Columbus 1492 – Hoax Yang Mulai Usang

Apa yang kita dapati dalam pelajaran di bangku sekolah dahulu, dan dalam banyak media arus utama, ensiklopedia, bahkan dalam tayangan dokumenter dan film-film produksi barat adalah gambaran tentang Christopher Columbus sebagai orang pertama yang melakukan kontak dengan bangsa Indian di Amerika dari “dunia luar” tatkala ia merapatkan kapal-nya di San Salvador pada 12 Oktober 1492 M, sekaligus menjadi milestone peradaban Amerika. Klaim ini kemudian disanggah hebat oleh sebagian sejarawan barat sendiri.

We knew we were here

We were not discovered

.. ujar Hamzah Yusuf  dalam satu ceramahnya seakan mewakili suara hati penduduk asli Amerika.

Sejarah bangsa Indian Amerika dapat ditelusuri duapuluh ribu tahun sebelumnya, sebuah bangsa yang telah maju peradabannya dengan desain arsitekturnya yang kompleks dan megah seperti bangunan piramidanya, mereka memiliki sistem pertanian yang maju, memiliki bahasa yang beragam, sistem politik yang terstruktur, memiliki norma-norma dalam menjaga hak kaum hawa, serta telah terjadinya migrasi yang ekstensif[1] dan semua ini jauh sebelum Columbus datang “menemukan” Benua Amerika.

Termasuk yang paling mencengangkan adalah keyakinan agama bangsa Indian Amerika yang ternyata jauh dari “primitif” sebagaimana dikesankan barat. Bangsa Indian tidaklah seperti yang digambarkan dalam tayangan dokumenter atau film-film wild wild west selama ini, yakni sekumpulan orang setengah bertelanjang dengan karakter beringas sekaligus penyembah benda-benda alam. Bangsa Indian juga lekat dengan citra praktek sihir serta penyembahan terhadap arwah leluhur melalui ritual menghisap tembakau melalui pipa besar di kemah-kemah.

Cherokee

Bahkan, dari kesaksian seorang pendatang barat sendiri bernama Garrick Mallery, seorang pakar dari Smithsonian, mengatakan bahwa sistem agama suku-suku Indian Amerika sedemikian ter-struktur hingga dapat disejajarkan dengan kompleksitas sistem agama Yahudi dalam tatanan teokrasi Judaisme kuno. Baginya inilah yang sering diabaikan oleh para misionaris Kristen dan juga oleh para penjelajah barat.[2]

Contoh upaya penggiringan persepsi mengenai sejarah Amerika salah satunya terdapat dalam The American History edisi 1987 yang disusun berdasarkan survey tiga sejarawan AS, Richard N. Current, Harry Williams, dan Alan Brinkley.

Selama ribuan abad dimana ras manusia berevolusi, membentuk komunitas, dan memulai peradaban di benua Afrika, Asia, dan Eropa – [sementara itu] benua yang kita kenal dengan Amerika kosong dari umat manusia dan karya-karya mereka… kisah dari dunia baru ini, adalah kisah akan penciptaan peradaban dimana sebelumnya tidak pernah ada.”[3] Beberapa kalimat ini dengan tegas menafikkan keberadaan sekitar 75 juta penduduk asli benua yang mereka sebut Amerika itu, jumlah yang terlampau besar dan nyaris mustahil hidup tanpa adanya peradaban tersendiri.

Sebelum Christopher Columbus yang datang pada tahun 1492 M dari sebuah benua yang relatif miskin, primitif dibanding peradaban Islam, dan sedang merana oleh Zaman Kegelapan (The Dark Ages) bernama Eropa, di Benua Amerika sudah terdapat 75-100 juta populasi bangsa Indian dari berbagai suku yang menetap di seluruh wilayah benua Amerika, dari Alaska hingga Amazon. Ketika Columbus datang, terdapat sekitar 2.000 bahasa yang berbeda dimana 75% di antaranya digunakan di wilayah Amerika Selatan, sehingga Amerika memiliki keragaman bahasa yang lebih bervariasi dibanding gabungan seluruh negeri di benua Eropa[4].

Columbus mengira ia telah sampai di India, oleh sebab itu ia menamakan penduduk asli Amerika sebagai Indian. Dan di tahun 1492 M pula, di kampung halaman Columbus, kaum muslimin dan Yahudi di Andalusia disiksa, dibunuh, diusir, dan dipaksa meninggalkan agamanya melalui kebijakan Ratu Isabella dan Raja Ferdinand.

Bangsa Indian Sangat Religius           

Bangsa Indian adalah orang-orang yang sangat religius. Agama mereka adalah poros dari seluruh aktifitas kehidupan mereka. Seoerang bernama John James yang hidup di tengah-tengah suku Indian Chochtaw di Texas selama enampuluh tahun sampai mengatakan:

I claim for the North American Indian the purest religion, and the loftiest conception of the Great Creator, of any non-Christian religionthat has ever been known to this world…[5]

Saya bersaksi tentang kemurnian agama bangsa Indian Amerika Utara, dan keunggulan konsepsi tentang Sang Pencipta, dari agama non Kristen yang pernah ada di dunia ini.

Testimoni John James memang Nasrani-sentris, dan besar kemungkinan ia memiliki pengetahuan yang sangat minim tentang Islam sehingga mengatakan seperti apa yang ia katakan. Namun demikian, ucapannya John menunjukkan adanya sistem keagamaan  Indian Amerika yang matang dan telah mengakar dalam waktu yang sangat lama dan hampir sejajar dengan agama Kristen.

John James melanjutkan bahwa ia tidak menemukan di suku-suku Indian adanya konsep pendeta-pendeta, tidak ada berhala, tidak ada ritual sesajen… mereka langsung menyembah kepada tuhan mereka yang tidak terlihat[6].

Jika di dalam bingkai Hollywood bangsa Indian digambarkan sebagai penduduk asli yang beringas dan suka perang, pada tahun 1834, seorang tentara kulit putih berpangkat Kapten bernama Bonneville mengunjungi suku Nex Perces dan Flatheads dan menunjukkan hal yang bertolak-belakang. Dalam memoirnya ia menulis bahwa mereka sangat religius, kejujuran mereka begitu luhur, mereka memiliki tujuan yang murni, dan agama mereka seragam dan sangat menakjubkan.[7]

“Mereka lebih tampak seperti bangsa para orang suci ketimbang gerombolan orang-orang buas,” ujar Kapten Bonneville.[8]

Bangsa Indian adalah bangsa yang beradab dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bahkan dengan standar para misionaris sendiri.  Tom Newcomb, seorang yang tinggal di Sioux di bawah pimpinan Crazy Horse di tahun 1870-an, menulis:

“Aku katakan pada Anda bahwa aku tidak pernah melihat kebaikan atau nilai Kristiani di mana pun yang lebih baik selain di sini. Orang miskin, orang yang sakit, manula, para janda, dan para yatim piatu selalu mendapat perhatian prioritas. Kapan pun kita hendak memindahkan perkemahan kita, tenda-tenda para janda selalu dibongkar dan dipasang terlebih dahulu ketimbang selain mereka. Setiap selesai berburu, seonggok daging buruan selalu diletakkan di depan kemah-kemah yang paling membutuhkan makanan. Aku [Tom Newcomb] diperlakukan sebagai saudara. Aku katakan pada Anda bahwa aku tidak pernah menemukan komunitas gereja yang benar-benar seperti orang Nasrani sejati melainkan pada suku-suku Indian.”[9]

Bangsa Indian adalah bangsa yang paling disalahpahami dalam sejarah manusia, sebagaimana Islam menjadi agama yang paling sering disalahpahami di zaman ini. Tidak sebagaimana laporan para penjelajah Spanyol yang tiba di Karibia bahwa mereka bertemu orang-orang barbar menyerupai binatang, suku Arawaks dan Caribs di Karibia adalah kaum yang sangat sensitive yang bertolak belakang dengan anggapan barbar pendatang Eropa. Orang Indian yang bermukim di dekat perairan adalah para pelaut handal dan memiliki sistem sosial yang kompleks. Mereka telah mengembangkan filsafat, bahasa, pengobatan, dan sistem politik.[10] Bangsa Indian di wilayah Karibia jauh lebih beradab dari apa yang dikira pelayar barat.

“Indian”

Di antara kejahatan pendatang Eropa di Amerika adalah pemusnahan perpustakaan besar bangsa Aztec dimana tersimpan dokumen-dokumen tertulis sejarah tentang bangsa itu[11]. Hingga saat ini para peneliti harus mengandalkan temuan arkeolog dan data linguistik karena tidak ada satupun dokumen tertulis yang masih tersisa oleh pemusnahan bangsa “beradab” Eropa.

Dengan media, suatu agama dapat dikesankan sebagai agama yang intoleran dan radikal kemudian digandakan ke publik secara kontinyu hingga membentuk persepsi di kebanyakan orang. Dengan media, kebenaran dapat dipersepsikan menjadi kesalahan dan sebaliknya. Contoh perang persepsi ini adalah ketika adanya dugaan praktek pembantaian, barat terdepan dalam menyuarakan hak-hak manusia. Sementara itu, mereka seakan enggan dan setengah hati untuk membuka kembali lembaran sejarahnya saat mereka datang ke negeri orang.

Islam Sebelum Columbus

Pemukiman bernama Mayarca (Mallorca), Cadica (Cadiz), dan Marracaou (Maroko) telah ditemukan oleh penjelajah Perancis di wilayah yang kini disebut Florida pada tahun 1564. Ketiga nama itu sejatinya merujuk pada kota-kota di Andalusia, yakni ketika muslim berada di Spanyol (Andalusia) selama kurang lebih tujuh abad. Ini menunjukkan, ketiga pemukiman ini indikasi adanya kontak antara suku asli Amerika dengan muslim dari Andalusia.

Sekitar lima abad sebelumnya, seorang ahli fisika dan geografi muslim bernama Abdullah Muhammad al Idrisi (1099-1180), menulis dalam kitabnya Al Mamalik wal Masalik bahwa sekelompok pelaut bertolak dari Lisbon (sekarang ibukota Portugal) yang kala itu berada di bawah pemerintahan muslim Yusuf bin Tashfin berlayar mengarungi samudera yang gelap dan berkabut untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada di lautan “misterius” itu dan untuk mengetahui kemana dan bagaimana ia berujung.

Kita mengetahui bahwa dalam suatu kurun waktu, orang-orang Eropa sempat meyakini bahwa bumi itu datar dan di ujung lautan ada jurang tak bertepi dimana kapal-kapal bisa terjatuh ke dalamnya. Sekelompokpelaut itu berlayar selama sebelas hari hingga menemui badai besar dengan ombak tinggi dan kegelapan yang menyelimuti. Mereka menyangka akan binasa oleh cuaca buruk sehingga memutuskan untuk berlayar ke selatan selama duabelas hari hingga tibalah mereka di suatu pulau dengan kaum berperadaban. Mereka ditahan dan dirantai oleh penduduk pulau selama tiga hari. Di hari keempat, seorang penterjemah menghampiri mereka, penterjemah yang menterjemahkan bahasa lokal ke bahasa Arab! Bahasa Arab termasuk bahasa yang kompleks dan membutuhkan beberapa kali kontak bagi suatu komunitas untuk fasih menggunakannya[1].

Aramco World berdasarkan karya Al Masudi mengatakan bahwa muslim telah melakukan kontak dengan bangsa Indian di Amerika sejak tahun 942 M, lima abad lebih sebelum Columbus[2].

Di jajaran awak kapal Columbus sendiri terdapat orang-orang Arab dan Afrika muslim, dan di antara mereka bertugas menjadi navigator. Bahkan Dr Lansin Kaba mengklaim bahwa Columbus membawa serta copy dari buku Al Idrissi dalam pelayarannya[3]. Christopher Columbus berasal dari Spanyol dan seperti dunia ketahui, Spanyol di bawah naungan Islam menjadi mercusuar ilmu dunia bersama Baghdad.

Para pelajar Eropa berbondong-bondong menimba ilmu di universitas-universitas di Andalusia sedangkan di saat yang sama, Eropa masih berjuang keluar dari Zaman Kegelapan. Tidak ada universitas dan tidak ada upaya penggalakkan tradisi ilmu di Eropa, salah satunya disebabkan oleh dogma gereja yang represif terhadap sains. Bahkan sanitasi pun masih dirasa terbelakang sehingga kerap menimbulkan penyakit menular. Bukan saja peradaban Spanyol namun juga peradaban Eropa modern terbentuk atas pengaruh tradisi keilmuan kaum muslimin.

Dalam narasi lain, seorang pemandu muslim dari Maroko menyertai Estevanico of Amazor dalam pelayaran menuju Amerika pada tahun 1527 M dan mendarat di Florida. Kemudian, Estevanico ini menginisiasi berdirinya pemukiman di Arizona dan New Mexico. Setelah itu, yakni di tahun 1587, sebuah kapal berisi pendatang muslim dari Maroko tiba di South Carolina dan mendirikan pemukiman di tepi pantai di wilayah timur Tennessee dan di sisi barat pegunungan di North Carolina. Orang-orang Maroko inilah yang kemudian disebut Melungeon. Banyak teori mengatakan bahwa Melungeon adalah orang-orang keturunan bangsa Kartagena, Pheonician, Turki, Israel, Portugis, dan Maroko.[4] Abraham Lincoln dan Elvis Presley disebut sebagai keturunan dari Melungeon ini.[5]

Al Biruni pun meyakini bahwa keberadaan tanah luas yang terletak di antara benua Eropa dan Asia benar-benar ada meski beliau tidak melakukan upaya penjelajahan untuk membuktikan klaimnya tersebut. Dalam sebuah artikelnya di History Today, S. Frederick Starr menjelaskan bahwa Abu Raihan al Biruni telah menemukan Amerika jauh sebelum Columbus. Al Biruni yang lahir ada 973 M di negeri yang kini bernama Uzbeksitan menyimpulkan klaimnya itu berdasarkan pengetahuannya yang mendalam tentang geografi dan peta. Dengan pengetahuan tentang matematika, astronomi, mineralogi, kartografi, geometri, dan trigonometri, ia adalah di antara sedikit ilmuwan yang meyakini bumi itu bulat di zamannya.

Terdapat juga teori bahwa saat Columbus melakukan pelayarannya itu, ia tidak mengkonversi satuan mil Arab ke Romawi sehingga membuat perkiraan navigasinya meleset.[6] Alhasil, Columbus tidak pernah memiliki niat untuk “menemukan” Amerika, sebaliknya, ia berasumsi bahwa ia berlayar dari Eropa langsung menuju Asia, khususnya India, yakni tujuan awal Columbus. Columbus justru berlabuh di wilayah dekat Karibia. Namun khawatir kehilangan sponsor finansialnya yang membiayai ekspedisinya, maka suku asli Amerika dinamakan India, tujuan awal yang ia kehendaki.

Terdapat juga teori lainnya bahwa seorang ahli sejarah dan ahli geografi Muslim bernama Abul-Hassan Ali Ibn Al-Hussain Al-Masudi (871 – 957 M) menulis dalam kitabnya berjudul Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar (Padang Rumput Emas dan Tambang Batu Mulia) bahwa di era kekhalifahan Umawiyah di Spanyol (Abdullah Ibn Muhammad, 888 – 912M), seorang navigator Muslim bernama Ibn Said Ibn Aswad al Qurtuba [Cordoba] berlayar dari Delba (Palos) di tahun 889 M menyeberangi Samudera Atlantik, hingga sampai di daratan yang tak dikenal (Arab: Ardh Majhuula). Ia kembali dengan membawa banyak perhiasan. Sebagaimana di peta milik Al-Masudi, area besar itu terletak di Samudera Atlantik, yang beliau sebut sebagai “Lautan gelap yang berkabut”. [Dr. Youssef Mroueh, Muslims in the Americas Before Columbus]

Sebelum datangnya bangsa Eropa, di Amerika sudah ada rentetan peradaban yang memiliki sejarah dan warisannya sendiri. Peradaban maju bukan saja sebatas Inca, Aztec, Maya, di sana pernah ada “highly sophisticated civilization”, salah satunya Cahokia di Mississipi. Sistem pengairan, bercocok-tanam – terutama manipulasi genetika terhadap tanaman jagung, peternakan, dan arsitektur bangunan sudah berjalan ribuan tahun. Anggapan bahwa benuaAmerika adalah benua belum terjamah dimana penduduknya primitif adalah dramatisasi sejarah versi kolonoalisme.Sebanyak 14 juta orang Indian dibantai oleh “pendatang” Eropa, artinya 80% suku asli Amerika dibunuh oleh orang-orang Eropa[7].

Crazy Horse – pimpinan perang suku Oglala Lakota pernah berkata,

Kami tidak meminta kalian wahai orang kulit putih untuk datang ke sini
Negeri in diberikan kepada kami sebagai rumah-rumah kami

Kalian memiliki rumah sendiri

Kami tidak mencampuri urusan kalian

Kami tidak ingin peradaban kalian…!

Selain itu, Columbus disebut pernah menulis dalam memoirnya, tertanggal Senin 21 Oktober 1492 M, bahwa saat pertama kali ia berlayar di pesisir Amerika Tengah, di dekat Gibara, pesisir timur laut Kuba, ia melihat masjid di atas gunung. Columbus berasal dariSpanyol/Andalusia, di mana peradaban Islam berdiri selama 6 abad lebih dan arsitektur masjid tidaklah asing bagi penduduk Spanyol meski bagi non-muslim sekalipun sehingga testimoninya tentang bangunan masjid itu dapat diperhitungkan. Beberapa waktu kemudian, reruntuhan masjid dan menaranya dengan hiasan kaligrafi ayat-ayat Quran ditemukan juga di Texas, Meksiko, Kuba, dan Nevada[8]. Namun banyak sejarawan barat yang menyanggah dugaan ini.

Suku Indian Bannock

In order to know the lies
you have to know the truth


[1] Abdullah Quick. Islam in America Before Columbus. Dialogue of Cultures and Religions: Islam and Muslims in American Continent. Hariri Foundation and Hekmat A. Kassir Foundation. Collection directed by Adel Ismail, Ambassador of Lebanon, hal, 28.

[2] Abdullah Ansari Ghazi. Islam in the USA. Ibid, hal 108

[3] Ibid.

[4] Ibid, hal, 109.

[5] Collins D.S. 21 September 2017. Breaks of Sandy Melungeon Tales 2017. In search of the Lost Tribe in Ohio. http://shaybo-therisingtide.blogspot.com/2017/09/breaks-of-sandy-melungeon-tales-2017.html. Akses 25-9-2018. 10.37 AM

[6] Muslim Scholar Discovered America 500 Years Before Columbus. Januari, 2014. https://www.worldbulletin.net/history/muslim-scholar-discovered-america-500-years-before-columbus-h126242.html. Akses 25-9-2018, 10.33 AM.

[7]Thornton, Russell (1990). American Indian holocaust and survival: a population history since 1492. University of Oklahoma Press. hal. 26–32

[8] Davies, Nigel, Voyagers to the New World, New York 1979

[1] Abdullah Quick. Islam in America before Columbus. Dialogueof Cultures and Religions: Islam and Muslims in American Continent. Hariri Foundation and Hekmat A. Kassir Foundation. Collection directed by Adel Ismail, Ambassador of Lebanon, hal, 15.

[2] Ernest Thompson Seton & Julia M. Seton. The Gospel of The Redman – A Way of Life. Seton Village, New Mexico, 1966, hal, 1.

[3] Op. cit., Abdullah Hakim, hal 16-17.

[4] Op. Cit. Abdullah Hakim, hal, 17.

[5] Ernest Thompson Seton & Julia M. Seton. The Gospel of The Redman – A Way of Life. Seton Village, New Mexico, 1966, hal, 2.

[6] Ibid.

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid, hal, 3.

[10] Abdullah Quick. Islam in America before Columbus. Dialogueof Cultures and Religions: Islam and Muslims in American Continent. Hariri Foundation and Hekmat A. Kassir Foundation. Collection directed by Adel Ismail, Ambassador of Lebanon, hal, 20.

[11] Ibid, hal, 22.

2 thoughts on “Columbus 1492 – Hoax Yang Mulai Usang

  1. Bismillah
    Jazakallah khairan ustadz
    Semoga tulisannya bermanfaat, izin share dan copas ustadz
    Barakallah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s