ATCS (Automatic Traffic Light Control System) dalam kondisi tertentu dapat membedakan tabiat pengendara sekaligus refleksi kedalaman pemahaman seorang Muslim akan agamanya.

Melanggar atau mematuhi aturan lampu merah didorong oleh apa yang mendominasi pikiran dan hati. Dalam kondisi lalu-lintas tertentu semisal persimpangan yang sepi terutama di malam hari, kebanyakan pengendara tidak mengindahkan batasan yang ditentukan. Faktor eksternal perilaku tersebut di antaranya adalah tidak adanya kendaraan melintas, tidak adanya petugas lalu-lintas, atau keduanya.

Uniknya, sebagian pengendara yang berhenti karena mematuhi peraturan kerap dihinggapi kebimbangan disebabkan oleh peer pressure mayoritas pengendara yang menerobos. “Tekanan kelompok” berupa lengkingan klakson ini seringkali menggoyahkan keteguhan pengendara dalam menaati peraturan kecuali sedikit saja, sehingga berujung pada pelanggaran berjamaah.

 

Mayoritas Bukan Parameter

Begitulah lampu merah mengilustrasikan mereka yang mengikuti kebenaran. Mayoritas adalah bukan tolok ukur. Banyaknya orang yang melakukan tidak menunjukkan hal itu benar. Bahkan Al Quran mengisyaratkan bahwa mayoritas manusia justru menggiring pada penyimpangan. Sunatullah ini telah berlaku sejak zaman para Nabi dan Rasul. Hanya saja bentuknya beragam dan berbeda di setiap zaman.

Allah Berfirman, “Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah.” (QS: al An’aam:116)

Setiap hamba Allah yang bertekad menapaki “jalan lurus” adalah minortias dan harus siap menerima keterasingan (ghuroba) dan tak jarang cibiran.

Ini adalah cerminan keadaan seorang Muslim yang menapaki “jalan yang mendaki lagi sukar” di atas al Haq bersama al-Jama’ah. Meski mengandung makna jamak, al-Jama’ah dalam kacamata manhaj adalah golongan kebenaran, yakni siapapun yang berada di atas kebenaran meski seluruh manusia menyelesihinya. Ia bukan sembarang jamaah. “Al” dalam kata benda menunjukkan kekhususannya (ma’rifat).

Sahabat Ibnu Mas’ud berkata, “Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Ibnu ‘Asakir dalamTarikh Dimasyq 2/ 322/ 13).

Namun merupakan Sunatullah pula bahwa peniti kebenaran memiliki pengikut. Segelintir pengendara yang “hanif” terkadang mengikuti apa yang dicontohkan oleh pengendara beradab. Ketika mensejajarkan kendaraannya di sampingnya, seakan mereka hendak berkata, “Engkau tidak sendiri dalam kebenaran. Aku merapatkan shaf-mu.” Karena tabiat manusia memang cinta pada kebenaran meski banyak yang mengabaikan dengan sengaja fitrah ini.

 

 Tabiat Manusia Di Lampu Merah

Menariknya lagi, terkadang para pengendara berhenti di di zona penyeberangan pejalan kaki atau zona merah yang khusus diperuntukkan kendaraan roda dua. Sebagian dari pengendara mengambil lajur kiri langsung. Perilaku ini adalah bentuk kezaliman karena mengambil hak pengendara lain dan pejalan kaki.

Minimal, ia telah berlaku tidak adil meski kala itu ia seorang diri serta tidak adanya petugas kepolisian di sekitarnya. Ini dapat dianalogikan dengan perihal takwa dalam keadaan sendiri dan ketika di tengah manusia. Seorang ulama bermadzhab Hambali, Ibnu Rajab, pernah berkata, “Takwa kepada Allah dalam ketersembunyaian adalah tanda kesempurnaan iman.” (Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam).

Melawan arah dan menerobos lampu merah termasuk membahayakan diri sendiri dan orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Laa dhororo walaaa dhiroor” (jangan berbuat celaka dan jangan mencelakakan- Ibnu Majah, Daruqutni).

Harus kita akui, segelintir oknum penegak hukum dan pejabat justru melakukan pelanggaran lalu-lintas. Sadar atau tidak, teladan kurang baik ini bisa jadi membuat pengguna jalan lainnya bersikap permisif terhadap pelanggaran lalu-lintas. Apakah fenomena ini juga cerminan penyebab semakin jauhnya umat Islam dari agamanya karena minimnya figur uswatun hasanah dari para pemuka umat? Apakah ini yang dimaksud Ibnu Khaldun dalam Muqoddimah-nya ketika mengutip sebuah pepatah Arab, an-naasu ‘ala diini muluukihim, manusia di atas agama pemimpin mereka?

Lampu Merah Dan Bid’ah?

Syariat Islam tegak di atas prinsip jalbul mashalih wa dar’ul mafasid, yakni mendatangkan kemaslahatan bagi hamba-hamba Allah di dunia dan akhirat dan untuk mencegah berbagai kerusakan dari mereka. Ini berkaitan dengan lima hal pokok yang harus dijaga oleh kaum muslimin (dharuriyyatul-khams). Kelimanya adalah agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta (Maqâshidusy- Syarî’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah).

Meski lampu merah belum terdapat di zaman Rasulullah, tak pelak lagi hakikat keberadaan lampu merah selaras setidaknya dengan satu dari lima hal yang dijaga syariat, yaitu jiwa. Secara dzahir ia adalah hal baru, namun secara hakikat ia adalah manifestasi syariat itu sendiri meski tidak ada satupun ayat Al Quran, Hadis, atsar Sahabat, atau perkataan ulama terdahulu yang menyebut perihal lampu merah dengan gamblang.

Lampu merah juga dapat diletakkan sebagai qiyas dalam memaknai bid’ah dengan benar. Inovasi instrumen lalu-lintas, moda transportasi, perangkat teknologi atau semisalnya, bukanlah termasuk ke dalam inovasi yang dilarang syariat. Adapun penambahan atau perubahan dalam perkara ibadah seperti mendirikan shalat Subuh 3 rakaat atau thowaf di Monas, maka semisal itulah “inovasi” yang dilarang tegas oleh Rasulullah.

 

Lampu Merah Dan Taghut

Sebuah hadis dari Abu Daud yang juga dijadikan landasan fiqih mengatakan, al muslimuuna ala syuruutihim, orang muslim itu di atas syarat-syarat mereka. Seluruh syarat yang disepakati selama itu tidak bertentangan dengan syariat, maka wajib dipenuhi meski tidak ditemui dalam Al Quran dan Hadis. Mematuhi peraturan lalu-lintas, termasuk lampu merah, adalah syarat yang harus dipenuhi sejak hari pertama kita mengantungi SIM.

Dalam perspektif fikih, attashorru ‘ala ro’iyyah manuuthun bil mashlahati (kebijakan menyangkut rakyat terikat dengan kemaslahatan), lampu merah adalah manifestasi upaya penguasa memberikan kemashlahatan rakyatnya. Syariat mewajibkan para penguasa, hakim, dan pemegang otoritas lainnya memberlakukan kebijakan demi mewujudkan kebaikan bagi mereka yang berada di bawah kepemipinannya.

Oleh karenanya, Rasulullah memerintahkan kita untuk taat pada pemimpin meskipun pemimpin tersebut dinilai zalim seperti Hajjaj atau dari kalangan budak berkulit hitam. Menyelisihi pemimpin dengan dalih bahwa pemimpin tersebut tidak berada di atas syariat Islam (baca: taghut) adalah perilaku menyelisihi Assunnah.

Rasulullah bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847.)

Penting dicatat bahwa menaati pemimpin adalah dalam perkara kebaikan, sedangkan loyalitas (al wala wal bara) yang dilarang adalah ketika menggadaikan akidah. Sedangkan dalam muamalah, mengedapnkan adab kepada seluruh makhluk hidup adalah akhlaq mulia seorang muslim.

Rasulullah bersabda, “Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari no. 7257).

Membangun (kembali) kejayaan peradaban Islam telah ditempuh para ulama melalui dakwah tulisan, mengajar, dan saling menasihati. Sebagai orang awam, seperti saya (penulis) sendiri, kita semua dapat turut berpartisipasi meski hanya dengan bersabar beberapa menit di persimpangan lampu merah.

Bukan hanya karena khawatir terlibat kecelakaan maut atau surat tilang polisi, melainkan bukti (burhan) kita sebagai Muslim dalam mengimplementasikan seluruh kaidah syariat secara sempurna sesuai kesanggupan, baik ketika di tengah manusia di siang hari atau ketika berdua dengan Rabb kita di sepinya malam.

Ketika salah satu variabel Rabbani seperti itu tertanam di benak mayoritas umat Islam, maka bersiaplah mengambil alih podium peradaban dunia.

Allahu a’lam. Allahul Musta’an.

===

Dimuat di Islampos, 3 Agustus 2016

Advertisements