Kisah Banjir Besar: Dari Mesopotamia Hingga Benua Amerika

Bismillah

Banjir Besar di zaman Nabi Nuh alaihissalam, atau dalam literasi barat disebut The Great Flood, termaktub di dalam Al Qur’an. Ia juga terdapat dalam kitab-kitab Yahudi dan Nasrani dan beberapa tulisan kuno lainnya. Namun ketika berada di tangan-tangan peneliti sekular, Banjir Besar diletakkan sebagai mitos saja dan sebagai suatu kabar sejarah yang tidak pasti kebenarannya. Ia bisa jadi mitos, legenda, atau karangan-karangan pujangga di masa lalu belaka.

Jika menelusuri jejak-jejak kisah Banjir Besar di banyak kebudayaan-kebudayaan di dunia, dimana antara satu kaum dan lainnya itu mereka terpisah oleh lautan dan jarak yang jauh, mustahil terjadi “konsensus purba” untuk menyeragamkan kisah-kisah Banjir Besar. Sebaliknya, bukti akan adanya peristiwa musnahnya peradaban manusia akibat banjir yang melanda bumi begitu kuat dan tersebar nyaris di berbagai belahan bumi.

Seorang penganut paham kreasionisme[1] bernama John D. Morris PH.d, mengumpulkan lebih dari 200 kisah Banjir Besar di seluruh tradisi lokal kebudayaan dunia yang didapatkan melalui para antropolog, etnolog, dan misionaris selama bertahun-tahun.

Dari keseluruhan 200 lebih kisah-kisah lokal di beragam kebudayaan dunia tersebut, Morris menyimpulkan bahwa secara garis besar, seluruh kisah-kisah tersebut menunjukkan pola yang sama, yakni menyebutkan bahwa banjir besar itu terjadi disebabkan dosa manusia. Dalam kisah-kisah itu juga terdapat narasi adanya satu keluarga yang telah memperingatkan akan kedatangan banjir besar itu. Disebutkan juga bahwa mereka membuat kapal yang pada akhirnya menyelamatkan satu keluarga tersebut beserta hewan-hewan. Setelah banjir surut, mereka mendarat di sebuah pegunungan dan dari sanalah orang-orang yang berada di atas kapal melahirkan keturunan yang mendiami bumi pasca-banjir. Kisah ini tidak terdapat di wilayah Mesopotamia, Syam, wilayah Turki, atau sekitaran Timur Tengah saja melainkan terdapat juga, di antaranya, di Amerika Selatan dan Kepulauan Pasifik.

Morris mengatakan bahwa ketika dua kebudayaan yang berbeda memiliki kesamaan “mitos”, maka terdapat dua kemungkinan:

  1. Para nenek-moyang mereka kemungkinan mengalami peristiwa itu.
  2. Atau nenek-moyang mereka adalah keturunan dari mereka yang mengalami peristiwa itu.

Kesamaan inti dari kisah Banjir Besar antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya ini menembus hambatan geografis, linguistik, dan kebudayaan lokal.[2]

Di Afrika, kisah adanya banjir besar yang menerpa seluruh bumi terdapat pada tradisi suku Mbuti, Masaai, Mandin, dan Yoruba sebagaimana disebutkan Lynch Patricia dalam African Mythology, Form A to Z. Di Amerika, kisah serupa juga terdapat pada suku Maya, Aztec, Incas, Muisca, Tupi, Canari, Wsanec dan Inuit. Sementara di Timur Tengah kisah ini hampir merata termasuk di agama Yahudi, Nasrani, dan tentu saja Islam. Kisah banjir terdapat juga di Epos Gilgamesh berasal dari abad 7 SM.

Di peradaban Tiongkok, kisah banjir besar dikenal dengan Gun-Yu di zaman Kaisar Yao, tiga milenia sebelum Masehi. Di Kepulauan Andaman, terdapat kisah tentang sesembahan mereka bernamaa Puluga yang mengirim banjir besar untuk menghukum manusia. Menurut tradisi mereka, hanya empat orang yang selamat, dua pria dan dua wanita. Di India, Burma, Australia, dan Melayu pun terdapat kisah mengenai adanya banjir yang menyapu bumi karena dosa manusia, dan kisah orang-orang baik yang selamat dengan menaiki bahtera.

images (41)

 

Sebagai pusat peradaban manusia, kisah banjir besar ini juga terdapat di peradaban Sumeria dan Babilonia. Antara tahun 1889 hingga 1900, seorang arkeolog dari AS melakukan penelitian di Irak dan mengungkap tulisan pada lempengan tanah liat yang memuat kisah Sumeria tentang banjir topan di kota Nippur. Stempel dalam lempengan itu berasal dari masa yang dekat dengan masa Hammurabi meski kisah itu sendiri diyakini terjadi jauh sebelum masa Hammurabi.

Kisah dari Sumeria itu menceritakan seorang raja yang bernama Ziusudra, raja yang digambarkan baik dan taat pada tuhan. Ia juga raja yang rajin beribadah dan rendah hati. Ia mendapat berita soal keputusan yang dipersiapkan para dewa – keputusan terkait banjir dan topan yang akan menerjang disertai hujan lebat selama tujuh hari tujuh malam terus-menerus. Banjir ini juga telah ditetapkan akan menyapu seluruh bumi. Ziusudra sendiri digambarkan sebagai seseorang yang menjaga spesies umat manusia dengan cara membuat kapal.

Kisah banjir yang menyapu bumi dari Babilonia memiliki sumber yang lebih kaya ketimbang dari tempat-tempat lain di dunia. Sumber pertama adalah Epos Gilgamesh yang terbagi dalam 12 lembar syair, dan kisah adanya banjir besar terdapat pada lembar kesebelas dimana diceritakan ada seorang laki-laki bernama Gilgamesh yang diperintah oleh para dewa untuk membuat kapal dan meninggalkan semua harta benda yang dimiliki. Ia membawa semua yang bernyawa ke atas bahtera. Disebutkan luas dan panjang bahtera itu sama. Hujan turun terus menerus dan bahtera tersebut terdampar di atas Gunug Nisir yang terletak antara Diljah dan Eufrat, Irak.[3]

Sumber kedua dari peradaban Babilonia datang dari paruh pertama abad ketiga SM di era Raja Antigonus I (270-260 SM). Disebutkan ada salah satu pendeta tuhan Marduk bernama Berosus dari Babilonia. Berosus mengaku telah menulis sejarah negerinya dengan bahasa Yunani dalam tiga bagian. Buku ini memuat kisah banjir besar topan sebagai berikut:

Dahulu hidup seorang raja bernama Xisuthras yang bermimpi bahwa tuhan memperingatkannya akan adanya banjir topan yang menutupi bumi, menghancurkan tanaman dan getahnya. Tuhan memerintahkan padanya untuk membuat bahtera sebelum banjir topan. Panjang yang dibuat Xisuthras adalah 1000 yard dengan lebar 440 yard. Semua kerabat dan sahabat serta burung dan hewan berkaki empat masuk ke dalam bahtera tersebut. Sementara bekal mereka adalah daging dan minuman segar. Banjir akhirnya menenggelamkan bumi dan bahtera tersebut terdampar di atas gunung, yang memungkinkan Xisuthra beserta istri dan anak, dan nahkoda kapal untuk turun. Sang raja sujud kepada tuhan dan menyembelih hewan sebagai wujud syukur.[4]

Sebagai muslim, kisah-kisah perlu untuk dikritisi, seperti misalnya dalam narasi Epos Gilgamesh dan Besorus di atas disebutkan tentag keyakinan adanya dewa-dewa yang jelas menyelisihi tauhid, terlepas kuatnya indikasi menunjukkan bahwa kisah-kisah di atas berkaitan dengan kisah banjir di zaman Nabi Nuh.

Distorsi Rantai Testimoni

Di antara penyebab perbedaan narasi dari aspek kronologis hingga hal esensial seperti keyakinan politeisme melalui dewa-dewa menunjukkan bahwa ketika kisah-kisah itu ditulis oleh umat manusia di Sumeria dan Babilonia yang telah tercemar oleh praktek kesyirikan, serta di tulis di zaman dimana proses degenerasi agama sedang berlangsung. Perbedaan narasi dan beberapa hal-hal detil bukan saja ada bahkan bagi muslim fatal dan kentara. Namun secara garis besar kisah adanya banjir begitu merata di temukan nyaris di suku-suku lokal di seluruh benua terlebih di wilayah Mesopotamia, menunjukkan kisah-kisah itu mustahil lahir dari kesepakatan manusia untuk berdusta. Kisah Banjir Besar yang paling benar dan terbebas dari distorsi dan bias atau kesalahan-kesalahan turun menurun hanya ada di dalam Al Qur’an.

Dalam tradisi Yunani dikenal tokoh bernama Deucalion. Ia adalah putra dari dewa Prometheus. Ketika manusia semakin kejam, serakah, dan tidak patuh pada dewa-dewa, Zeus hendak menghancurkan umat manusia. Deucalion yang berupaya untuk mengendalikan nafsu kebinatangan manusia meminta Zeus agar memaafkan umat manusia namun Zeus telah memutuskan untuk tetap akan menghapus generasi umat manusia yang buruk itu. Hanya Deucalion dan istrinya Pyrrha-lah yang selamat. Prometheus memerintahkan Deucalion untuk membuat sebuah bahtera. Deucalion dan istrinya kemudian menaiki kapal untuk menyelamatkan diri dari banjir. Hujan dan gemuruh petir terjadi terus-menerus selama sembilan hari sembilan malam dan menenggelamkan seluruh generasi kecuali segelintir orang yang selamat dengan menaiki puncak gunung. Ketika banjir surut, Deucalion dan Pyrrha mendarat di sebuah Gunung Parnasus dan mempersembahkan sesembahan kepada Zeus sebagai wujud syukur.[5]

Menurut tradisi kebudayaan Iralndia, penghuni-penghuni pertama bangsa Irlandia dipimpin oleh cucu perempuan Nuh, Cessair. Mereka lenyap seluruhnya kecuali satu orang. Lenyapnya mereka disebabkan oleh sebuah banjir yang melanda selama 40 hari setelah mereka mencapai pulau ini.Belakangan, setelah rakyat Partholon dan Nemed mencapai pulau itu, terjadi banjir lainnya yang membunuh semua orang kecuali 30 penduduknya, yang pada akhirnya tersebar ke seluruh dunia.

Kisah rakyat tentang banjir ini juga terdapat di sejumlah kebudayaan di Nusantara. Menurut Wikipedia, dalam tradisi masyarakat Batak bumi dipikul oleh seekor ular raksasa bernama Naga Padoha. Suatu hari, ular itu lelah menanggung bebannya dan karenanya ia melemparkan bumi ke dalam laut. Namun Batara Guru menyelamatkan anak perempuannya dengan mengirimkan sebuah gunung ke laut itu dan seluruh umat manusia merupakan keturunannya. Bumi kemudian diletakkan kembali di atas kepala ular itu.

Tampak pada kisah-kisah tentang banjir besar yang menerpa bumi di masa lalu pada sejumlah tradisi kebudayaan kuno, nyaris semuanya menyebut tentang dewa-dewa. Jika membandingkan dengan kisah Banjir Besar di dalam Al Quran, maka tampak terdapat perbedaan mendasar, khususnya berkaitan dengan nilai tauhid selain dari alur cerita yang juga jauh berbeda.

Terdapat setidaknya dua kemungkinan di sini, pertama, kisah-kisah mengenai banjir besar di berbagai belahan bumi lainnya tersebuttidaklah merujuk pada banjir yang terjadi di zaman Nabi Nuh dan semua itu, atau sebagiannya, tidak lain hanyalah karangan mereka sendiri sebagai produk budaya, atau memang berdasarkan kejadian yang nyata dalam lingkup lokal meski dengan dramatisasi, mitos, dan nuansa keyakinan politeisme mereka.

Kemungkinan kedua adalah semua kisah-kisah banjir yang menerpa bumi itu merujuk pada Banjir Besar di zaman Nabi Nuh akan tetapi seiring berjalannya waktu dan maraknya kesyirikan, kisah itu mengalami penambahan, pengurangan, modifikasi, distorsi, termasuk perombakkan dalam kandungan akidah. Contohnya adalah campur tangan dewa-dewa dan unsur kesyirikan semisalnya.

Pada hari ini, menyeragamkan suatu narasi antara satu negara dan lainnya serta menggandakan narasi tersebut agar tersebar secara luasdapat dilakukan dengan bantuan teknologi meski hal itu tetap membutuhkan koordinasi yang matang dan teliti. Dengan teknologi komunikasi digital, mudahnya akses internet, serta perangkat IT lainnya, kolektivitas antar masyarakat dunia bukanlah mustahil. Akan tetapi berbicara mengenai kemiripan antara kisah-kisah tentang banjir besar yang terpisah oleh jarak yang jauh serta di kurun waktu berbeda serta menggunakan bahasa yang berbeda  tidaklah mungkin dicapai melalui kesepakatan di zaman kuno.

Meski terdapat perbedaan mendasar antara satu dan lainnya, penelusuran kisah-kisah banjir besar di berbagai negeri menunjukkan bahwa mustahil umat manusia di tempat terpisah dan di kurun zaman yang juga terpisah, dan menggunakan bahasa yang berbeda, suku-suku dan peradaban-peradaban di dunia tersebut berkumpul untuk mencapai konsensus keseragaman kisah banjir besar.

Kita dapat membayangkan betapa jauhnya jarak antara penulis Gilgamesh di Mesopotamia dengan masyarakat Batak, suku Indian Amerika, Irlandia, dengan Tiongkok dan seterusnya. Sehingga kemungkinan kedua ini lebih dekat kepada kebenaran dan kembali menunjukkan bahwa seiring berlalunya zaman, kemurnian spiritual umat manusia tercemar dengan penyimpangan, baik itu akidah maupun perubahan transmisi kisah yang semakin lama semakin tidak otentik.

Screenshot_2019-02-19-20-11-12-815_com.quran.labs.androidquran

Allah menurunkan Al Quran meluruskan seluruh yang bengkok dan membetulkan yang keliru, termasuk keotentikan peristiwa sejarah Banjir Besar. Bukan hanya sekedar kisah tentang umat terdahulu yang hanyut, namun mengapa mereka tertimpa azab berupa banjir itu.

Allahu A’lam

================

Catatan Kaki

[1] Kepercayaan dalam agama Ibrahim bahwa manusia, kehidupan bumi, dan seluruh jagat raya adalah dari tuhan (adikodrati). Umumnya penciptaan yang bermula dari ketiadaan (ex nihilo) menjadi penciptaan.

[2] John D. Morris PH.d, 01 September 2001. Why Does Nearly Every Culture Have A Tradition of a Global Flood. http://www.icr.org/article/why-does-nearly-every-culture-have-tradition-globa/. Akses 4-10-2018, 8.25 AM.

[3]Ensiklopedia Mukjizat Al Qur’an Dan Hadis. Jilid 1 – Kemukjizatan Fakta Sejarah Dalam Al Quran. Terbitan Kairo, Mesir. Distributor: PT. Amira Widyatama, hak cipta terjemahan Indonesia: PT. Sapta Sentosa. Hal, 28.

[4] Ibid.

[5] John Black. 24 Maret 2013. Deucalion Myth – The Great Flood from Greece. https://www.ancient-origins.net/human-origins-folklore/deucalion-myth-great-flood-greece-00259

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s