Menelusuri Rububiyah Melalui Objektivitas Moralitas – (“Anotasi” Pemikiran Hamzah Tzortzis)


Bismillahirrahmanirrahim

Manusia telah memiliki kecenderungan kepada tauhid sejak lahir. Di mana seorang bayi terlahir, di tempat itu pula ia membawa fitrahnya untuk bertauhid. Tidak ada seorang bayi terlahir dengan tabiat kesyirikan dari “default”-nya. Manusia, di manapun mereka berada, apakah itu di Afrika, Asia, Eropa, Tiongkok, Amerika, Nusantara, serta di zaman apapun mereka terlahir apakah itu ribuan tahun sebelum masehi atau pada hari ini, mereka terlahir dengan membawa fitrah Islam. Sebelum mereka terlahir ke dunia, Allah telah mengambil perjanjian dan kesaksian dari seluruh manusia. Dan tidak ada satupun anak Adam yang terhapus ingatannya dari perjanjian ini. Perjanjian itu mengendap menjadi naluri paling dasar, tabiat fundamental, dan kecenderungan kuat setiap manusia untuk beriman kepad Allah dan juga dorongan untuk ingin mengenal-Nya.

Naluri ini begitu kuat sehingga membuat dorongan kuat bagi seseorang untuk sadar akan keberadaan-Nya baik secara naluri maupun rasional. Bahkan jika memang ada yang namanya manusia primitif menurut sangkaan evolusionis, atau ada seorang ateis yang paling fanatik sekalipun, ketika ia dalam keadaan terdesak dikepung mara bahaya, maka ia akan meminta perlindungan kepada Allah yang satu dan memurnikan doa meminta pertolongan hanya kepada-Nya.

Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar, kami menjadi saksi,’” [QS Al A’raf: 172]

Fitrah untuk mengenal dan menyembah Allah ini berjalan di setiap diri manusia, salah satunya melalui standar baik dan buruk yang objektif. Hamzah Tzortzis memberikan contoh, 1+1= 2. Terlepas apapun perasaan serta keadaan emosional kita, maka satu ditambah satu hasilnya adalah dua. Begitupun dengan moralitas. Hasil penjumlahan tidak diintervensi dengan emosi. Setiap manusia memiliki naluri untuk condong pada kebaikan dan membenci keburukan dan kebaikan bawaan manusia yang terbesar adalah fitrah untuk bertauhid.

Contoh lainnya, meski seluruh warga di sebuah kota, atau negara, seluruh manusia di dunia menetapkan bahwa gay dan lesbi adalah legal dan sah, maka ia tidak akan meredam fitrah penolakan homoseksualitas sebagai keburukan. Ini semua berasal dari dalam hati yang telah ditetapkan fitrahnya.

Jika ada suatu negara yang membolehkan untuk membunuh seorang anak kecil berusia 3 tahun dan menetapkan hal itu bukanlah pelanggaran hukum menurut undang-undang setempat, maka tetaplah nurani manusia akan mengatakan hal itu salah dan buruk. Kembali kepada penambahan, jika seluruh ilmuwan sepakat bahwa 1+1= 3, maka ini tetaplah akan dipandang sebagai kesalahan terlepas opini dan tendensi. Dan jika seluruh manusia di bumi sepakat untuk menjadi ateis, maka di saat itu pula manusia sepakat bahwa mereka telah keliru.

Lahir dari keluarga Nasrani Ortodos taat, Tzortzis sempat menjadi agnostik sebelum memeluk Islam.

Tidak ada yang bisa menjelaskan dari mana manusia mengenal baik dan buruk dari dalam hatinya dalam bingkai objektivitas. Sains tidak dapat menjawabnya, dan bukanlah ia berada di ranahnya.

Meski standar baik dan buruk setiap suku, kota, negara, atau peradaban itu berbeda, namun jika mereka berkumpul di dalam satu unit sosial, mereka akan menyepakati bahwa membunuh ayah dan ibu kandung sendiri adalah tindakan salah. Meski di beberapa negeri tindakan seperti itu merajalela sehingga perlahan mulai menjadi kebiasaan sekalipun, di benak-benak mereka hal itu merupakan kesalahan dan bertentangan dengan kebaikan.

Objektivitas moralitas ini, yakni kebaikan dan keburukan yang disepakati di antara kalbu-kalbu manusia menandakan adanya Allah Azza wa Jalla, dan Allah telah menetapkan nilai-nilai moral objektivitas ini dan di atas semua itu, Allah telah menetapkan fitrah manusia untuk mengenal, meyakini, dan menyembah-Nya. Konvensi sosial serta peruabahan gradual biologis melalui teori evolusi tidak akan dapat menjelaskan bagaimana objektivitas moral ada pada setiap manusia. Jika moral berevolusi sebagaimana evolusi biologis dalam anggapan evolusionis, maka faktanya kebaikan dan keburukan tetaplah sama sejak dahulu kala. Jika objektivitas moralitas ini adalah hasil dari proses sosial, maka sosial itu adalah sesuatu yang berubah, namun kita masih dapati objektivitas moral itu tetap hingga hari ini.

Hamzah Tzortzis memandang nilai moralitas itu objektif. Jika seorang ateis misalnya menolak objektivitas moral ini maka menurut Hamzah Tzortzis, para ateis seharusnya tidak perlu membenci Hitler, mencaci maki ISIS, menyesalkan kebijakan Korea Utara, menyayangkan penembakan di sekolah-sekolah di AS, dan mengutuk para pelaku 9/11 pada tahun 2001. Sebab, konsekuensi menolak objektivitas moral adalah meyakini subjektivitas moral, dimana apa yang ia anggap salah belum tentu salah bagi lainnya. Artinya ketika ia menganggap Hitler itu keji maka ia juga harus menerima jika ada yang menganggap Hitler telah benar dalam tindakannya. Jika ia menilai membunuh anak kecil tak berdosa adalah kejam maka ia harus menerima lapang dada jika ada orang lain yang menilai sebaliknya, sebagai konsekuensi bahwa semua relatif dan tidak ada yang pasti.

Tentunya ini sesuatu yang tidak mungkin dicapai melainkan impian-impian insan-insan postmodernisme. Objektivitas dalam moralitas adalah bukti bahwa Allah telah memberikan fitrah kepada manusia sejak awal untuk condong kepada kebaikan dan cenderung mencintai hal-hal yang memberinya manfaat seperti wanita, anak, harta berupa perhiasan termasuk uang, hewan ternak, dan lading sawah.

Kesimpulannya, membunuh seorang bayi yang baru lahir dengan sengaja, bersenggama dengan sesama jenis, menjunjung Hitler, terjun ke api yang menyala dengan sengaja, dan yang paling utama, menafikkan eksistensi Sang Pencipta Yang Maha Esa merupakan keburukan, kesalahan, kekeliruan, dan kesesatan yang disepakati oleh seluruh manusia di segala zaman dan di segala penjuru benua meski dalam lisannya dan tindakannya ia memperjuangkan paham ateismenya. Objektivitas moral yang berjalan dalam dirinya tidak akan pernah hilang seluruhnya. Pelaku syirik di Makkah pra-Islam pun ketika ditanya siapakah Rabb mereka, jawaban mereka adalah “Allah.”

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” [QS. Az-Zukhruf : 87].

Kemudian jika ditanyakan, lantas mengapa ada manusia yang menyimpang dari fitrah ini, baik objektivitas moral maupun fitrah bertauhid? Jawabannya adalah faktor keluarga, lingkungan, sosial dan faktor-faktor eksternal lainnya sebagai sebab dari Kehendak-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Setiap bayi dilahirkan di atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.: [HR. Al Bukhari dan Muslim].

Setiap manusia, yang berarti konsekuensi logisnya, setiap umat sekaligus peradabannya di kurun waktu manapu mereka hidup dan di belahan dunia manapun mereka menetap, maka pada dasarnya mereka berada di atas fitrah yang lurus. Penyimpangan dan kesesatan dalam akidah baru muncul setelah berjalannya waktu.

Allah berfirman, “Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus bersih, maka setanlah yang memalingkan mereka.” [HR. Muslim dan Ahmad].

Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan bahwa seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan mengarah kepada tauhid dan menerima dakwah yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam. Jika seseorang itu hidup di sebuah pulau seorang diri dan terasing dari pengaruh dunia luar, maka semakin ia tumbuh besar maka fitrahnya akan condong kepada tauhid. Ia akan meyakini bahwa Sang Pencipta adalah satu dan ia berada di atas. Orang tersebut tidak lantas menghampiri batu besar atau pohon menjulang tinggi kemudian bersujud dan meminta kepada keduanya. Tidak juga ia meminta kepada danau besar atau kepada bulan bintang dan matahari. Itu semua bukanlah fitrah manusia yang Allah tetapkan dalam keadaan lurus. Akan tetapi kemudian lingkungan, termasuk keluarga, mempengaruhi perkembangan akidah seseorang hingga kemudian ia menjadi pemeluk agama-agama atau kepercayaan tertentu. Ini bertolak belakang dengan teori E.B. Tylor dan Herbert Spencer bahwa manusia pada awalnya di tahap keprimitifannya menyembah benda-benda alam, ruh, dan tuhan-tuhan yang banyak sebelum di kemudian hari akhirnya mereka “menemukan” konsep monoteisme.

Sebagaimana kisah seorang laki-laki yang berada di pulau dan melakukan kontak dari rombongan yang sedang terhempas oleh cuaca buruk sehingga membawa kapal dan penumpangnya tersebut ke sebuah pulau di tengah lautan sebagaimana dalam kisah dituturkan Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab At-Tawwaabun.

Wallahu A’lam


Bahan bacaan;

Hamzah Tzortzis. The Divine Reality. God, Islam, and The Mirage of Atheism. Chapter 9, Know God, Know Good.

Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan. Kitab Tauhid. Penterjemah: Syahirul Alim al-Adib, Lc. Jakarta, Ummul Quro, 2014. Hal,21.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s