/115; dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah, no. 50, dari sahabat Jabir bin Abdillah. Dan lafazh ini milik Ahmad. Derajat hadits ini hasan, karena memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Lihat Hidayatur Ruwah, I/136 no. 175]

[16] Hadis qowiy (kuat) menurut Syuaib al Arnauth. Albani mengatakan hadis ini shahih dalam Ash Shohihah, 492)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s