“Pendakwah” yang menyeru kepada ketidakberpihakan sejatinya telah jatuh kepada keberpihakan. Ketidakberpihakan sekilas memang tampak sebagai kearifan dan kebijaksanaan. Ia ampuh untuk mengundang simpati manusia. Tidak memihak baginya adalah keadilan, dan dengan keadilannya itu, menurutnya, dapat mendatangkan perbaikan dan kerukunan. Ketidakberpihakannya dapat berupa diam atau tidak membela diantara pertentangan.

Telah lazim bahwa kebenaran itu satu meski memiliki banyak jalan. Maka mungkinkah menjadi benar dengan tidak memihak? Bukankah  kebenaran ada karena adanya ketidakbenaran? Merujuk kepada Hukum Teragung, Al Qur’an, ia tidak menyuruh kita untuk tidak berpihak. Sebab di dalamnya dipaparkan berbagai macam golongan manusia dan jalan yang ditempuhnya. Ada kelompok yang membenarkan, ada yang mengingkari, ada yang menampakkan pembenaran namun hatinya ingkar.

Al Quran mengabarkan sejumlah kelompok manusia di Hari Akhir. Ada Golongan Kanan, ada Golongan Kiri. Ada yang berseri-seri wajahnya, ada yang tertunduk. Manusia akan menetap dalam dua tempat keabadian. Al Quran tidak menyebutkan adanya tempat “abu-abu” antara Surga dan Neraka. Adapun terkait pandangan Mu’tazilah terhadap adanya zona “bingung” antara Surga dan Neraka, ulama Ahlus Sunnah lintas generasi telah melahirkan kitab sanggahan yang banyak.

Rabb Semesta Alam Menyeru kita semua kepada Darussalam, dan Darussalam tidak akan dimasuki kecuali oleh kelompok manusia yang diridhoi Allah. Allah tidak Menyuruh kita untuk tidak berpihak, melainkan menekankan pentingnya berpikir dengan panduan Al Quran dan Teladan Rasulullah agar berada di kelompok manusia yang selamat dari Api Neraka itu.

Sehingga, apabila seorang pendakwah dihadapkan oleh dua kelompok manusia, kelompok pertama mengatakan Abu Bakar dan Umar di Surga, kelompok lainnya mengatakan keduanya berada di Neraka, ia tidak boleh diam kedua tangannya, atau lisannya, atau hatinya.

Memang menjadi penengah antara dua kelompok yang berseteru merupakan akhlak yang mulia namun bukan pada seluruh perkara, terlebih akidah. Dalam kondisi ini ia mungkin melupakan satu hal, bahwa di atas kearifan dan kebijaksanaan ada yang disebut keadilan. Jika telah adil, ia sudah pasti arif dan bijak. Ketika ia tidak adil, maka ia zalim. Apakah mungkin menjadi arif dan bijak di atas kegelapan?

Jika ia memutuskan dan bertindak berdasarkan kebenaran, maka ia memiliki tanda-tanda Nikmat Allah pada dirinya berupa hikmah.

Tidak akan ada hikmah pada seseorang tanpa terkumpul dua hal di dalam hatinya, Kitabullah dan Assunnah. Dalam konteks zaman ini, kita pastikan ia adalah Al Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Ibn Abdullah shallallahu alaihi wasallam. Zaman sebelum Rasulullah, maka keduanya adalah Injil dan Sunnah Nabi Isa. Pada zaman Fir’aun, maka Taurat dan Sunnah Nabi Musa.

Mustahil jika Al Quran dan Assunnah terkumpul di hatinya kemudian namun ia masih menganggap ketidakberpihakan adalah ilmu. Ilmu jenis apa yang diam ketika dua sahabat yang dijamin Surga, Abu Bakar dan Umar, dikatakan sebagai berhala Quraisy dan keduanya berada di Neraka bersama patung-patung bernama Suwwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Latta dan Uzza? Apakah sama cahaya dan kegelapan? Apakah sama Ali dengan Abdullah bin Saba?

Berlaku adil tidak harus menjadi netral. Netral, atau bergeming ketika dihadapkan oleh Al Haq dan kebatilan merupakan kenetralan yang disukai Iblis. Bukankah membisu melihat kemungkaran adalah diamnya Iblis?

Terlebih mereka yang diamanati sebagai oemuka agama. Bagaimana mungkin, seorang yang otoritatif dalam agama tega melihat orang-orang awam satu per satu jatuh ke jurang kesesatan, sementara ia berdiam diri dengan ilmunya itu?

Apabila ia berhujah ketidakberpihakannya itu karena belum sampai klarifikasi dari salah satu pihak sehingga belum memutuskan benar atau tidaknya akidah mereka tersebut, ini sejatinya adalah adab buruk kepada ulama pendahulu umat ini, yakni para ulama hadis, ulama fiqih, dan para ahli sejarah. Sebab, perkara ini tuntas dibahas dari ulama lintas generasi.

Sedangkan berbaik sangka dalam konteks ini adalah kesalahan. Tentunya jika ada pembunuh melintas di lingkungan warga kita, maka wajib bagi kita yang mengetahui (berilmu) perihal pembunuh tersebut memperingatkan ke para warga. Ini bukanlah bentuk ghibah yang berdosa.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami Turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh semua yang dapat melaknat.” (QS. Al Baqoroh, ayat 159).

Benar. Umat Islam adalah Umat Pertengahan. Lebih jauh lagi, Ahlus Sunnah adalah golongan pertengahan. Kedua makna di atas bukan diartikan sebagai ketidakberpihakan. Maknanya adalah berlaku adil dalam kebenaran, tidak berlebih-lebihan (ekstrem) dan juga tidak berlapang-lapang (irja). Islam adalah umat yang akan menjadi saksi seluruh umat manusia.

Ahlus Sunnah memihak kepada apa yang datang dari Rasulullah dan para sahabatnya, tidak menambah tidak mengurangi. Ia berada di garis lurus dimana hawa nafsu telah banyak membuat cabang-cabang baru di kanan dan kiri garis itu. Inilah pertengahan itu.

Jika kita cermati, keadaan orang seperti itu tidak terlepas dari tiga keadaan.  Pertama, tertutupnya hati. Kedua, ia tidak tahu mana yang benar mana yang salah (jahil). Ketiga, ia telah takut kehilangan jabatan, reputasi, pengikut, harta, atau sebab-sebab duniawi lainnya.

Jika kita mencintai para sahabat Rasulullah dan membela mereka misalnya, maka kita pantas berharap untuk dikumpulkan bersama mereka di Hari Akhir nanti, meski amalan kita jauh dari para sahabat yang telah berjihad dengan jiwa, harta dan darahnya di Jalan Allah. Karena Rasulullah bersabda, “Seseorang akan bersama dengan siapa yang dicintainya.” Inilah keutamaan amalan hati bernama cinta, dimana tidak akan timbul cinta tanpa keberpihakan dengan apa yang dicintainya.

 

Maka marilah berpihak, berpihak kepada golongan yang Allah Ridhoi, bukan golongan orang-orang merugi. Jika sudah berada di golongan yang benar, kita sudah berbuata adil. Jika sudah adil, kita pasti arif dan bijak. Jika sudah arif dan bijak, kita layak berharap diberi hikmah. Dengan hikmah itu kita mengarungi hidup hingga Allah ridho pada kita. Jika Allah ridho, maka maka seluruh makhluk akan mencintai kita. Ketika Allah telah memberi nikmat itu, siapapun yang melihat Anda, meski tak kenal sebelumnya, akan hadir kecintaan pada Anda.

Jika berkumpul manusia-manusia seperti itu, mereka akan membentuk kolektivitas dan ciri-cirinya dapat terlihat jelas bagi orang-orang mu’min yang hanif. Apabila kita belum mendapat nikmat itu, berusahalah seperti mereka. Jika belum mampu, duduklah bersama mereka. Jika belum mampu, cintailah mereka. Jika belum mampu, belalah mereka… dan membela merekana adalah tanda iman. Jangan tidak memihak karena itu adalah waswas dari Iblis.

Allahu A’lam. Allahul Musta’an.

===

9 September, 2016

Advertisements