Dari Afrika Ke Papua: “Atsar” Agama Awal Manusia

Artikel ini penulis penggal dari sebuah naskah buku yang telah rampung penulis susun selama tujuh bulan berjudul “Kaisar Heraklius – Kepingan Hilang Dalam Sejarah Islam”. Terbit atau tidak, Wallahu A’lam.

(mulai kutipan)…

 Allah Azza wa Jallan berfirman,

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul.” (QS. Yunus: 47).

Umat manusia bukan saja terdapat di Mesopotamia yang subur dan kaya akan sejarah peradaban kuno.  Benua Amerika, Asia, Afrika, Australia, Eropa, India, terdapat umat-umat manusia sebagaimana di Timur Tengah.  Allah telah memastikan bahwa seluruh ummah ada pemberi peringatan untuk menyeru manusia kepada tauhidullah. Karena tauhid adalah dakwah pertama dan utama para utusan. Kita (muslim) harus bergantung dan berangkat dari ushul ini, ia adalah stepping stone untuk meneliti sejarah agama manusia ke depannya agar tidak melantur.

“Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24).

Seluruh Nabi dan Rasul dan Kitab-Kitab yang diturunkan, semuanya menyeru pada fitrah manusia, dahulu manusia bersatu di atasnya.

“Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya: 92).

Kita mulai dari Afrika, meski jika merunut dari sumber yang ada, maka akan menjadi satu buku tebal.

Afrika

Seorang peneliti sejarah agama dan seorang misionaris bernama Don Richardson menulis dalam bukunya The Eternity in Their Hearts bahwa 90 persen agama tradisional dunia adalah monoteisme. Don Richardson memang mendekati kebenaran dalam perkara ini, tetapi tidak sempurna. Sebab, bukan “90%”, Allah Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa 100 persen seluruh agama adalah tauhid, tidak kurang dari itu.

Allah berfirman, “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih”. (QS. Yunus : 19). Para ulama menafsirkan bahwa umat yang satu ini berada di atas agama yang satu.

matter-causing-down-significantly-so-last-least-solutions-usually-exchange-situations-whatever-where-is-the-kalahari-desert-on-a-map-of-africa-of-where-is-the-kalahari-desert-on-a-map-of

Berikut penggalan reportase antropolog Don Richardson (DR).

Di pedalaman Gurun Kalahari, sebelah selatan Afrika, di hutan bernama Ituri. Seorang Antropologis bernama Dan Richardson berdialog dengan penduduk gurun yang primitif.

D. Richardson: “Siapakah yang menciptakan dunia?”

Penduduk di sana menyebut sebuah nama yang mereka yakini ada di langit.

D. Richardson: “Dia baik atau jahat?”

Penduduk lokal: “Tentu saja baik,”

D. Richardson: “Tunjukkan pada saya mana patung sesembahan yang menggambarkan dia?”

Penduduk lokal: “Patung sesembahan apa? Tidak tahukah anda bahwa dia tidak boleh direpresentasikan dengan patung?

51CUZ7Ogg6L._SX331_BO1,204,203,200_

-Selesai dialog-

Penulis menganggap, larangan menggambar dan menyimbolkan figur dan ikon sakral bukanlah monopoli “wahabi”, ia adalah keniscayaan dan naluri fitrah dalam mensucikan pencipta. Gerakan Iconoclasm di Bizantium pun serupa dengan hal ini, dimana ada para pendeta yang menolak simbol dan gambar ikon “qudus” di gereja, menurut mereka itu adalah heresy (bidah). Penulis paparkan ini dalam naskah buku, dimana mereka (pemuka Nasrani) menyalahkan bidah ini sebagai penyebab kalahnya pasukan Heraklius di Yarmuk, 636 M. (Lihat Walter. E. Kaegi, Byzantium and the Early Islamic Conquest of Syria)

Dan Richardson menelusuri banyak suku di pedalaman Afrika lainnya dan jawaban mereka serupa, yakni indikasi kuat bahwa monotiesme mendahului politeisme. Penelitian ini ditulis dalam bukunya “Eternity In Their Hearts” tahun 1981.

Setelah banjir besar, ketiga putra Nabi Nuh yang beriman sebagaimana bapaknya, yaitu Yafith, Sam, dan Ham berpencar dan melahirkan bangsa-bangsa.  Yafith adalah nenek moyang bangsa Eropa hingga Turki, Sedangkan Sam melahirkan bangsa Ibrani, Persia, Yaman, dan India. Adapun Ham adalah bapak dari bangsa Mesir, Hijaz, dan Afrika[1].

41fe29d124ddef699176593cf5c1509c--unsolved-mysteries-exodus

Di Afrika kuno misalnya, jejak-jejak tauhid masih tampak jelas. Di Afrika, benua yang seringkali dianggap primitif dan tidak berperadaban maju (non-civilized), bekas-bekas fitrah tauhid manusia terlihat jelas. Konsep akan sesembahan yang satu, maha kuat, maha mengetahui, maha pencipta alam semesta ditemukan nyaris di semua suku-suku pedalaman Afrika.

Ajaran monoteisme di “Benua Hitam” bermuara dari ajaran Ptahotep (2388 SM) kemudian diusung Raja Firaun Akhenaton. Firaun adalah gelar raja bukan nama, seperti halnya Diponegoro I, II, dan III yang merupakan gelar kebangsawanan Jawa. Akhenaton bahkan menjadikan monoteisme sebagai state-releligion, agama resmi kerajaan[2].

515BfUjNG-L._SX327_BO1,204,203,200_

Berikut ini adalah kutipan dari Psalms 9 Akhenaton yang kental bernuansa monoteisme.

Wahai Tuhan satu-satunya, yang tidak ada lainnya selain engkau. Engkau Menciptakan bumi sesuai kehendakMu, hanya engkau sendiri. Seluruh manusia, sapi ternak, seluruh hewan, di bumi yang berjalan dengan kaki dan yang terbang dengan sayap. Engkau menetapkan tempat kediaman bagi setiap orang dan memuaskan kebutuhan mereka. Seluruh [kadar] makanan dan usia mereka telah ditentukan. Lidah-lidah mereka berbeda dalam berbicara begitu juga karakter mereka. Warna kulit mereka berbeda. Betapa sempurnanya cara-cara-mu, Wahai tuhan yang abadi[3].

 

Papua

Contoh lainnya adalah di Papua, wilayah yang dekat dengan kita. Jejak penyembahan kepada tuhan yang satu teridentifikasi pada suku Kapauku, Papua Barat. Suku ini diperkirakan berkembang sejak zaman batu. Namun teologi mereka tidak primitif. Mereka menyebut bahwa ada satu Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Hadir, bernama Ugatame[4]. (omniscient, omnipotent and omnipresent, dalam teks asli misionaris barat, Leopold Pospisil).

517DmQrR24L._SX341_BO1,204,203,200_

Ugatame bagi mereka berada di atas langit, melampaui dan di atas segala sesuatu. Ugatame berbeda dari segala dimensi fenomena, Ugatame tidak sama dengan eksistensi yang dapat diindera oleh lima panca indera. Kapauku meyakini segala sesuatu, baik dan buruk, diciptakan oleh Ugatame, sehingga ia bertentangan dengan konsep freewill barat dan akidah qadariyah.

Pernah suatu ketika seorang Kapauku yang sudah sepuh dari daerah Mapia beserta dua orang anaknya pernah mendatangi seorang misionaris dari negeri Barat yang berada di Papua pada tahun 1955. Mereka saling berdiskusi soal konsep ketuhanan. Akhirnua seorang dari suku Kapauku tersebut berkata,

“Bagaimana Anda pandai membuat pesawat, senjata, obat-obatan, pakaian, dan perkakas besi namun di saat yang sama Anda sangat Tabe-Tabe dalam agama Anda? (Tabe-Tabe: Bodoh/primitif)[5].

 

Australia

Sebagai catatan, suku asli Australia adalah Aborigin. Aborigin sendiri istilah latin, yang artinya ab (dari) origin (awal). Sebelum kolonialisme tiba di sana, ada 250 suku “aborigin” yang menetap. Sekarang? Wallahu A’lam. Sebelum Australia mengkritik isu HAM negara lain, ada baiknya jika mereka menelusuri sejarah kelam mereka terhadap penduduk pribumi.

Australian-Aboriginals

Selain di pedalaman Afrika, di pedalaman Australia sosiologis dan ahli antropologi Eliade M (1973) dan Lang. A (1898) membuktikan lebih dari 500 suku Aborigin mengenal konsep satu tuhan yang mereka sifati dengan “pengatur alam semesta, abadi, tidak diciptakan namun dia yang menciptakan.” Perbedaan di antara suku-suku yang terpisah namun masih berasal dari Aborigin Australia hanya-lah nama sedangkan esensinya sama. Peneliti tersebut juga mengatakan bahwa hari ini keyakinan mereka itu sudah menyimpang dengan tahayul dan kreasi-kreasi mistis[6].

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul” [QS. Yunus: 47].

Seluruh manusia terlahir dengan fitrah dasar tauhid ini. Seiring berjalannya waktu, terjadi degenerasi tauhid[7]. Ketika fitrah ini menyimpang, Allah Mengutus Pemberi Peringatan. Tatkala kembali terjadi penyimpangan, Pemberi Peringatan lainnya kembali diutus.  Begitu seterusnya hingga diutusnya Nabi Akhir Zaman, Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Setelah itu, siapa yang masih sengaja berbuat syirik maka ini absennya optimalisasi akal untuk menelaah, mengkomparasi, merenungi, dan mengambil yang terbaik dan sesuai dengan fitrahnya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. [QS. Ar Ruum: 31].

Kalimantan

Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria mengatakan bahwa,

Dr. H. Urang Kay seorang ulama melayu di Indonesia mengatakan, ‘Di tempat kami negeri Arkhabil melayu ada bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa penduduk negeri kami dahulu kala menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Esa. Hal itu sebelum masuknya Islam ke dalam negeri-negeri tersebut, dan sebelum masuknya agama Nasrani. Adapun aqidah penduduk pulau Kalimantan, di Indonesia maka akidahnya tercampuri oleh agama Hindu yang bercampur dengan aroma Islam. Bersamaan dengan itu bahwa tauhid merupakan ibadahnya penduduk pulau ini yang merupakan asal muasal nenek moyangnya sebelum masuknya Hindu atau Islam ke pulau tersebut.

Kalau kita kembali kepada bahasa yang dipakai oleh penduduk pulau ini sebelum menggunakan bahasa Sansekerta atau sebelum masuknya Hindu, atau sebelum masuknya Islam, kita akan merasa yakin bahwa gambaran akidah nenek moyang kita -menurut penuturan dan data yang valid- bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam akidah mereka adalah Esa tidak ada sekutu dengan -Nya”[8]

103-492A

Penulis sejauh ini belum berhasil menelusuri siapakah Dr. H. Urang Kay tersebut. Informasi ini perlu kita kritisi, sebab jika disalahpahami maka ia akan menarik persepsi kepada nativisasi. Ada gerakan nativisasi ini yang tujuannya memperjuangkan seluruh kepercayaan lokal diakui oleh pemerintah. Jika diakui, maka mereka menuntut diizinkannya rumah-rumah ibadah, disusun mata pelajarannya di sekolah-sekolah, ditetapkan hari libur perayaan mereka. Dr Adian Husaini mengatakan, di tahun 80-an saja ada sekitar duaratus aliran kepercayaan. Ini tidak berkaitan dengan sosok Dr. H. Urang Kay. Hemat penulis, apa yang dikatakannya benar.

Banyak sekali paparan semisal ini di berbagai sumberm terkhusus melalui analisa Dr. Zakir Naik, seorang praktisi medis yang juga menyelami ilmu hadis di awal perjalanan ilmiyahnya. Di India, monoteisme lebih kentara lagi yang justru didapat dari sumber primer di sana, yakni salah satu kitab suci agama. Dr. Abdullah Quick dari Al Maghribi Institute berfokus pada jejak monoteisme di Afrika. Dr. Bilal Phillips melalui bukunya ‘The Fundamentalism of Tawheed” pun memaparkannya dalam bab khusus. Di Nusantara sudah ada upaya untuk menelusuri jejak agama purbakala namun publikasi semisal ini setahu penulis masih minim.

fundamentals_of_taweheed

Penting bagi kita membedakan bahwa meski Tauhid dan Monoteisme memang sama-sama mengusung keyakinan Satu Tuhan, perbedaan mendasar di antara keduanya ialah bahwa Monoteisme dicapai melalui spekulasi filosofis, menggunakan nalar (aql/reason) dalam memahami Pencipta Tunggal serta melalui interaksi budaya. Sedangkan Tauhid dicapai melalui wahyu (naql/relevation) saja, setelah itu akal membenarkannya.

Meyakini adanya Pencipta yang Esa yang berkuasa atas segala sesuatu sudah cukup dikatakan monoteistik. Adapun tauhidic menuntut meyakini adanya Pencipta yang Esa dan mewajibkan praktek penyembahan hanya kepada Sang Pencipta saja tanpa tandingan. Dalam Tauhid mencakup monoteisme. Namun tidak semua agama monoteisme itu tauhidic[9].

Indikasi-indikasi ini menuntun kita kepada satu hal, bahwa manusia semakin lama semakin primitif. Ketika seorang Rasul diutus, maka ia memperbaiki dan meluruskan keprimitifan itu dengan memberantas kesyirikan dan menyeru kepada tauhid. Begitu terus hingga diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun emang dasar tabiat manusia, di tengah gegap-gempita dan gemerlap modernisasi, sebagian manusia kembali primitive. Tidak saja dengan penyembahan patung dan manusia serta benda lainnya, namun juga kepada kesyirikan kontemporer seperti Marxisme, Postmodernisme, Liberalisme Agama, Eksistensialisme, Nihilisme, dan sesembahan berupa isme-isme semisalnya.

Wallahu A’lam.

[1] Sami bin Abdullah Al Maghluts, Atlas Siratul Anbiya’ war Rusul

[2] Dr. Abdullah Hakim Quick. Islam in Africa, al Maghribi Institute.

[3] Ibid

[4] Godfrey Lienhardt, Divinity And Experience: The Religion Of The Dinka, 1978 (Reprint Of 1961 Edition), Oxford At The Clarendon Press, hal. 29. Kedua sumber diambil melalui situs http://www.islamic-awareness.org/dan  http://www.islaweb.com (diakses pada 3 Oktober, 2017).

[5] Leopold Pospisil, The Kapauku Papuans Of West Guinea, 1978, Holt, Rinehart & Winston, hal. 84.

[6] The Concept of God among the Aborigines of Australia

[7] Dr Bilal Phillips. Fundamentalism of Tawheed

[8]. Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria. Apakah Pada Asalnya Manusia Itu Bertauhid Atau Syirik? Judul asli,  الشرك أو التوحيد الإنسان في الأصل هل . Islamhouse.com. Diterjemahkan: Abu Umamah Arif Hidayatullah

[9] Abdurezak A. Hashi. Between Monotheism and Tauhid: A Comparative Analysis (Revelation and Science)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s