Dipublikasikan di HIKMAH Republika, edisi 6 Januari, 2017.

Sejarah adalah fitrah Islam itu sendiri. Al-Qur’an menyeru manusia untuk merujuk pada sejarah sebagai bahan renungan sepanjang hayat. Dakwah melalui kisah dapat memperkaya referensi untuk menjawab tantangan dakwah saat ini.

Umat Islam telah dimudahkan untuk menjadi sejarawan atau setidaknya menjadi pemerhati sejarah. Sebab, Al-Qur’an dan hadis banyak mengisahkan umat dan peradaban terdahulu. Hadis itu sendiri sejatinya adalah ensiklopedi perihal tentang Rasulullah. Di dalamnya, para ulama telah merumuskan metode kritik sejarah bernama ilmu sanad yang tiada duanya di dunia. Ia salah satu bukti keunggulan peradaban Islam dibanding peradaban lainnya.

Sekitar 12 abad sebelum George Santayana mengatakan bahwa sejarah itu berulang, Al-Qur’an telah mengisyaratkan pola pengulangan sejarah. Sebab-sebab ini berlaku sepanjang masa meski dengan konteks dan pelaku yang berbeda.

Apa yang membuat seseorang ke surga atau ke neraka, sebab-sebab kemuliaan dan kehinaan peradaban, semua sudah dijelaskan secara purna oleh Nabi. Al-Qur’an sudah final dan berlaku sepanjang masa. Dan tidak akan ada perubahan dari sunatullah.

Berdakwah dengan (sejarah) kisah adalah metode Al-Qur’an itu sendiri. Dalam kisah Nabi Musa dan Hidir, Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman dan Negeri Saba, Dzulqarnain, serta Peradaban Aad dan Tsamud terdapat pokok-pokok akidah, adab, akhlaq, dan sains. Metode yang Allâh Tentukan ini selaras dengan tabiat manusia yang menyukai kisah-kisah. Alhasil, dakwah dengan kisah dapat menarik hati tanpa harus mengada-ngada sampai berdusta untuk mengundang gelak tawa.

Dakwah melalui kisah-kisah dapat menyingkirkan sekat-sekat ormas, mazhab fikih, dan kelompok semisalnya melalui kajian tentang riwayat tokoh-tokoh besar yang dijadikan mayoritas umat Islam sebagai panutan. Bahkan kedekatan masyarakat kepada tokoh tertentu dapat membantu kesuksesan dakwah itu sendiri. Seorang da’i misalnya, dapat menuturkan adab dan akhlak Imam Asy Syafi’i dalam menuntut ilmu dan kearifan dalam menyikapi perbedaan pandangan dengan ulama-ulama lain pada zamannya.

Dakwah ini juga menguntungkan bagi pendakwah dan objek dakwah. Da’i dapat memberikan pengajaran tanpa terkesan menggurui, memberi nasihat tanpa menghakimi, memberi peringatan dan seruan tanpa khawatir dilabeli sok suci. Hal yang sama dirasakan oleh objek dakwah.

Ia juga memiliki cakupan luas yakni mendakwahi mereka yang belum berislam. Apabila interpretasi dan retorika seorang dinilai da’i baik, kisah-kisah kehanifan ahli kitab seperti Waraqah bin Naufal, Abdullah bin Salam, dan Raja Najasyi dapat memberi banyak hikmah. Menuturkan kisah para Nabi dan Rasul yang juga disebutkan dalam Taurat dan Injil juga sebuah metode yang persuasif untuk menyadarkan mereka bahwa agama Ibrahim adalah satu dan lurus.

Seorang da’i sebaiknya mencintai sejarah dan menjadi sejarawan. Secara naluriah, ia sejatinya adalah pecinta buku. Dakwah ini dapat dilakukan oleh seluruh muslim sesuai kemampuan termasuk melalui media sosial. Sampaikanlah kisah-kisah sahabat, generasi salaf, dan para mujahid.

Advertisements