Mesopotamia: Pseudo-Archeology Dan Jejak Tauhid

Temuan Arkeolog barat dan interpretasi mereka terhadapnya menunjukkan bahwa wajah peradaban kuno di Mesopotamia dan di wilayah lainnya adalah peradaban maju, kompleks, sekaligus misterius. Mesopotamia, the cradle of civilization, penuh dengan informasi sejarah yang kaya. Maju, kaya, kompleks, yang dimaksud adalah dalam aspek materialistik, melalui variabel-variabel keduniawian.

Jadi Mesopotamia itu wajahnya memikat tapi hatinya gelap. Infrastruktur dan sains maju tapi kalbu mereka gelap karena kesyirikan. Inna syirka ladzulmun ‘adziim.

Bagi barat, wajah tampan hati busuk ini tidak masalah, sebab, seorang pelacur asalkan hatinya “baik” itu dapat diterima dalam tatanan sosial postmodernisme, sebab dalam alam pikir postmodernisme semua itu nihil dari nilai kebenaran mutlak, dan nilai benar hingga dihancurkan sampai ke akarnya (dekonstruktif-destruktif). Maka dalam tashawur Islami, postmodernisme ini paham kufur kaffah. Sementara dalam Islam, dikotomi ini lahir batin tidak diterima. Seorang yang tidak mengenakan hijab tetap salah meski mengklaim hatinya “berhijab”.

Mesopotamia, atau negeri di antara dua sungai yang diambil dalam bahasa Yunani. Ia merupakan wilayah dimana lahir peradaban Sumeria, Akkadia, Assyria, Babilona, dan Persia. Menurut Injil, Nabi Ibrahim alaihissalam lahir di wilayah tersebut, tepatnya di  kota Ur. Dalam satu waktu, peradaban Yunani pernah mendominasi kehidupan manusia di sana saat Seleucus I Nicator, salah satu jenderal Aleksander dari Makedonia, menjadi penguasa di sana. Jenderal yang bukan saja mengidap kelainan orientasi seksual namun juga paganistik ini memberi warna helenistik ke dalam peradaban Persia.

Mesopotamia_project

Di era kerajaan Sumeria-lah roda pertama kali ditemukan. Roda memicu kelahiran chariot, kereta perang kuda yang menjadi asset tempur bangsa Assyria, kerajaan militeristik yang beridri setelah Sumeria runtuh. Perhitungan 60 detik dan 60 menit pun di antara karya peradaban Sumeria yang pada hari ini masih digunakan manusia, termasuk perhitungan 360 dalam lingkaran.

Penggunaan baterai untuk pencahayaan, sistem pertanian yang maju, matematika, roda, kalendar, tulisan, astronomi, menjadi di antara warisan peradaban Mesopotamia yang lestari. Semua itu tampak di antaranya melalui bangunan megah dengan arsitekturnya yang kompleks, sistem pengairan yang terbilang maju, dan struktur sosial yang dinamis.

Terlepas dari berbagai warisan ilmu pengetahuan, peradaban Mesopotamia juga memiliki sisi gelap dengan kegelapan yang paling hitam, yakni praktek kesyirikan. Agak “janggal” memang menyandingkan temuan arkeologi peradaban kuno tiba-tiba menyisipkan mindset tauhidy. Itu karena sebagian kita (dan saya) belum terbiasa. Asupan pengetahuan peradaban kuno seringkali kita konsumsi dari tayangan dokumenter dan enskilopedi rancangan barat yang sekularistik dan pluralistik. Tidak ada unsur agama di sana.

Singkatnya, ia adalah sebuah pengetahuan yang diandasi anggapan bahwa manusia itu hidup sendiri di alam semesta, seluruh sebab akibat berkutat hanya pada fenomena alam dan kausalitas aksi manusia, sebuah landasan yang menganggap bahwa seluruh persitiwa itu terjadi secara otomatis dan acak. Sebuah landasan yang tidak memasukkan supreme being power dalam keberlangsungan wujud alam. Singkatnya, asas yang mengajak manusia menghilangkan jejak Allah di bumi dan sanubari. Inilah yang disaksikan dan diserap oleh sebagian anak-anak kaum muslimin saat ini layar kaca, buku ensiklopedia, bahkan terkadang dalam buku pelajaran institusi pendidikan.

postmodernism

Sepanjang sejarah peradaban di Mesopotamia, patung-patung berhala dengan berbagai ukuran dan berbagai bentuk disembah oleh manusia. Mereka memiliki ribuan berhala, duapuluh di antaranya adalah yang “terpenting”, yang secara intens disembah. Otoritas sesembahan mereka ditentukan oleh “ijtihad” yang selaras dengan selera mereka. Ilmu sihir pun menjadi pengetahuan yang banyak digemari sebagian orang. Meski maju dalam pengetahuan, konsep teologi mereka primitif. Dalam banyak hal, sejarah berulang. Kesyirikan pada hari ini masih merajalela. Di tengah pancaran layar smartphone, di bawah deru mesin Rolls-Royce di dua sayap Boeing 777 ER, sebagian manusia masih berada dalam taraf primitif.

images

Namun seorang muslim idealnya mampu mendudukkan segala sesuatu dengan proporsional, termasuk pengetahuan tentang peninggalan purbakala. Jadi bukan hanya inshof ketika menyikapi fenomena tahdzir, atau mendudukkan syntaxmatic dalam istilah “pluralisme manhaj”, melainkan mendudukkan secara proporsional dalam “menyerap” temuan arkeolog barat agar ia bermanfaat bagi seorang muslim di segala dimensinya.

Di antaranya adalah dengan mengambil “keuntungan” dari asas “kenetralan ilmu” mereka (barat). Sebab, ketika mereka menetralkan ilmu dari nilai subjektif mereka sendiri, maka apa yang tersaji pada kita salah satu sumber ilmu melalui panca indera – as is, apa adanya, pure empirics. Memasukkan tauhidic mindset adalah tugas kita, atau bahkan fitrah keislaman kita sendiri. Di sini letak keuntungannya dan di saat yang sama kita telah menyelisihi mereka dalam manhaj ilmiyah, yakni kita tidak menetralkan ilmu dari nilai-nilai, termasuk agama, kita mendapat paparan empirik, salah satu dari sumber ilmu.

Namun ada kendala, seperti biasa, bahwa mereka seringkali terjebak ke dalam ketidaknetralan ilmu yang mereka usung dan “dakwahkan” sendiri. Di saat mereka tidak konsisten dengan kaidah “ilmu itu bebas nilai”, di sana pula kita berpotensi terjebak pula dalam informasi/pengetahuan yang lahir dari pikiran, perasaan, dan tindakan sekularitlstik dan relativistik mereka (komponen worldview). Bagi mereka ilmu itu netral, bebas dari nilai. Bagi muslim ilmu itu sarat nilai.

Lantas apa masalahnya?m

Masalahnya, kenetralan ilmu itu mustahil, minimal utopis. Objek ilmu itu diindera dikonsepkan dalam pikiran oleh subjek. Ketika seseorang yang mengaku telah membebaskan ilmu dengan nilai, maka di saat itu sejatinya ia telah memberi nilai terhadap ilmu itu sendiri. Kalau tidak “kokoh”, apalagi “sejati”, maka ini potensi syubhat, syubhat yang lebih fatal dari syubhat “piknik lintas manhaj”.

Sehingga dapat saja ada informasi dari temuan purbakala yang (di) bias (kan), distorted, atau kental dengan propaganda ideologis. Melalui praktek pseudoarcheology, yakni ketika mereka memiliki celah untuk menyisipkan framework postmodernistik, sadar atau tidak sadar, baik melalui interpretasi non scientific atau penyalahgunaan bukti, kebenaran akan tersamarkan. Dalam pseudoarcheology juga terdapat unsure nasionalisme. Bagi conspiracy theorist misalnya, bukti adanya Atlantis dan Aliens disembunyikan. Bukti perdaban maju benua Afrika yang selama ini dikesankan ”terbelakang” serta peninggalan peradaban maju benua Amerika pun terkesan ditutup-tutupi oleh motivasi supremasi ras.

Misalnya, peta dunia yang kita saksikan sekarang bermuara dari desain seorang kartografer bernama Geert de Kremer (Mercator) dari proyeksi petanya yang dibuat pada abad 16.

Contohnya adalah ukuran benua Afrika yang “keliru”. Benua Afrika jauh lebih besar dari apa yang tampak pada peta selama ini. Afrika lebih besar dari gabungan negara China, Kanada, dan Amerika Serikat. Dalam peta selama ini, Greenland nyaris sama besarnya dengan benua Afrika, padahal Afrika 14x lebih besar dari Greenland berdasarkan Kai Kraus.

true_size_of_africa_v3-da3dd38e

Seorang desainer graphical user interface bernama Kai Kraus-lah yang memaparkan fakta ini melalui peta Afrika-nya berjudul, The True Size of Africa. Dan tahukah, bahwa peradaban kuno Afrika tidaklah se-primitif yang dikesankan barat? Tapi itu perkara lain. Sebagaimana benua Amerika, ada sejarah yang disetir bagi kepentingan supremasi ras tertentu

anon

Apa ini? Teori konspirasi ala Anonymous Legion? Bukan. Ini bukanlah dugaan kosong dan paranoia terhadap posmodernisme dan scientific crussade, sebab tendensi semisal ini sudah terang dijelaskan oleh Al Quran dimana mereka memang seringkali menyembunyikan, mengubah, dan menolak kebenaran pada kitab-kitab mereka. Jika pada kitab-kitab itu mereka terbukti telah berbuat khianat, apalagi terhadap selainnya?

Sejauh ini, ancient Mesopotamian history nyaris seluruhnya dirumuskan, diinisiasi, dikembangkan, dipelopori, dan ditulis oleh barat dan worldview barat yang kental dengan  saeculum– nya.

Jejak Kesyirikan Dalam Temuan Arkeologi

Temuan mereka mengafirmasi bahwa di wilayah subur Mesopotamia itu selama puluhan abad penuh dengan praktek kesyirikan. Ini adalah stance kita sebagai muslim. Ini adalah nilai yang kita berikan terhadap objek ilmu.

Telah banyak ditemukan patung-patung, stelae dan cuneiform pemujaan benda langit, serta epos raja-raja yang mempertuhankan diri dan dipertuhankan rakyatnya, serta temuan altar-altar yang dianggap sebagai  kuil berhala. Semua itu mempertegas bahwa kesyirikan di Babilonia dan seluruh peradaban Mesopotamia memang merajalela, dan Nabi Ibrahim diutus untuk memberantas semua itu dan menyeru manusia untuk kembali pada fitrahnya; mentauhidkan Allah. Di peradaban Aztec, Maya, Inca, Mesir, India kuno, China, dan Stonehenge pun mengarah ke pola sama, kesyirikan.

Selain itu, temuan arkeolog barat serta interpretasi mereka (dengan catatan dibaca dengan nalar kritis) menegaskan kembali bahwa, agama manusia itu hanya satu. Sejarah agama manusia bermuara pada satu, yakni agama tauhid, Islam. Ini juga stance muslim dan stance para penginjil dan revivalis Yahudi.

Dalam sejarah manusia yang dikaji barat, terdapat dua teori asal-muasal agama manusia.

To sum up,

Pertama, teori yang mengatakan bahwa agama asal manusia adalah penyembahan berhala itupun setelah mereka “mengoptimalkan” akal mereka serta didorong oleh kebutuhan manusia untuk “menyembah dan bergantung”  pada supreme being, (dalam Islam, dikenal dengan fitrah Rububiyah, terkhusus bagi wahabi seperti saya).

Sebagaimana Karl Marx yang menganggap agama itu candu, ia adalah kebutuhan manusia untuk bergantung kepada suatu kekuatan besar. Maka, ide Karl Marx ini sejatinya kuno, ancient, primitif, berdasarkan teori ini.

Kedua, agama asal manusia adalah monoteisme, menyembah satu sesembahan, apapun itu “bentuk”-nya, dan teori kedua ini didukung oleh banyak sejarawan baik dari kalangan religius maupun “tidak terlalu” religius.

Teori kedua lebih mendekati yang benar meski ada ruang luas untuk kritik. Termin monoteisme harus dipilah, modifikasi, dan Islamisasi lagi. Sebab, tauhid tidak sama dengan monoteisme.

Bukan lagi sekedar teori, tapi kebenaran yang mutlak yang seorang muslim wajib benarkan bahwa agama asal manusia  adalah Islam (tauhid). Bukan karena tesis dari buku, jurnal, dan dokumenter yang mereka susun mengindikasikan demikian, kita benarkan karena keimanan kita terhadap Al Quran dan Assunnah serta penjelasan Ibnu Abbas radhiallahuanhu dalam tafsir Surah Nuh, (lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Teori ini perlu “polesan” definisi, yakni dengan memahami bahwa monoteisme (mono: satu, theis: tuhan, latin) yang mereka maksud tidaklah sama dengan tauhidic (wahada, yuwahidu, wahdantauhidan Arab).

Meski terdapat irisan definisi namun sejatinya tauhidic lebih komprehensif dan kompleks (kompleks dalam makna dan definisi, sekaligus mekanisme mempertahankan diri dari sisipan paham di luar koridor Islam). Ia mengharuskan penetapan dan penafian, mencakup keimanan pada kerasulan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, keimanan pada seluruh Shifat Allah dan seterusnya.

Monoteisme tidak (sepenuhnya) seperti itu. Seorang yang menyembah satu sesembahan bisa dikatakan monoteistik meski sesembahan itu adalah zahra (venus) dalam terminologi Babilonia Kuno zaman Nabi Sulaiman menurut pemenggalan era dalam israiliyat.

KONON, Zahra ini wanita yang menggoda dua Malaikat Harut Marut di sekitar abad 10 SM, sehingga menjerumuskan kedua malaikat ke dalam perbuatan keji. Sebelum menyerahkan dirinya, Zahra ini mensyaratkan untuk diberi mantra sihir yang dapat membawanya ke langit. Setelah Zahra ke langit, ia dikutuk kemudian menjadi Venus. Ibnu Katsir dalam tafsir beliau mengasosiasikan Venus ini dengan “Kawkaab” dalam surah  Al An’am ayat 74-78. Singkatnya, agama monoteistik belum dan tidak mencakup tauhid, sementara tauhid dalam beberapa hal mencakup monoteistik.

08674f1c85a99865d1fb9eebb63a59e6

Dalam Al Quran, di setiap umat ada utusan, dan azab turun kepada satu kaum jika hujjah telah tegak, dan keniscayaan ini adalah bentuk Keadilan Allah. Di setiap umat, dan umat melahirkan peradaban, pasti ada tokoh penyeru tauhid.

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul.” (QS. Yunus: 47).

Banyak lagi ayat semisal yang menunjukkan manusia dahulu bersatu di atas agama lurus kemudian penyimpangan terjadi seiring berjalannya waktu, lalu Allah mengutus Pemberi Peringatan di setiap ummat.

Para penyeru tauhid ini bukanlah sekedar vokalis yang suka solo konser, preman, atau mengandalkan tubuh six packs saja, namun para insan-kamil yang Allah pilih sebagai utusan dan pemberi peringatan bagi umat-umat.

Jejak monoteisme ditemukan nyaris di semua peradaban kuno! Bahkan di pedalaman gurun Afrika, dan di suku Aborigin bahkan Papua. Ini menurut kesaksian para misionaris Kristen dan para ahli antropologi barat sendiri. (www.submission.info, search “The Concept of Monotheism Since Ancient Times”).

Berangkat dari situ timbul pertanyaan, mengapa tidak ditemukan bukti berupa cuneiform, stelae, bait-bait epos, atau aksara paku/pahat berupa gambar di dinding reruntuhan yang menunjukkan dengan gamblang bahwa pernah ada seorang utusan yang menyeru kepada tauhid?

Jawaban singkatnya adalah “itu domain Kitabullah  bukan berdasarkan pahatan batu dan ilmu tulang belulang”. Jika tidak puas dengan jawaban tersebut, silahkan menyelami lebih jauh, namun secara singkat ada tiga hal yang perlu dicatat.

1. Apakah arkeolog barat menyembunyikan bukti demi menutup kebenaran sesungguhnya?

Terdapat kemungkinan itu. Namun chance- nya terbilang kecil. Sebab, di antara para arkeolog itu tidak semuanya sekular atau ateis, bahkan di antara mereka adalah pemeluk Nasrani atau Yahudi “taat”. Misal, sebuah lembaga agama di barat pernah membiayai ekspedisi pencarian Kapal Nabi Nuh. Ini bukti bahwa sebagian mereka juga ingin sekali menemukan evidence semisal itu sebagai hujjah untuk menentang liberalis dan ateis di barat demi melestarikan agama mereka. Ingat, liberalisme dan sekularisme dan pluralisme lebih dahulu mengancam dan menggerogoti agama-agama di Eropa sebelum menyusup ke negara-negara Islam.

Namun sejauh ini memang para ilmuwan, arkeolog, agnostik, dan ateislah yang memiliki hujjah akan kebearan worldview la diniyah mereka oleh karena sejauh ini bukti-bukti fisik – yang sampai pada kita, umat Islam –  menunjukka  bahwa peradaban-peradaban di masa lalu umumnya paganistik dan kultur mereka bertabur praktek penyembahan berhala. Kuncinya: interpretasi. Sebab, sejarah bukan saja catatan peristiwa di masa lalu saja. Sebab kalau hanya itu, seorang wartawan pun bisa. Tapi interpretasi bermain besar.

Kemudian, kita tidak menafikkan praktek pseudoarcheology sebagaimana telah disinggung di atas.

2. Tidak adanya pahatan cuneiform, stelae, atau inskripsi semisal Gilgamesh yang menunjukkan indikasi kuat adanya para utusan disebabkan karena para penyeru tauhid itu pasti dimusuhi oleh rezim berkuasa. Sementara, pahatan aksara paku, silinder, dan gambar ditujukan untuk mengelukan penguasa, mencatat gelar raja, mencatat pajak yang ditarik penguasa, bencana alam, tentang dewa dewi, syair romantik, logistik, dan catatan peperangan, atau kisah-kisah “penting” sebagaimaba Ayyam al ‘Arob.

Sementara para penyeru tauhid di masa itu akan diusir, dibakar, dibunuh, dan bagi mereka tidak akan mendapat tempat dalam dokumentasi pahatan-pahatan yang tujuan utamanya sebagai propaganda rezim itu.

3. Sehingga bukti terkuat akan adanya para penyeru tauhid di peradaban Mesopotamia adalah Kitab-Kitab Allah, yakni Taurat, Injil dan Al Quran, dan yang paling benar dan reliable pada zaman ini (ini ranah keimanan penulis, bukan hate speech) hanyalah Al Quran, kitab berisi Firman-Firman Allah tanpa cela. Silahkan merujuk pada kisah israiliyat dengan menisbatkannya kepada sumbernya dengan tujuan untuk referensi, bukan diimani sebagai kebenaran mutlak atau kesalahan mutlak.

Namun secara global, Al Quran, hadis-hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan segudang kisah israiliyat, terkhusus israiliyat yang tidak bertentangan dengan nash dari Al Quran dan Assunnah, menguatkan bahwa Allah Mengutus pemberi peringatan di setiap peradaban, dan peradaban itu bukan hanya di Mesopotamia saja. Allah tidak mengazab suatu kaum sebelum disampaikan hujjah. Jangankan praktek zina massal di Pompey, Italia di zaman Romawi Barat, kaum penyembah patung di Babilonia Kuno pun terlebih dahulu diutus ke tengah-tengah mereka seorang pemberi peringatan (menyeru tauhid). Syirik lebih besar dosanya ketimbang zina dan sodomi.

  • Dalam hukum Hammurabi yang jumlahnya 282 butir disebutkan misalnya:

– Menghilangkan mata orang lain hukumannya dihilangkan matanya.

– Pembunuh harus dibunuh.

– Jika menanggalkan gigi, si pelaku harus ditanggalkan giginya  dan sebagainya.

code-of-hammurabi-1

Sounds familiar?

Hukum Hammurabi ini dirilis pada 1755 SM, sementara itu Nabi Ibrahim alaihissalam hidup sebelum itu (2100-1800 SM). Artinya, jaraknya tidak berjauhan.  Sebagai catatan, jika terdapat tahun-tahun yang disandingkan dengan zaman hidupnya para Nabi dan Rasul, maka dapat dipastikan ia adalah israiliyat yang terkadang dicampur dengan spekulasi yang didapat (dirunut – dikalkulasi) dari inskripsi kuno. Sementara sumber-sumber Islam tidak pernah tegas menyertakan tahun tertentu.

Penanggalan Islam sendiri baru dimulai pada 622 (1 H). Adapun usia berbeda dengan hitungan tahun, misal jumlah tahun hidupnya figur tertentu. Misal, Nabi Nuh hidup 950 tahun. Jeda antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah 10 Abad. Jumlah tahun yang terlewat oleh Ashabul Kahfi adalah sekian dan sekian. Usia umat Nabi Muhammad adalah 60-70. Akan tetapi kita tidak mendapati misalnya Nabi Ibrahim hidup di sekitar tahun 2100 SM – 1800 SM kecuali dari israiliyat.

 

Hukum Mesopotamia Kuno Milik Siapa?

Nabi Ibrahim diberikan lembaran (shuhuf). Para ulama berbeda pendapat, apakah isinya hikmah dan nasihat, ataukah terdapat hukum juga. Syaikh Utsaimin menetapkan yang kedua sementara ulama lainnya yang pertama. Jika demikian, apakah Hammurabi adalah seorang pemikir hebat sehingga bisa merumuskan hukum-hukum “qisas”? Ataukah ini indikasi bahwa ada seorang Utusan Allah yang mendakwahkan syariat-Nya sesuai zaman itu?

Hammurabi bertauhid? Bukti empirik yang sampai tidaklah menunjukkan ia menganut monoteistik. Tapi dalam sejarah, interpretasi berperan besar. Sejauh mana pengetahuan yang telah kita tahu?

  • Dalam Zoroatrianisme pun sama:

– Sodomi, pezina, pembunuh, pelaku hubungan seks saat haid, dan pelaku aborsi akan dibunuh.

– Wanita harus menutup tubuhnya dengan kain dari kepala hingga kaki

– Durhaka sama suami dikenai hukuman berat.

Zarathustra dalam salah satu pendapat hidup bersamaan dengan Cyrus, dan Cyrus inilah yang membebaskan Yahudi dari tawanan Babilon di abad 6 SM, dan Cyrus begitu dielukan oleh Yahudi sebagai penyelamat. Orang Yahudi memiliki pengetahuan tentang Cyrus dari sumber agama mereka. Sebagai pengingat, ahli kitab yang “menguji” Rasulullah dengan pertanyaan tentang Dzulqornain adalah ahli kitab dari kalangan Yahudi. Mari renungkan.

Hukum-hukum itu bukan saja memiliki kesamaan namun juga “bernilai tinggi”. Bernilai tinggi karena ia “menyerupai” syariat agama-agama Ibrahim. Syariat-syariat Allah adalah tertinggi. Apakah mungkin umat di Mesopotamia kuno merumuskannya dengan akal mereka sendiri? Ataukah ia hasil evolusi akal sehingga melahirkan hukum-hukum yang “kebetulan” memiliki sebagian kemiripan dengan Taurat dan Injil, dan Al Quran? Jika iya, bagaimana mereka bersepakat dalam menggunakan hokum dari masa ke masa yang lain dalam rentang waktu ratusan bahkan ribuan tahun seperti dari era Hammurabi hingga Cyrus dengan agama Zoroaster-nya yang nyaris terpaut seribu tahun lebih?

Di antara faktor yang bisa menjadikan sebuah informasi bernilai di antaranya adalah bahwa maknanya mustahil merupakan buah karangan intelektual manusia. Namun menetapkannya sebagai indikasi bahwa hukum-hukum itu adalah di antara indikasi adanya agama tauhid dan penyerunya dari kalangan manusia di peradaban tersebut memang harus ekstra hati-hati. Inilah indahnya manhaj salaf, memiliki koridor dan acuan yang jelas dalam menggunakan akal. Akal tidak pernah dimaksudkan untuk berpikir bebas. Akal dimaksudkan untuk berpikir apa yang sesuai ia diciptakan. Sehingga memikirkan Dzat Allah bukanlah di antara tujuannya.

Kemudian di antara tingginya nilai reportase dari masa lalu adalah ketika para rantai informasi itu mustahil sepakat untuk berdusta. Saya menghindari korelasinya dengan mustholah hadis, ini bukan otoritas penulis, namun kaidah dalam ilmu tersebut begitu unik dan holistik yang menurut hemat penulis membentuk landasan jurnalisme modern.

stand-or-ur-city-state-mapback-OL-MA_web

 

Celestial Bodies, Sesembahan Babilonia

Sebagaimana Al Quran, Injil/Taurat memang menyebutkan bahwa kaum Nabi Ibrahim adalah penyembah berhala, namun demikian bible tidak menyebutkan dengan jelas apa sesembahan kaum Nabi Ibrahim itu. Namun Al Quran telah mengisyaratkan dengan jelas apa sesembahan  mereka, sekitar 13-14 abad sebelum arkeolog Eropa melakukan penggalian ke dasar Kota Ur dan menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Dan berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu, “Demikianlah TUHAN , Allah Israel, berkata: Leluhurmu di masa yang lampau telah hidup di seberang sungai –Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor– dan mereka menyembah allah lain.(Yoshua 24: 2).

Bandingkan dengan Al Quran surah al Anbiya ayat 52.

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaannya. (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadat kepadanya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” 

Akan tetapi, Al Quran memberi informasi tambahan mengenai apa yang disembah kaum Ibrahim. Dalam surah Al An’am ayat 74-78:

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan- tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) berkata, “Inilah Tuhanku.” 

Tetapi tatkala bintang itu lenyap, dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang lenyap.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku.”

Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.”

Maka tat­kala matahari itu telah terbenam, dia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” 

Kita melihat bahwa ketika Nabi Ibrahim berdebat dengan kaumnya (bukan proses berfilsafat dalam mencari tuhan sebagaimana banyak digaungkan), beliau menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah berhala. Intinya, meski matahari, bulan, dan bintang “menarik hati”, mereka semua adalah ciptaan Allah.  Ketiga sesembahan ini merupakan benda-benda langit dan sesembahan ketiga, yakni “kawkab”, yang arti secara umum benda langit yang terang, bisa berupa bintang atau planet. Bukti kuat yang dimaksud “kawkab” adalah planet Venus.

37249040_10214569926713278_4497147229282238464_n

Venus benda langit yang mencolok. Ia planet paling terang di langit, namun demikian, ia hanya dapat terlihat sesaat sebelum matahari terbit dan sesaat sebelum matahari terbenam.

Aku tidak menyukai kepada yang lenyap, ujar Nabi Ibrahim alaihissalam.

Ibnu Katsir dan Jalaluddin al Mahalli rahimahumallah menyebutkan “kawkab” di pada ayat di surah Al An’am itu adalah planet Venus.

Arkelolog barat baru menemukan jawaban atas pertanyaan “apakah yang disembah kaum Ibrahim?” setelah dilakukannya melakukan penggalian kota Ur, sebuah kota yang menurut Genesis 11:7-28 tempat kelahiran Nabi Ibrahim.

Arkeolog dari Inggris, Sir Leonard Woolley, menggali lubang dengan kedalaman 40 kaki, dimana ia menemukan beragam sumber berharga tentang arsitektur, seni, kehidupan sehari-hari, pemerintahan, agama, dan sastra Kota Ur. Dan Leonard Woolley menyimpulkan Kota Ur menyembah bulan (nana), matahari (utu), dan Venus (inanna). Tigabelas abad sebelumnya, Al Quran sudah menerangkannya.

Kesimpulan:

Interpretasi sejarah peradaban Mesopotamia kuno didominasi, atau nyaris seluruhnya, diusung sejarawan barat. Barat didominasi oleh paham sekularistik, relativistik, dan nihilistik. Ia adalah perkawinan masal antara peradaban Yunani, Romawi, dan bangsa-bangsa nomaden di Balkan.

“Manusia hidup sendirian di alam semesta. Sebab akibat berpusat pada tindakan manusia dan alam yang random. Agama adalah upaya manusia kuno dalam menjelaskan fenomena suprarasional dan kebutuhan manusia akan konsep dan ide supreme being.”

Apapun yang mereka temukan, maka tafsir dan takwil pertama mereka bukanlah Biblical apalagi Quranic, melainkan sekularistik. Tidak semua, tapi absennya pakar arkeologi dari kalangan Ahlussunnah minim sekali, sehingga ranah ini masih rentan.

Oleh sebab itu, di wikipedia kita akan temukan bahwa Raja Namrud diragukan kebenarannya. Banjir Besar dan Kapal Nabi Nuh mereka anggap mitos/legenda. Terbelahnya laut, terbaliknya kota Sodom Gomora, semuanya “myth”, apalagi keberadaan penyeru tauhid di Babilonia misalnya.

Sehingga jangan berharap salah satu teori mengenai Dzulqornain adalah Cyrus The Great mendapat perhatian serius, apresiasi, apalagi afirmasi dari mereka, atau keberadaab Nabi Ibrahim di Babilonia diaminkan oleh mereka. Kebenaran itu terletak pada pencariannya, bukan bertujuan menemukan yang final. Inilah di antara lubang dhabb yang seorang muslim patut waspadai.

Sumeria, Akkadia, Babilonia, Assyria, Hittite, Kassite, India, Saba, Romawi, China, hingga Kartagena adalah umat yang besar, dan setiap umat pasti dan selalu ada penyeru tauhid. Tapi juga jangan kebablasan, ngoyo, atau ngelindur dengan meyakini bahwa Nabi Nuh berdakwah ke Nusantara pakai piring terbang, kuil Sulaiman adalah Borobudur, atau Nabi Adam turun di Nusantara. Teori-teori ini bahkan lebih dhaif dan munkar dari sumber-sumber Israiliyat yang paling dhaif sekalipun. Tapi ini pembahasan lain. Allahu A’lam.

Wabillahittaufiq

***

(Wisnu Tanggap Prabowo)

Rererensi dan bacaan:

Al Quran al Karim.

Ancient History Encyclopedia

Great Empire of the Past: Empire of Mesopotamia – Barbara Somervill, 2010.

Great Empire of the Past: Empire of Ancient Persia – Michael Burgan, 2010.

Islamqa.info

Tafsir Ibnu Katsir

Historyofbyzantium – Robin Pierson, podcast.

Wikipedia – “Pseudoarcheology”

Misykat – Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam – INSISTS – MIUMI 2012.

Filsafat Ilmu – Dr Adian Husaini et al. Gema Insasni – 2013.

aboutbibleprophecy

archeologyexpert.co.uk – Pseudo-archeology

brilliantmaps.com – Making Africa, A Continent of Contemporary Design

http://www.manyprophetsonemessage.com/2014/10/14/quran-reveals-lost-knowledge-about-prophet-abraham/

http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura6-aya76.html

alkitab.sabda.org

Abdurezak A. Hashi. Between Monotheism and Tauhid: A Comparative Analysis (Revelation and Science)

Mustholah Hadits – Syaikh Utsaimin

4 thoughts on “Mesopotamia: Pseudo-Archeology Dan Jejak Tauhid

  1. Menarik sekali ulasannya. Dan membuka wawasan baru dan tauhidi tentang Mesopotamia, waktu SMP dulu saya hafal nama2 tempat dan penguasa di Mesopotamia namun takpernah terpikir apakah ada Nabi disana sampai saya membaca tulisan anda. Terima kasih.

    Liked by 1 person

  2. Aneh, justru terbukti Yahudi contek kisah untuk agamanya dari mesopotamia yg banyak dewa seperti kisah banjir besar dan perintah buat kapal dan bawa pasangan khewan yg disadur dan diganti tokohnya jadi Nuh padahal buka.

    Dan islam tanpa kisah Yahudi itu mustahil sebab percaya Nuh juga Artinya jika yahudi jiplak maka Islam hasil jiplak pula……memalukan….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s