Syubhat 101: Islam Dan Dewa Bulan (Klaim Sebagian Orientalis)

Bismillah

Ini adalah terjemahan, rangkuman, dan modifikasi dari sebuah klip di Youtube dari Dr Abdullah Umar Faruq. Modifikasi artinya penulis melakukan perubahan redaksional tanpa melenceng dari makna – semata-mata agar teks ini tetap singkat.

Penjelasan singkat ini merupakan jawaban dari pertanyaan peserta majlis yang menanyakan syubhat bahwa ALLAH adalah tuhan bulan, syubhat yang terus-menerus digaungkan para pengkritik Islam. Ada dua narasumber yang menjawab, pertama adalah Dr Abdullah Umar Faruq dan kedua Dr Hamza Yusuf, keduanya warga dan keturunan AS asli yang memeluk Islam berhaluan Sunni.

Terkait pertanyaan bahwa ALLAH adalah tuhan bulan (moon god), bahwa ALLAH adalah sesembahan kuno bangsa semit. Sepertinya tidak pernah ALLAH disebut dengan “Sin” [tuhan bulan], atau dengan nama lain selain ALLAH. Ada konsep trinitas di Yaman, yakni bintang Venus, Matahari, dan Bulan, dan itulah yang menjadi trinitasnya Babilonia. Di Babilonia sendiri ada dua konsep trinitas. Menariknya, di dalam Al Quran disebutkan trinitas ini pada kaum Nabi Ibrahim.

Trinitas Babilonia kemungkinan berasal dari Yaman. Sepengetahuan saya, tuhan bulan tidak pernah diseru dengan nama ALLAH, melainkan dengan “Sin” dan nama-nama lainnya. Adapun al laatta adalah feminisasi dari al ilaaha. Dan Anda dapat menemukannya dalam grammar bahasa Arab dan kaum muslimin. Menurut ahli bahasa Arab, Allah dan al ilaaha itu singular (mufrad) dan Allah atau al ilaaha tidak memiliki bentuk jamak dan bentuk jamak dari keduanya baru muncul belakangan.

Al Latta adalah feminisasi dari ALLAH. Al Latta adalah tuhan perempuan kuno yang kita temukan di Petra dan suku-suku semit di bagian utara. Ia bukanlah khusus milik orang-orang di Arabia saja. Terkait penggunaan gender, salah satu kaidah dalam tata bahasa Arab bawa gender maskulin (muzakkar) mencakup seluruhnya. Oleh karenanya ia gender tanpa gender. Terkadang gender feminin digukanan dalam penekanan hal-hal yang ada pada sifat kata benda itu. Namun ALLAH tidak memiliki konsep gender.

Ketika disebutkan HE dalam tata bahasa Inggris, ia bukan berarti HE dalam arti generik yang berarti maskulin atau laki-laki, juga dengan SHE yang bermakna perempuan. Adapun dalam bahasa Persia atau Urdu tidak ada dikenal konsep gender. Namun dalam bahasa semit kita memiliki perbedaan [gramatika] ini. Kita menggunakan pronoun maskulin namun kita tidak meyakini bahwa ALLAH itu bergender maskulin [Maha Suci Allah dari penyerupaan kepada makhluk – pent].

Dr Hamza Yusuf menimpali pemaparan Dr Abdullah Umar Faruq:

Masyarakat jahiliyah meyakini bahwa Allah adalah Tuhan di Langit dan mereka tidak memiliki konsepsualisasi akan ALLAH [menyerupakan dengan atribut yang lain]. Ini telah diketahui oleh mereka dan tidak ada satupun berhala merepresentasikan ALLAH. Bahkan mereka berkata kami hanya menyembah berhala-berhala sebagai wasilah untuk mendekat kepada ALLAH.

Konsep kita akan ALLAH adalah tidak bergender dan ini telah diketahui dan terdokumentasikan dengan baik.

Penyembahan tuhan bulan sudah ada di Ma’in, Hadramaut, Qataban, namun tidak ada satupun yang menggunakan ALLAH. [ Reply To Robert Morey’s Moon-God Allah Myth: A Look At The Archaeological Evidence – Islamic Awareness.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s