Jawara Gerbang Udara Kemajoran

Syahdan, di sebuah wilayah di Batavia, hiduplah seorang pemuda taat beribadah dan tekun menuntut ilmu bernama Murtado. Ia juga masyhur dengan ilmu silatnya yang tinggi. Murtado hidup di tengah kezaliman dan penindasan centeng-centeng penjajah Belanda, begitu narasi yang menggambarkan konteks kisah ini.

Suatu ketika saat musim panen tiba, warga suatu kampung diteror oleh kehadiran jawara dari kampung lain bernama Mandor Bacan yang hendak merampas hasil panen penduduk di tempat Murtado bermukim. Melihat kesewenangan ini, bangkitlah Murtado untuk membela hingga terjadilah duel epik antara Murtado dan Mandor Bacan.

Ternyata Mandor Bacan kewalahan meladeni jurus silat Murtado. Bacan akhirnya mundur dan meminta bantuan dari seorang petarung lainnya, seorang centeng Belanda bernama Bek Lihun. Meskipun tidak seimbang, pertarungan dua lawan satu pun antara kolaborasi pribumi – penjajah melalui Bacan dan Bek Lihun kembali dimenangkan oleh Murtado. Duel inilah yang membuat nama Murtado tersohor ke pelosok Batavia. Ia kemudian dijuluki sebagai “Macan Kemayoran”.

Kemayoran, sebagaimana mayoritas wilayah Batavia dahulu, merupakan hutan dan semak belukar. Pada tahun 1929 pihak militer Belanda membangun komplek perwira di kawasan Jalan Garuda. Para perwira yang menghuni kamp-kamp tersebut sebagian besarnya berpangkat mayor. Ini salah satu pendapat mengapa wilayah ini disebut Kemajoran oleh penduduk sekitar.

Namun sedikit sekali peristiwa-peristiwa sejarah yang disepakati mutlak oleh sejarawan. Lazimnya, akan ada versi lain yang mengklaim otentisitas, termasuk mengenai asal-muasal penamaan Kemayoran.

Dalam versi sejarah yang dikeluarkan Belanda, nama Kemayoran diambil dari nama seorang perwira VOC berpangkat Mayor berkebangsaan Perancis, Isaac de Saint Martin. Majeur Saint Martin ini pernah terlibat dalam sebuah pertempuran antara VOC Mataram melawan Pangeran Trunojoyo di Jawa Tengah. Majeur Saint Martin bahkan berperang hingga ke wilayah Jawa Timur.

Namun yang menjadikan nama sang Mayor diabadikan ke dalam sebuah kawasan di Batavia adalah major battle melawan Sultan Agung Tirtayasa. Saat itu Majeur Saint Martin menjalin persekutuan dengan Sultan Haji, anak dari Sultan Agung Tirtayasa.

Terlepas keberagaman versi, Kemayoran mencatat kegemilangan sejarahnya sendiri di dunia aviasi. Gaung Kemayoran semakin mendunia tatkala di sana berdiri sebuah bandar udara internasional pertama di tanah air. Di masanya, ia merupakan salah satu bandara terbesar di belahan timur bumi, seperti yang ditulis oleh sebuah majalah Belanda terbitan tahun 1940, Het Motorverkeer.

Sayangnya tidak begitu jelas kriteria apa dijadikan parameter penghargaan “bandara terbesar” ini. Besar kemungkinan publikasi ini sejatinya untuk mengukuhkan kejayaan aviasi Kerajaan Belanda yang memang sudah tersohor dengan KLM, Fokker, dan penerbangan long haul fenomenalnya dari Amsterdam ke Cililitan.

Bandara Kemayoran di zamannya telah menggunakan perangkat sound system buatan manufaktur Phillips untuk menopang operasionalnya, sebuah teknologi yang jarang ditemui di kebanyakan bandara di wilayah Asia. Selain itu, Bandara Kemayoran juga mengoptimalkan teknologi penerangan di sepanjang landasan pacu (runway lights). Padahal tidak semua bandara pada saat itu menggunakan perangkat ini. Hanya bandara-bandara besar di Eropa saja yang menggunakannya.

Runway lights dimaksudkan untuk memudahkan pilot untuk mendaratkan pesawat dengan akurasi seoptimal mungkin khususnya dalam sejumlah kondisi tertentu. Perangkat lampu ini memiliki lebar 50 meter dan panjang 800 meter. Selain bandara-bandara besar di Eropa dan di Amerika, Kemayoran adalah satu-satunya bandara di belahan timur yang menggunakan infrastruktur tersebut.

Bandara Kemayoran diresmikan pada tanggal 8 Juli 1940, setahun setelah meletusnya Perang Dunia II. Namun, pengoperasian perdana dimulai dua hari sebelumnya, dimana pada tanggal 6 Juli di tahun yang sama, roda-roda pesawat Douglas DC-3 Dakota milik maskapai Belanda KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij) menyentuh tanah Kemayoran. Pesawat itu singgah beberapa hari sebelum bertolak ke Australia.

Ini adalah pendaratan pertama sekaligus pesawat perdana yang lepas landas dari Kemayoran. Di hari peresmiannya, KNILM memamerkan sejumlah armada pesawatnya yakni DC-2 Univer, DC-3, Fokker VIIb 3m dan Lockheed L-14 Super Electra.

Ketika Era Keemasan Aviasi di Amerika (The Golden Age of Aviation) berakhir pada tahun 1939, pecahnya Perang Dunia II memaksa industri penerbangan Amerika dan Eropa rehat sejenak. Seluruh aset, sumber daya, teknologi, inovasi, dan tenaga kerja dialihkan ke produksi masal pesawat militer. Barulah di medio 50-an industri aviasi komersial dunia kembali menggeliat seiring lahirnya era jet komersial, tak terkecuali di Indonesia.   

Sejumlah pesawat jet komersial generasi pertama rutin hinggap di Kemayoran. Di antaranya adalah pesawat-pesawat legendaris seperti Grumman G-21 Goose, Lockheed Constellation, Boeing 377 Stratocruiser, Boeing 707, 747-200, Convair 880, Douglas DC-8, Douglas DC-10, Airbus A300B4 serta Douglas DC-9. Jawara-jawara terbang itu mengangkasa dengan corak warna dan nama yang berbeda, semisal Lufthansa, Qantas, UTA French Airlines, Pan Am, KLM, Japan Airlines (JAL) dan Aeroflot.

Imperial Japanese Navy mengambil alih bandara ini di tahun 1942. Beberapa pesawat legendaris IMJ yang pernah singgah di antaranya adalah  Mitsubishi A64M Zero, Showa/Nakajima L2D, Tachikawa Ki-9 dan Ki-36. Setelah kemenangan AS di darat dan udara memaksa IMJ minggat, Kemayoran disinggahi pesawat-pesawat buatan AS dioperasikan oleh NICA semisal B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

Ketenaran Bandara Kemayoran tidak hanya berputar di milestone sejarah aviasi namun juga merambah ke budaya popular. Dalam sebuah cerita komik The Advantures of Tintin di edisi ke-20, sang penulis Georges Prosper Remi, atau dikenal dengan juga Hergé, mengilustrasikan kisah petualangan Tintin bersama Captain Haddock dan Professor Calculus. Saat mereka melakukan perjalanan dari Eropa menuju Sydney menggunakan Boeing 707 milik Qantas, pesawat jet bermesin empat tersebut berhenti di Kemayoran untuk mengisi bahan bakar.

Setelah perhelatan Indonesian Air Show perdana pada bulan Juni 1986, sinar bandara ini seketika redup. Semakin meningkatnya volume penumpang dan jumlah pesawat yang beroperasi, memaksa Bandara Kemayoran untuk berhenti beroperasi dan menyerahkan tugas menjadi gerbang Indonesia kepada Soekarno Hatta International Airport.

Bekas wilayah bandara Kemayoran kini mengerikan. Bukan karena kurafat mengenai hantu bergentayangan di wilayah itu; yang lebih menakutkan adalah ketidak-pedulian terhadap nilai-nilai sejarah bangsa. Bukan saja terhadap bangunan fisik semata, namun hikmah pembelajaran bahwa akan selalu ada orang-orang yang berkolaborasi dengan penjajah di setiap zaman. Dalam kasus Murtado perkaranya lebih mudah, sebab, para penjajah dan para pendukungnya dapat dibedakan dalam arena pertarungan meski dalam banyak kasus, membedakan mana lawan atau kawan tidaklah sesederhana itu.

Murtado, Bek Lihun, Mandor Bacan, dan Majeur Saint Martin menunjukkan bahwa sejak dahulu, konflik di negeri ini selalu berdimensi transkontinental.

Kecenderungan ini masih terus berjalan hingga hari ini yang dibungkus dengan kemasan lain. Melalui kemasan yang “segar”, tentu akan menarik konsumen untuk membelinya bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s