Mesopotamia – Peradaban Seribu Berhala [Bagian I]

Bismillah

Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam beserta keluarga para sahabat, dan seluruh manusia yang mengikuti beliau, yakni ahlussunnah.

==

 

Mukadimah

Tulisan-tulisan mengenai jejak monoteisme di peradaban kuno lainnya – baik yang telah diposting di blog ini ataupun belum –  selesai ditulis di medio 2018. Di tahun itu penulis menyelesaikan naskah buku bertajuk Kaisar Heraklius yang Insya Allah dapat terbit di bulan Ramadhan 1440 H/2019 M oleh sebuah penerbit berbasis di Yogyakarta. Selepas itu, Insya Allah naskah penulis berjudul Sejarah Kaum Yahudi Di Madinah – Dari Eksodus Hingga Zaman Nabi juga dijadwalkan untuk terbit setelahnya, masih  oleh penerbit yang sama.

Setelah berbulan-bulan didiamkan, banyak data dan referensi baru yang penulis dapatkan namun belum sempat, atau belum berkeinginan untuk memodifikasi tulisan ini karena memang sejak 2017 akhir, penulis disibukkan dalam menulis dua buku tersebut di atas. Namun Insya Allah esensi tulisan ini tidak berubah meski minim modifikasi, yakni memaparkan bahwa manusia dahulu berada di atas agama tauhid sementara kesyirikan datang belakangan sebagaimana telah kita simak di majlis-majlis ilmu.

Banyak sekali misteri purba yang belum terkuak. Bahkan, pengetahuan tentang peradaban purba telah ditutup-tutupi oleh satu kepentingan tertentu yang terorganisisir dan dengan sumber finansial tidak terbatas. Di antara tujuannya adalah melindungi truth claim bagi penganut evolusi. Silahkan telisik buku Forbidden Archeology karya Michael Cremo dimana ia memaparkan bahwa evolusi itu mitos saja. Banyak sekali karya-karya serupa, tentunya tidak sepopuler buku-buku “arus utama”.

Namun tentunya yang terutama adalah merujuk kepada Al Quran dan Assunnah.

Evolusi sudah menjadi agama sendiri bagi sebagian orang dimana teori ini sudah tidak dapat dipertanyakan lagi kebenarannya, sebuah sikap mental blind fanaticism berkedok sains. Telah bergulir tren yang semakin kritis terhadap hakikat peradaban “purba” manusia. Kita telah menempatkan hari ini sebagai zaman modern, serta batu dan fosil sebagai zaman purba. Ini semua berangkat dari mindset bahwa manusia itu bergerak dari grafik terendah menuju ke atas. Dari bungkuk menjadi tegak. Dari bodoh menuju supremasi akal. Dari politeisme menjadi monoteisme.

Padahal, justu di zaman inilah kita terjerembab dalam primitivisme; kesyirikan merajalela dan teknologi kita pun tidak sebanding dengan teknologi “purba” yang ternyata mengindikasikan begitu peliknya bahkan hanya untuk mengetahui, apa tujuan Piramida di Giza itu dibuat.

Manusia tidak bergerak dari garis rendah menuju ke atas, namun sebaliknya. Semakin lama, manusia kembali ke zaman primitif, khususnya dalam spiritualitas. Bukankah “manusia” itu menjadi manusia karena ia mengetahui untuk apa ia diciptakan?

Μεσοποταμία

Ia berarti daratan di antara sungai-sungai dalam bahasa Yunani. Dalam bahasa Arab adalah: بلاد الرافدين – bilād al-rāfidayn.

Salah satu peradaban yang begitu berpengaruh terhadap peradaban manusia di segala dimensinya adalah peradaban Mesopotamia. Peradaban Mesopotamia (daratan di antara dua sungai, Yunani) adalah peradaban dimana tulis menulis pertama kali ditemukan, meski dalam Islamic traditiontulis menulis muncul pertama kali melalui Nabi Idris alaihissalam.

Dua sungai yang dimaksud dari etimologi Mesopotamia adalah Sungai Tigris dan Eufrat. Sungai terakhir disebut merupakan sungai di dunia yang terkoneksi dengan Surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ، وَالْفُرَاتُ وَالنِّيلُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الجَنَّةِ

“Sihan, Jihan, Eufrat dan Nil adalah sungai-sungai surga.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Jannah wa Sifat Na’imuha wa Ahluha 2839).

Peradaban Mesopotamia berkontribusi terhadap berbagai bidang ilmu, matematika, astronomi, pertanian, hingga arsitektur. Merekalah yang pertama kali menggunakan “0” sebagai bagian dari rangkaian angka. Di peradaban Mesopotamia pula konsep sekolah pertama kali tercatat dalam sejarah manusia. Selain itu, di antara temuan mereka yang begitu revolusioner adalah roda.

Mesopotamia bukanlah peradaban tunggal. Di wilayah dua Sungai tersebut, yakni Sungai Eufrat dan Tigris, adalah tempat berdirinya peradaban-peradaban besar dan digdaya secara materi selama ribuan tahun. Di antaranya adalah Sumeria, Babilonia (Babilonia Kuno dan Neo Babilonia), Akkadia, Assiria, Persia, dan terakhir Islam. Wilayah ini sangatlah subur.

Di era 1800-1900-an, para peneliti barat berlomba-lomba untuk menggali untuk mencari peninggalan-peninggalan peradaban Mesopotamia. Dua negara yang saling berebut bahkan saling mensabotase satu sama lain di ranah arkeologi di Mesopotamia adalah Inggris dan Perancis. Setelah berebut lahan penelitian dan pemburuan harta karun, banyak dari temuan arkeologi dan benda-benda bersejarah tak ternilai harganya diboyong ke Eropa.

Terlepas dari berbagai warisan ilmu pengetahuan serta misteri-misteri yang belum dapat dijelaskan secara memuaskan oleh para ilmuwan,  peradaban Mesopotamia juga memiliki sisi gelap dengan kegelapan yang paling kelam, yakni praktek kesyirikan. Sisi kelam inilah yang jarang sekali diekspos dalam tayangan-tayangan dokumenter dan ensiklopedia. Dokumenter dan ensiklopedia memang kaya akan informasi sejarah dan pengetahuan lainnya, namun keduanya tidak memuat elemen penting bagi seorang hamba Allah, yakni hikmah akan sebab-sebab kejayaan dan keruntuhan umat terdahulu dengan menaati atau memaksiati Allah.

Agak “janggal” memang menyandingkan temuan arkeologi peradaban kuno dan menyisipkan mindset tauhidi. Mengenai assupan pengetahuan peradaban kuno, kita seringkali menyerapnya dari tayangan dokumenter dan berjilid-jilid enskilopedi yang sebagian besarnya menggunakan cara pandang sekularistik; tidak ada unsur agama di sana. Sebuah pengetahuan yang diandasi anggapan bahwa manusia itu hidup sendiri di alam semesta, seluruh sebab akibat berkutat hanya pada fenomena alam dan kausalitas aksi manusia, sebuah landasan yang menganggap bahwa seluruh persitiwa itu terjadi secara otomatis dan acak.

Pandangan inilah yang disebut oleh Hamzah Tzortzis sebagai philosophical naturalism (dalam bukunya The Divine reality: God, Islam, and the Mirage of Atheism). Cara pandang seperti inilah yang disaksikan oleh mata-mata kepala anak-anak kaum muslimin sebagai “syubhat menyambar-nyambar” yang paling berbahaya, sebab kekufuran bersembunyi di balik cara pandang sekularistik ini, sementara tidak semua muslim mau menyelami lebih jauh tentangnya.  

Sepanjang sejarah peradaban di Mesopotamia, patung-patung berhala dengan berbagai ukuran dan bentuk disembah oleh manusia. Berhala-berhala itu memiliki otoritas dan klasifikasi tersendiri. Ilmu sihir pun menjadi pengetahuan yang banyak digemari sebagian orang. Mengenai dua malaikat, Harut Marut yang menjadi ujian bagi manusia pun berlatar belakang Mesopotamia (silahkan merujuk kepada tafsir-tafsir Al Quran).

Pada dasarnya dan pada awalnya, asalnya manusia berada diatas agama tauhid sejak “hari pertama.”

Bangsa Sumeria, pionir peradaban Mesopotamia, dalam satu waktu sempat menyembah 5000 sesembahan. Bagi mereka, ada tuhan khusus untuk pengatur cuaca, ada tuhan yang mengurus sapi, ada tuhan yang otoritasnya hanya sebatas berkuasa pada aspek agrikultur, dan ada juga tuhan yang mengurus gandum. jadi Tuhan itu memiliki kekuasaan yang terbatas melalui spesialisasi di domain masing-masing.

mesopotamia-fertile-crescent-26-638.jpg

Konsekuensi dari banyaknya tuhan-tuhan itu adalah klasifikasi tuhan berdasarkan tugas dan otoritas. Beberapa tuhan terkadang dianggap memiliki kekuasaan lebih dari satu, semisal Enki, yang berkuasa atas kesuburan bumi, sihir, dan air segar sekaligus.

Tidak hanya tuhan, konsep tuhan wanita atau dewi (goddess) pun masyhur di kalangan bangsa Sumeria. Nammu adalah dewi dari semua dewi. Inanna adalah dewi cinta dan perang, sedangkan Ninshubur adalah dewi bintang pagi.

Benda-benda langit pun mereka sembah. Nanna (Sin) adalah tuhan bulan, Utu (Shamash) adalah tuhan matahari, dan Ishkur (adad) adalah tuhan bintang-bintang. Tidak hanya itu, terkadang perkawinan terjadi di antara para dewa-dewi.

Dalam satu waktu sebelum punah dan tergantikan oleh peradaban Babilonia Kuno, sesembahan bangsa Sumeria dapat mencapai 5000 tuhan. Tuhan-tuhan itu juga memilih teritori masing-masing, setiap negara-kota (city-state) memiliki tuhan sendiri, setiap pantheon, atau kuil peribadatan, memiliki tuhan-tuhan sendiri. Masing-masing kuil memiliki pemuka agamanya sendiri, semacam kuncen pantheon. Banyaknya Tuhan dalam satu negara juga dapat dikemas dalam bingkai pluralisme agama purba.

Inilah yang kita pahami dari aspek keagamaan di Mesopotamia purba. Hal ini difirmasi oleh Al Quran mengenai kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Meski di dalam Al Quran jelas ada indikasi kesyirikan di Mesopotamia, apakah itu berarti kita mengeneralisir dan mengamini teori ilmuwan barat bahwa peradaban manusia di Mesopotamia itu menjadi indikasi bahwa manusia dahulunya adalah musyrik?

Seorang peneliti agama purba bernama Stephen Langdon justru berpendapat sebaliknya. Dalam bukunya berjudul Semitic Mythology of All Races ia berkata, “Sejarah dari peradaban tertua manusia adalah sejarah tentang penurunan drastis dari agama monoteisme menjadi politeisme yang ekstrem dan penyembahan ruh-ruh jahat. Ini adalah sebenar-benarnya kejatuhan umat manusia.”

21458581.jpg

Lima tahun kemudian Langdon menulis dalam sebuah artikel dalam karya-nya The Scotsman dimana ia menulis, “Sejarah dari agama bangsa Sumeria, bangsa dengan pengaruh budaya terkuat di peradaban manusia kuno, dapat ditelurusri melalui ukiran-ukiran piktograf yang dapat membawa ke konsep manusia akan manusia di era-era awal. Bukti-bukti tanpa diragukan lagi mengarah kepada “original monotheism”, atau “monoteisme murni.”

Langdon menyimpulkan tesisnya tersebut berdasarkan kronologi bahwa memang pada masa-masa sebelum kehancurannya, bangsa Sumeria menyembah 5000 tuhan bahkan lebih. Namun jika menelusuri ke zaman sebelumnya, ukiran yang ditemukan dari era 3.000-4.000 SM menunjukkan bahwa bangsa Sumeria menyembah sebanyak 750 tuhan. Bahkan terdapat 300 tablet yang berisi aksara paku yang ditemukan di wilayah Jamdet Nasr pada tahun 1928, “hanya” terdapat tiga tuhan saja, yakni tuhan langit bernama Enlil, tuhan bumi bernama Enki, dan Babbar sebagai tuhan matahari.

Kemudian sebanyak 575 tablet aksara paku yang diterjemahkan pada tahun 1936 dan diduga berasal dar era 3.500 SM “hanya” menunjukkan dua tuhan yang disembah oleh bangsa Sumeria. Keduanya yakni An sebagai tuhan langit (sky god) dan dewi seluruh dewi, Innana. Innana inilah yang kemudian nanti dikenal dengan nama Ishtar oleh bangsa semit.

Pengerucutan kuantitas tuhan-tuhan ini jika ditelusuri semakin ke belakang maka ia menunjukkan politeisme itu bermula dari monoteisme sebagaimana terjadi pada peradaban Lembah Indus. Langdon hendak mengatakan, Mesopotamia tidak sekonyong-konyong menjadi peradaban pagan sejak awal berdirinya, bukti-bukti menunjukkan sebaliknya, kesyirikan adalah bid’ah yang merebak dan mewabah seiring degenerasi spiritual umat manusia.

mesopotamian-idols.jpg

Berbeda lagi dengan Henry Frankfort namun masih selaras dengan pandangan Langdon. Ia memandang bahwa penyembahan banyak tuhan itu berasal dari pemisahan atribut-atribut tuhan menjadi tuhan-tuhan sendiri. Padahal, atribut-atribut tuhan itu adalah sifat bagi tuhan yang satu. Hal ini berdasarkan penggalian di Tell Asmar yang diduga berasal dari millennia ke-tiga dimana ia menunjukkan bahwa bangsa Sumero-Accadia tidaklah menyembah sesembahan-sesembahan yang berbeda.

Frankfort berkata, “Sumero-Accadia tidaklah menyembah sesembahan-sesembahan yang terpisah. Dari bukti-bukti yang ditemukan di kuil-kuil peribadatan dan bukti-bukti yang ditemukan di rumah-rumah penduduk setempat yang menyembah di kuil-kuil tersebut. Politeisme tidak pernah muncul dari polydemoni (penyembahan terhadap ruh-ruh jahat), namun ia muncul karena atribut-atribut tuhan yang satu itu dijadikan atribut tuhan yang khusus dan terpisah bagi setiap kelompok orang hingga akhirnya pada tahun-tahun berikutnya mereka terlupa bahwa sejatinya atribut-atribut itu adalah merujuk pada satu tuhan. Oleh sebab itu, atribut-atribut tuhan yang satu itu menjadi sesembahan-sesembahan tersendiri.”

Menurut Frankfort, setiap keluarga dan suku-suku di Sumeria merumuskan serta menemunkan unsur terpenting yang mewakili karakter dan identitas bagi kelompok mereka. Setiap kelompok manusia memiliki karakter yang khas dari kelompok lainnya. Karakter-karakter yang tidak mewakili identitas mereka pun mereka marginalkan. Sehingga, mereka memilih sendiri atribut-atribut tuhan yang mereka anggap mewakili jati diri kelompok mereka.

Bagi yang gemar berperang misalnya akan memilih atribut tuhan yang berkaitan dengan peperangan dan tidak akan mengagungkan atribut tuhan yang mewakili kelembutan atau sifat pemaaf tuhan. Mereka lebih cenderung mengagungkan atribut tuhan tentang kekuatan tuhan. Sementara suku dengan karakteristik agrikultur yang menonjol akan memilih atribut tuhan yang berkaitan dengan kesuburan bumi dan seterusnya.

Friedrich Delitzsch mendukung teori terjadinya penyembahan terhadap atribut-atribut tuhan menjadi entitas sesembahan tersendiri. Berdasarkan sebuah tablet yang diteliti oleh T.G. Pinches mengindikasikan bahwa sesembahan tertinggi di tempat pemujaan bangsa Babilonia hanya ditujukan ke satu tuhan, yakni Marduk. Namun demikian Marduk memiliki banyak nama atau atribut. Nama-nama Marduk menurut Delitzsch adalah:

Ninib, sang pemilik kekuatan.

Nergal/Zamama, tuhan perang.

Bel, “Pemilik kekuasaan”.

Nebo, tuhannya para utusan.

Sin, tuhan cahaya di kala malam.

Shamash, tuhan keadilan.

Addu, tuhan hujan.

Oleh karena itu menurut Delitzsch, Ninib sebenarnya adalah Nergal itu sendiri, tuhan bulan dan tuhan matahari sekaligus.

Bel adalah Nebo dan Shamash adalah Addu, dan kesemuanya adalah tidak lain atribut untuk Marduk itu sendiri.

kita tidak mengatakan bahwa Marduk adalah Tuhan yang satu Bukan itu kesimpulan yang hendak dicapai. Sebab monoteisme tidak selalu berarti tauhid. 

Jadi nama-nama tersebut hanyalah cara-cara mendeskripsikan atribut-atribut tuhan, kekuatan-kekuatan dan tugas-tugas tuhan.Oleh sebab kecenderungan ini, monoteisme-lah agama pertama peradaban Mesopotamia sebelum akhirnya penyimpangan menjalar ke generasi-generasi selanjutnya dalam proses panjang selama puluhan abad. Semakin berlalunya masa, mereka semakin kebingungan membedakan mana nama-nama tuhan hingga akhirnya menuhankan nama-nama itu menjadi sesembahan-sesembahan terpisah.

Dalam New Wolrd Encyclopedia, bangsa Sumeria meyakini bahwa para tuhan menciptakan manusia dari tanah liat dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk melayani para tuhan. Para tuhan itu seringkali mengekspresikan murkanya melalui gempa bumi dan badai. Bangsa Sumeria meyakini bahwa alam semesta terdiri dari piringan datar yang tertutup atasnya oleh sesuatu yang menutupinuya. Ada kemiripan keyakinan bangsa Suneria ini dengan keyakinan suku Kapauku di Papua bahwa bumi merupakan hamparan datar dengan penutup seperti mangkuk terbalik di atasnya.

Terkait alam semesta atau bumi yang terhampar bagai piring datar ini memang dapat dicapai dengan terkaan nalar saja sehingga penalaran sederhana “kuno” ini dapat dipahami, sebab sepintas memang tempat manusia di dunia ini adalah hamparan sehingga kesamaan antara bangsa Sumeria dan Kapauku di Papua ini mengenai “atap bumi” bisa jadi adalah kolektivitas “naluriah” akal-akal manusia di belahan bumi manapun manusia berada. Namun nuansa kreasionisme tanah liat sebagai bahan dasar manusia ini lebih kental dengan indikasi adanya ajaran monoteisme yang mendahului politeisme di Sumeria.

Penciptaan manusia dari tanah liat dan murka tuhan yang dimanifestasikan dengan bencana alam meskipun tidak siginifkan adalah di antara indikasi adanya degenerasi monoteisme menjadi politeisme dan henoteisme di peradaban Sumeria. Penciptaan manusa dari tanah liat bukanlah sesuatu yang dapat diterka dengan akal manusia, karena unsur-unsur manusia secara lahiriah tidak menunjukkan unsur-unsur tanah dengan gamblang.

Roda, lempengan batu untuk menulis, aritmatika, geometri, sistem irigasi, perahu, kampak, pisau, kulit, palu, baju besi, sandal, dan sepatu boot adalah di antara buah karya peradaban Sumeria. Bahkan sudah terdapat beberapa jenis varian perahu yang ada di zamannya.

Meski tergolong “advanced” dalam aspek teknologi, namun spiritualitas mereka begitu primitif dengan keyakinan non-monoteisme mereka. Mindset bahwa kemajuan diukur melalui  materi merupakan bentuk keprimitifan itu sendiri.

Bersambung Insya Allah

====================

Referensi:

Barbara A. Somervill. Great Empires of the Past: Empiresof Ancient Mesopotamia. New York, 2010, Chelsea Ibid., hal., 9 dan hal. 72.

Stephen Langdon, Semitic Mythology of All Races, Vol. 5, Archeological Institute of America, 1931, hal. xviii).

Arthur C. Custance. Evolution or Creation. The Doorway Papers, volume 4, 1976. Zondervan Publishing House, Frankfort, H. Third Preliminary Report on Excavations at Tell Asar (Eshnunna) sebagaimana dikutip oleh P.J. Delitzsch, Friedrich, Babel and Bible, Williams and Norgate, London, 1903, hal 144f).

Sumeria. http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sumerian_Civilization

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s