Evolusi Agama Dan Sejarah Ateisme (Bag I)

Bismillah

Kita kembali ke belakang, konon sekitar 200.000 tahun silam. Perkenalkan tokoh kita yang satu ini, sebut saja Homo Sapiens. Dalam bahasa latin ia berarti “orang bijak”. Bijak karena ia memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni. Ia adalah spesies yang berkembang dari hasil adaptasi terhadap lingkungan dimana seiring berjalannya waktu, spesies ini ber-”evolusi” menuju fase paripurna yang bertolak dari tahap yang paling rendah.

Meski memiliki kemampuan intelektual yang baik, namun optimalisasi intelektual sedang berada pada fase perkembangan. Alhasil, belum ada unit sosial yang terstruktur. Pakaian dan peralatannya pun seadanya. Homo sapiens kita ini benar-benar berada pada taraf purba dari segala aspek, termasuk dalam konsep tuhan dan agama. Pandangan ini megharuskan ia terlahir sebagai ateis, tidak mengenal agama apalagi tuhan. Karena konsep ateisme inilah yang cocok bagi keprimitifan manusia purba. Bagi evolusionis, manusia pada awalnya tidak mengenal tuhan, agama, atau kekuatan tak terlihat lainnya di luar dirinya.

Tatkala Homo Sapiens ini berjalan di tengah padang rumput mencari hewan buruan, seketika itu juga ia mendengar gemuruh guntur dan kilatan halilintar di langit. Ia menyaksikan dan merasakan hembusan angin yang bertiup kencang menggerakkan pepohonan dan rumput-rumput. Ia melihat hujan turun deras membasahi tubuhnya dan mengguyur semua yang ada di sekelilingnya termasuk air sungai yang semakin tinggi dan arusnya semakin deras seiring turunnya hujan. Saat matahari menghilang di kala senja, bintang-bintang bermunculan. Bentuk bulan pun berubah-ubah bentuknya seiring berjalannya waktu, Terkadang matahari dan bulan saling menutupi satu sama lainnya ketika terjadi gerhana. Homo Sapiens takjub sekaligus takut dengan fenomena yang berjalan di luar dirinya.

Namun dengan keterbatasan nalar empirisnya, semua tayangan fenomena alam di sekitarnya berubah menjadi misteri besar yang membuatnya bertanya-tanya tentang hakikat semua itu. Ia bertanya-tanya tentang pengaruh seluruh fenomena alam bagi eksistensi dan keselamatan dirinya.

Di waktu lainnya, Homo Sapiens terkejut saat melihat retakan di tanah akibat gempa bumi. Kilat yang menyambar pepohonan, perputaran bulan, bintang, dan pergerakan awan, semua itu semakin membuatnya gelisah. Untuk meredam kegelisahan dan ketakutannya, Homo Sapiens berlindung ke dalam gua, karena dengan berada di gua itulah ia merasa aman dan terhindar dari segala misteri fenomena alam yang, menurut nalarnya, mengancam eksistensi dirinya. Kehidupan dalam gua inilah yang disebut sebagai cave man – manusia gua dalam istilah kepurbakalaan.

Seakan kemanapun ia melangkah, di sana pula ancaman itu mengintai. Menurut penalarannya, keselamatan dirinya hanya akan terjamin apabila ia berlindung kepada sesuatu yang memiliki kekuatan melebihi dirinya, kekuatan yang berkuasa terhadap segala pergerakan benda alam, kekuatan yang dapat melindunginya dari misteri alam, kekuatan yang berada di luar dirinya sendiri.

Hasilnya, Homo Sapiens mulai menciptakan konsep metafisik dengan meyakini adanya kekuatan di luar dirinya dan di luar dari apa yang tampak di sekelilingnya. Ia meyakini ada suatu kekuatan besar di balik dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Kemudian mulailah ia mengasosiasikan segala fenomena alam yang ia saksikan dengan apa yang kita kenal dengan kekuatan supernatural. Di sinilah ide kekuatan yang “tak terlihat” itu lahir. Homo Sapiens mulai menganggap bahwa di balik pohon yang menjulang tinggi, sungai yang deras airnya, batu yang berukuran raksasa, dan angin kencang yang berhembus memiliki kekuatan yang menggerakkan semua itu. Begitu pula dengan halilintar, matahari, bulan, bintang, dan langit biru.

Bagi Homo Sapiens, jalan untuk menuju rasa aman adalah mendekatkan diri dengan kekuatan di balik benda-benda alam tersebut. Di antara cara Homo Sapiens untuk mendekatkan diri adalah dengan memujanya, kemudian memberi persembahan, dan akhirnya meminta perlindungan kepada benda-benda alam dan benda-benda langit itu.

Seiring berjalannya waktu dan bergulirnya evolusi manusia, berkembang pula penalaran Homo Sapiens. Ia berevolusi menjadi manusia yang lebih intelek, lebih logis, dan lebih empirik. Alhasil, konsep akan kekuatan supernaturalnya juga berevolusi dari penyembahan terhadap benda alam menjadi keyakinan adanya kekuatan-kekuatan tak terlihat yang berjumlah banyak. Mereka bukan lagi terbatas pada benda-benda alam saja seperti pohon, sungai, air terjun, bulan, bintang, matahari, dan batu besar, melainkan kekuatan ruh yang kemudian mereka sembah. Terkadang mereka menyembah ruh yang sudah mati dari kalangan mereka sendiri atau menyembah ruh para pendahulu mereka. Homo Sapiens di fase ini menyembah Homo Sapiens lainyya dalam bingkai metafisika.

Kemudian berlalu-lah masa yang lama lagi, Homo Sapiens itu berevolusi menjadi spesies yang lebih “modern” dari sebelumnya. Dari keyakinan akan kekuatan ruh, ia mulai menciptakan konsep tuhan, sesuatu yang bagi mereka lebih kuat disbanding ruh. Di fase ini mereka meyakini adanya banyak tuhan yang masing-masing tuhan itu memiliki kekuatan dan kekuasaan unik dalam mengatur dan menguasai alam dunia ini dan juga alam setelah mati nanti. Tuhan-tuhan itu masing-masing memiliki otoritias dan domainnya masing-masing.

Kemudian berlalu pula masa yang lama, Homo Sapiens pun terus berevolusi menjadi spesies yang lebih maju penalarannya hingga membawa mereka pada keyakinan adanya satu tuhan yang paling kuat di antara tuhan-tuhan yang banyak itu. Mereka menyembah satu tuhan terkuat dari yang terkuat. Dari ruh, banyak tuhan, hingga ke konsep mutakhir, yakni menyembah satu tuhan. Maka menurut rumusan fase-fase ini, Judaisme dan Islam ada di tahap ini, tahap yang mereka sebut monotheistic religion.

Tuhan tunggal yang “unik” ini berada di atas langit dan kekuasaannya tak terbatas. Dia adalah pencipta dan pengatur mutlak alam semesta. Konsep satu tuhan ini bagi evolusionis dicapai setelah Homo Sapiens melalui proses yang begitu panjang. Kita tidak membicarakan evolusi puluhan atau ratusan tahun saja, namun dalam konteks puluhan hingga ratusan ribu tahun. Di fase ini, tiba-lah Homo Sapiens pada sebuah konsep agama yang “modern” dan “luhur”, yakni monoteisme, sebuah konsep agama yang berada pada puncak dari sebuah garis lurus evolusi yang bermula dari bawa ke atas.

Kisah perjalanan spiritual spesies Homo Sapiens di atas merupakan ilustrasi simplistik bagaimana agama umat manusia itu muncul pertama kali menurut teori evolusi. Charles Darwin memang tidak membahas khusus evolusi agama ini, namun bukunya The Origin of Species berbuntut pada kesimpulan bahwa proses kemunculan agamapun mengikuti proses evolusi ini, dan inilah yang dikembangkan oleh banyak ahli di barat. Pada dasarnya, menurut evolusionis, secara genetika, sel-sel otak, penalaran, dan dimensi sosial manusia pun berevolusi sebagaimana alam semesta. Jika menilik perjalanan spiritual Homo Sapiens di atas, manusia mulai mengembangkan konsep agama dari bentuk paling mendasar; adanya kekuatan spiritual yang terkandung dalam segala sesuatu yakni animisme, kemudian berevolusi menjadi politeisme, henoteisme dan seterusnya hingga monoteisme.

Perjalanan spiritual homo sapiens di atas juga mewakili teori kelahiran agama manusia dalam pandangan Immanuel Kant. Filsuf Jerman di era abad 19 itu berkata,

“Agama adalah produk dari penalaran empiris yang terbatas.”

Ini berarti ketidakmampuan Homo Sapiens tadi dalam menalar fenomena alam yang terjadi berujung pada ketakutan, dan ketakutan manusia purba itu berbuntut pada kerinduan akan figur pelindung yang kuat, figur yang dapat menjaga mereka dari fenomena-fenomena alam yang “aneh” dan penuh dengan ketidakpastian bagi eksistensi manusia purba ini, figur yang secara simplistik dipersepsikan sebagai figur seorang “ayah”. Lahirlah teori Sigmund Freud yang meyakini bahwa tuhan berasal dari kebutuhan dasar manusia akan sosok “ayah” ini. Mungkin Freud hendak menjelaskan mengapa tuhan dalam sejumlah keyakinan di barat disebut sebagai “father”.

Lebih jauh lagi, Sigmund Freud dalam bukunya Totem and Taboo mengatakan orang-orang primitif juga memiliki konsep akan ”agama” yang dimulai dengan mensakralkan tanaman atau hewan. Ketika manusia primitif itu mengadakan ritual keagamaan, tanaman dan hewan sakral ini pun mereka konsumsi. Bagi Freud, ritual inilah asal mula agama manusia. Freud berkata dengan berani,

God himself was an animal and had evolved from a totem.

[t]uhan sendiri adalah seekor hewan dan berevolusi dari sebuah totem.

[wa iyyadzu billah]

Selain itu, kisah Homo Sapiens di atas juga mencakup teori asal-muasal manusia yang dipaparkan oleh Max Muller, seorang orientalis dan tokoh perbandingan agama abad 19, berkata bahwa agama berkembang seiring pengamatan kumpulan orang-orang primitif terhadap benda-benda langit semisal matahari, bulan, dan bintang. Kemudian manusia primitif mulai mempersonifikasi benda-benda tersebut dan berbuntut pada penyembahan kepada celestial bodies (benda-benda langit). Berdasarkan teori Muller ini kita dapat menelusuri asal-muasal istilah mother nature.

Lain lagi dengan pengusung teori animism, E. B. Tylor. Bagi Tylor, konsep agama dan tuhan berasal dari mimpi. Bukanlah mimpi sebagai sepertiga kenabian dalam perspektif Islam, namun manusia mengenal konsep adanya kekuatan di luar dirinya melalui fase mimpi. Melalui mimpi itulah manusia mendapatkan “visi-visi” tentang penampakkan akan sosok-sosok tertentu. Melalui pandangan mereka tentang mimpi, manusia primitif mulai menemukan konsep ruh dan alam setelah kematian. Setelah itu, melalui mimpi pula manusia menciptakan konsep adanya hari dimana manusia dibalas atas perbuatannya, yakni di alam setelah mati. Selain mimpi, menurut Tylor keadaan manusia yang mendorong munculnya konsep agama adalah ketika sedang menderita sakit dan kematian. Menurut Tylor lagi, agama berawal dari mimpi yang kalut atau igauan yang muncul dari alam bawah sadar di beberapa kondisi lemah.

Lagi-lagi perjalanan “spiritual” Homo Sapiens di atas juga mewakili teori kemunculan agama lainnya, yakni melalui pandangan James George Frazer. Ia mengatakan bahwa agama adalah upaya manusia untuk mengendalikan alam. Upaya untuk mengendalikan alam ini ditengarai oleh ketidakpastian alam. Sebab, bagi mereka sesuatu yang tak terkendali membuahkan hilangnya rasa aman dan kenyamanan bagi keberlangsungan hidup Homo Sapiens. Teori ini juga Frazer tuangkan dalam bukunya The Golden Bough. Frazer juga melihat upaya manusia primitif ini kemudian mendorong kemunculan praktek sihir di kemudian hari.

Memang, sejak Darwin mempublikasikan bukunya berjudul The Origin of Species, bermunculan pula beragam pandangan bahwa segala sesuatu itu selalu dalam fase perkembangan yakni dari fase rendah ke fase lebih tinggi. Manusia bermula dari yang bentuknya yang terendah lalu berangsur-angsur menjadi baik dalam semua aspek, baik anatomi maupun intelektual, termasuk konsepnya tentang agama dan tuhan. Seiring ide-ide manusia yang semakin tinggi dan luhur, manusia menjadi semakin produktif sehingga hal itu turut mendorong lahirnya konsep agama yang semakin baik. Demam filosofi evolusi ini juga menyebar ke seluruh cabang ilmu termasuk sejarah, sosiologi, dan antropologi. Teori evolusi, singkatnya, menganggap manusia itu bermula dari bentuk yang “mentah” dan rendah, primitif, kemudian secara gradual menjadi bentuk yang lebih baik dalam segala aspek melalui tahapan yang panjang dan kompleks.

Di tahun 1955, Majalah TIME di Amerika Serikat menayangkan sebuah artikel dalam edisi 12 Desember 1955 yang berjudul Dawn of Religion:

Manusia purba hanya dapat membayangkan tentang adanya kekuatan supernatural di belakang fenomena-fenomena alam yang bergulir secara teratur. Seiring terbit dan terbenamnya matahari yang berlangsung di setiap harinya, serta siklus pergantian musim dan rotasi bintang-bintang di malam hari, manusia purba hanya bisa merasakan takut sembari bertanya-tanya tentang kemungkinan hal tak terduga seperti apa yang mungkin akan terjadi pada alam; seperti retakan tanah akibat gempa dan kilat yang menyambar secara tiba-tiba dari langit. Di sinilah asal-muasal kepercayaan akan kekuatan supernatural itu muncul.

[Bersambung Insya Allah]

 

Wisnu T.P

[Saduran dari naskah buku penulis]

======

Referensi:

Jessica Whittemore. Theories on the Origins of Religion: Overview. Study.com. Lesson 2.

Winfried Corduan. Neighboring Faiths, Downers Grove, Intervarsity Press, 1998 – via bible.

The Evolution and Origin of Religion (lectured by Mr. Samanta Ilangkon, 2011). Bpunotes1.

Wilhelm Schimdt. The Origin and Growth of Religion: Facts and Theories. Diterjemahkan dari Arthur C. Custance.

Arthur C. Custance. Evolution or Creation. The Doorway Papers, Volume 4, 1976, Zondervan Publisihing House, Michigan, USA.

Evolution or Creation. The Doorway Papers, Volume 4, 1976, Zondervan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s