Antara Tauhid Dan Monoteisme (Bagian – 1)

Inklusivitas Yunani

Monoteisme berasal dari bahasa Yunani, yakni gabungan dua kata; monos (satu) dan theos (tuhan). Istilah ini pertama kali digunakan oleh Henry More di abad 17 M. Monoteisme artinya satu tuhan, atau ide tentang tuhan yang satu, yang menciptakan dan penguasa mutlak alam semesta [1]. Monoteisme merupakan konsep barat mengenai doktrin penyembahan satu tuhan. Dalam beberapa konteks, monoteisme digunakan ke dalam tauhid dengan imbuhan kata sifat “Islamic” di depannya menjadi Islamic monotheism khususnya dalam literasi terjemahan ke dalam Bahasa Inggris.

Dari sisi bahasa, istilah Islamic Monotheism diterima oleh para ulama kontemporer dan digunakan dalam karya-karya ilmiah mereka di dunia barat atau dalam penyesuaian kepada konteks dan audiens [2]. Secara definisi, memang tauhid dan monoteisme sama-sama menolak penyembahan kepada lebih dari satu Tuhan. Keduanya juga menolak praktek untuk tidak meyakini dan menyembah kepada tuhan sama sekali (ateis). Namun perbedaan di antara keduanya pun fundamental.

Monoteisme adalah istilah untuk membedakan dirinya dari politeisme, yakni penyembahan terhadap banyak tuhan [3], dan berbagai variannya. Namun definisi ini terlalu simplistik jika diterapkan ke dalam agama-agama, terkhusus Islam dengan tauhid-nya yang “unik”. Tauhidullah memiliki metode dan syarat khusus yang telah para ulama rumuskan berdasarkan Al Quran dan hadis-hadis Nabi. Meski ijtihad dalam merumuskan metode dan syarat-syarat tauhid terkadang sedikit berbeda, namun semuanya merujuk pada dua sumber utama dalam Islam tersebut.

Monoteisme bukanlah istilah yang lahir dari perbendaharaan kosakata Arab, terminologi syariat Islam, atau ijtihad para ulama terdahulu. Monoteisme merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani, sebuah peradaban yang turut membentuk peradaban barat. Monoteisme adalah konsep yang juga disematkan oleh Yahudi dan Nasrani serta agama-agama lain seperti Zoroastrianisme, dan Bahaisme. Meski antara tauhid dan monoteisme secara memiliki kesamaan definisi, yakni menetapkan bahwa sesembahan itu satu saja, namun dalam koridor tauhidullah ada batasan tegas antara keduanya.

Tidak seperti tauhid yang ekslusif, monoteisme bersifat inklusif; selama ia menyembah satu tuhan yang biasanya di tetapkan atas langit meski berupa matahari sekalipun maka ia bersifat monoteistik. Inkuslivitas monoteisme maksudnya adalah ia bersifat terbuka, menerima, dan mengakui nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari luar di­rinya selama tidak keluar dari penetapan satu sesembahan. Dalam tauhid, meyakini Keesaan Allah dan pengakuan tidak ada tuhan-tuhan lain selain Allah belumlah mencukupi. Sebab, di sana ada tuntutan untuk memberikan peribadatan hanya kepada Allah saja, sekaligus mengimani seluruh Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya, termasuk pengingkaran bahwa Allah serupa dengan segala sesuatu.

Monoteisme menurut Britannica Encyclopaedia memiliki masalah serius. Masalah itu adalah pandangannya mengenai adanya kebaikan dan keburukan di dunia yang juga diciptakan oleh tuhan. Artinya, monoteisme digugat karena kehendak tuhan yang dianggap saling berlawanan; bagaimana mungkin asal-muasal kejahatan di alam semesta pun berada di bawah kekuasaan tuhan [4]? Maksudnya adalah bagaimana mungkin tuhan yang diyakini baik oleh penganut monoteisme ternyata ternyata juga menciptakan keburukan dan kejahatan di dunia ini.

Argumen penganut ateisme pun senada, yang kira-kira tersusun seperti ini:

Tuhan itu baik.

Tuhan menciptakan dunia dan segalanya.

Namun di dunia banyak keburukan yang dilakukan kaum beragama.

Maka, tuhan itu tidak mungkin ada.

Sebab jika tuhan mutlak baik, maka seharusnya tidak ada keburukan.

Islam tidak memiliki masalah seperti yang diutarakan Britannica Encyclopaedia atau terjebak dalam logika dangkal di kubangan fallacy semisal di atas.

Dalam akidah Islam, Allah memiliki kehendak Kauniyyah dan Syar’iyyah. Kehendak Kauniyyah adalah kehendak yang meliputi seluruh manusia, baik ia muslim atau selainnya.

“…Dan apabila Allah Menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya…” [QS Ar Ra’du: 11].

Kemudian Allah memiliki kehendak Syar’iyyah Diiniyyah, yakni kehendak yang mencakup kecintaan dan ridha-Nya.

“…Allah Menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak Menghendaki kesukaran bagimu…” [QS. AL Baqoroh: 27].

Juga Firman-Nya:

“Dan Allah hendak menerima taubatmu…” [QS. An Nisaa: 27].

Kehendak Kauniyyah adakalanya disukai Allah dan diridhai-Nya, namun adakalanya tidak disukai dan tidak diridhai-Nya. Contohnya adalah penciptaan Iblis. Allah Menciptakan Iblis meski kemudian ia membangkang. Ini adalah Kehendak Allah juga namun pembangkangan dan komitmen Iblis untuk menyesatkan manusia bukanlah sesuatu yang disukai-Nya.

Selain itu, dalam penciptaan Iblis dengan segala tipu dayanya yang lemah mengandung hikmah yang besar. Pada akhirnya, penciptaan Iblis memberi manfaat bagi manusia agar mereka bertaubat, agar mereka ingat akan Nikmat Allah dan seterusnya.

Sedangkan kehendak Syar’iyyah adalah kehendak yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Allah menciptakan keburukan melalui Iblis agar manusia dapat mengerjakan amalan yang dicintai oleh-Nya seperti taubat dan istighfar.

Penciptaan Iblis ini adalah kehendak Kauniyyah namun ketika manusia terjatuh pada jeratan Iblis dalam melakukan dosa kemudian mereka bertaubat dan beristighfar, maka dua amalan itulah di antara amalan yang dicintai Allah yang juga termasuk Kehendak Syar’iyyah-Nya.

Kehendak Syar’iyyah ditujukan untuk dzatnya itu sendiri, sebab Allah mencintai amalan shalih dan mencintai amalan shalih hamba-hamba-Nya, serta mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya.

Singkatnya, tidak ada satupun keburukan dalam pandangan manusia yang tidak mengandung kebaikan di Sisi Allah, dan seluruh kebaikan itu semua datang dari Allah. Oleh karenanya, Allah hanya dinisbatkan dengan kebaikan, sedangkan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Nya.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. Asy Syuraa: 30].

Ekslusivitas Tauhid

Usai dengan uraian mengenai monoteisme di atas, selanjutnya kita masuk ke dalam konsep tauhid.

Secara bahasa tauhid artinya menjadikan sesuatu itu satu. Ia adalah derivasi tiga kata bahasa Arab, wa-ha-da, membuat satu. Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam penciptaan, pengaturan, ikhlas beribadah kepada-Nya, menetapkan bagi-Nya nama-nama dan Sifat-Sifat-Nya, dan mensucikan Allah dari kekurangan dan cacat [5].Tauhid juga memiliki keterikatan kuat dengan Rukun Iman dan Rukun Islam.

Tauhid memiliki tiga metode yang para ulama rumuskan untuk memudahkan dalam pemahaman dan pengamalan tauhid (sebagian ulama merumuskan metode ini menjadi dua dan empat). Ketiga metode sebagian ulama yang penulis pilih yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Asma wa Shifat.

TauhidAr Rububiyah. Ia mengeesakan Allah Azza wa Jalla dalam segala perbuatan-Nya dengan meyakini Dia sendiril-ah yang Menciptakan seluruh makhluk [6], memelihara, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mengatur segala sesuatu.

“Allah Menciptakan segala seuatu.” [QS. Az Zumar: 62].

“Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya.” [QS. Al A’raf: 54].

“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah Menahan rezeki-Nya?” [QS. Al Mulk: 21].

“Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu,” [QS. Al Baqoroh: 22].

Mayoritas sekte Syiah, kecuali Zaidiyah di Yaman di suatu masa, menyematkan para imam mereka sifat-sifat ilahiah. Para imam itu mereka yakini memiliki kesempurnaan, pengetahuan tentang masa lalu, masa depan dan apa yang tak terlihat, kemampuan mengubah takdir dan mengendalikan penciptaan. Mereka telah menyandingkan para imam mereka dengan Allah, bahkan para imam adalah tandingan-tandingan Allah [7].

Tauhid Al Uluhiyah. Kemudian dengan mengimani bahwa Allah adalah Rabb semesta alam dengan kekuasaan tak terbatas, Pencipta, Pemelihara, Pemberi kehidupan dan mematikan (tauhid Ar Rububiyah), maka ia menuntut pada konsekuensi lainnya bahwa hanya Allah saja-lah yang berhak untuk diibadahi dan tidak berhak menerima segala bentuk ibadah kepada selain Allah.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz Dzariyat: 56].

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk, ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu,” [QS. An Nahl: 36].

“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah (yang hak) bagimu selain-Nya,” [QS. Al A’raf: 59, 65, 73, 85].

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” [QS. An Nisa: 36].

Tauhid Asma wa Shifat. Tauhid Asma (Nama) dan Shifat (sifat) adalah mengimani Nama-Nama Allah dan Sifat-Sifat-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran dan Sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sifat-sifat itu ditetapkan sebagai mana adanya tanpa mengubah sesuatu Sifat Allah kepada maknanya yang lain (ta’wil),menolak sesuatu dari Sifat-Sifat Allah (ta’thil), membayangkan dan memikirkan secara mendalam (takyif), dan memberi perumpamaan Allah dengan sesuatu yang lain(tamsil) [8].

Tauhid ini menuntut keimanan total atas semua Sifat-Sifat Allah yang Allah Sifatkan Dirinya sendiri berdasarkan Al Quran dan Assunnah serta larangan untuk menggunakan akal dalam merubah, menolak, membayangkan, dan memberi perumpamaan terhadap seluruh Nama dan Sifat Allah.

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Melihat.” [QS. Asy Syura: 11]. 

Sufyan Ats Tsauri berkata, “Ia [Nama dan Sifat Allah] sebagaimana disampaikandalam nash [Al Quran dan Assunnah], kita menetapkannya dan membicarakannya tanpa bertanya bagaimana.”[9]

Seluruh ketiga metode dalam memahami tauhidullah (men-tauhid-kan Allah) ini saling berkaitan satu dengan lainnya. Jika salah satunya gugur, maka yang lainnya akan tumbang sebagaimana kaum jahiliah pra Islam di Makkah dimana mereka meyakini bahwa Allah, Tuhannya Ibrahim, adalah Pencipta dan Pengatur segala sesuatu, namun di saat yang sama mereka juga menyembah ratusan patung, di antaranya Latta dan Uzza, untuk lebih mendekatkan lagi kepada Allah.

Allah berfirman: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [Az-Zumar: 3]

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” [QS. Az-Zukhruf: 87]

Mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”.[Yunus: 18]

Oleh sebab itu perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana disebutkan di atas tidaklah selaras dengan tauhid.Tauhid merupakan istilah dan konsep yang sangat spesifik melalui syarat-syarat yang telah dirumuskan oleh ulama [10], yakni:

Pertama, ilmu. Seseorang wajib mengilmui apa yang dituntut dari kalimat ini, yakni penetapan dan pengingkarannya. Dimulai dari pengingkaran (nafi’) laa ilaaha lalu disusul dengan penetapan (itsbat) illallaah.

Kedua, yakin. Seseorang wajib meyakini tanpa keraguan sedikit pun.

Ketiga, penerimaan – tidak menolak. Menerima kalimat la ilaaha illalllah.

Keempat, kepatuhan terhadap kalimat ini dengan tidak melanggarnya.

Kelima, jujur. Lidah yang mengucapkan benar-benar merefleksikan keyakinan dalam hatinya.

Keenam, ikhlas.

Ketujuh, cinta. Mencintai kepada orang-orang yang mengamalkan kalimat tauhid ini. Agama Nasrani dan Yahudi termasuk ke dalam agama monoteisme. Namun monoteisme tidak seluruhnya kompatibel dengan Islam, sebab, di antara perbedaan mendasar antara monoteisme dan tauhid di antaranya adalah dalam penyembahan kepada Tuhan. Selain mengakui Allah adalah Satu dan satu-satunya, tauhid menuntut penyembahan hanya kepada Allah tidak selainnya sebab Dia tanpa sekutu dalam bentuk apapun.

Bersambung, Insya Allah.


Wallahu A’lam.


Wisnu Tanggap Prabowo

[1] Abdurezak H. Hashi. Between Monotheism and Tawhid: A Comparative Analysis. Department of Biotechnology, Kulliyyah of Science,International Islamic University Malaysia, 2013.

[2] Dr Abu Ameenah Bilal Philips menulis buku berjudul ‘The Fundamentalism of Tawheed (Islamic Monotheism)”. Dalam situs-situs fatwa sebagaimana islamqa.info dan islamweb.net juga digunakan istilah Islamic monotheism. Dalam berbagai ceramah di negara-negara barat pun istilah monotheism kerap digunakan.

[3]Britannica Encyclopaedia. Monotheism. https://www.britannica.com/topic/monotheism.

[4] Ibid.

[5] Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan. Kitab Tauhid. Penterjemah: Syahirul Alim al-Adib, Lc. Ummul Quro, Jakarta, 2014. Hal,13.

[6] Ibid.

[7] Dr Abu Ameenah Bilal Philips. The Fundamentals of Tawheed. Riyadh, KSA, International Islamic Publishing House, 2nd edition, 2005. Hal, 30.

[8] Ibid. Hal, 71.

[9] Ibthal at-Ta’wilat, hlm, 47

[10] Ketujuh syarat ini dirumuskan oleh syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami melalui syairnya Sullamul Wushûl ilaa ‘Ilmil Ushûl. Lihat https://almanhaj.or.id/6615-syaratsyarat-la-ilaha-illallah.html. Akses 15-9-2018. Akses 12.15 PM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s