Seorang teman di sosial media menulis, “Dahulu, para ulama mendorong kita untuk beramal dengan ikhlas agar selamat di Akhirat. Kini, cukup klik Like atau tuliskan Amin, maka kita diiming-imingi Surga!” 

Sosial media memberikan akses terhadap segala macam informasi. Mulai dari religius, misterius, mutilasi, jualan, mencaci pemimpin, mengkafirkan sesama Muslim, memposting gambar korban perang, hingga balada kopi sianida.

Kabar yang tersebar di media sosial seringkali liar. Selain banyak manfaat yang dapat kita raih bahkan dapat membuahkan pahala, ia rentan menjerumuskan kita ke dalam perilaku ghibah dan menjadikan kita jembatan dalam menyebarkan berita dusta, termasuk ilmu agama.

Sehingga baik adanya kita meneladani ulama salaf dalam berinteraksi dengan informasi melalui faidah-faidah agung ilmu hadis. Imam Malik rahimahullah telah mengisyaratkan jalan kebangkitan umat Islam ini, Ia berkata, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.”
Pionir Jurnalisme

Sebelas abad sebelum istilah journalism muncul di Perancis antara tahun 1825-30, para ulama hadis telah merumuskan  Keberadaan kode etik (adab) jurnalisme modern dalam Islam telah ada sejak generasi awal umat ini. Sebab, seluruh syariat sampai kepada pemeluknya lantaran terjaganya rantai informasi (sanad hadis), yakni gabungan apik jurnalisme dan sejarah.

Selain kaidah jurnalisme modern, mereka telah menyentuh aspek yang saat ini disebut dengan Management Information System. Islam bukanlah umat amatiran dalam sains dan ilmu. Sebaliknya, para ulama dan ilmuwan Muslim telah banyak mempelopori peradaban ilmu umat manusia.

Belum pernah ada sebelumnya peradaban yang secara purna mengupas rantai informasi, biografi informan, dan kodifikasi informasi sedemikian terperinci, dan teruji keakuratannya hingga belasan abad semisal ilmu hadis. Buku-buku, para pakar, dan lembaga pendidikan terus bermunculan hingga hari ini.

Rantai informasi dalam penulisan hadis ini sakral, sampai-sampai ulama berkata, “Sanad hadis adalah bagian dari syariat itu sendiri (Abdullah Ibn Mubarok, Muqaddimah Shahih Muslim)”. Ulama lainnya berkata, “Sanad hadis adalah senjata ampuh bagi orang Mu’min.” (Sufyan at Tsauri, Al Majruhin, Ibnu Hibban).

Untuk menjaga keotentikan syariat, ulama hadis membagi derajat sebuah informasi menjadi  tiga tingkatan, yakni Shahih (sehat, benar), Dhaif (lemah), dan Maudhu (palsu). Terdapat juga turunan dari ketiga kategori umum di atas.

 

Ulama Hadis, Para Factchecker Handal

Imam Ahmad di dalam Musnadnya (16085) menceritakan, suatu hari sahabat Jabir bin Abdullah mendengar sebuah hadis yang beredar di Madinah yang berasal dari seorang sahabat di Syam bernama Abdullah bin Unais. Jabir kemudian membeli sebuah unta dan melakukan perjalanan sebulan ke Syam untuk menemui Abdullah bin Unais. Sesampainya di sana, Jabir mengambil hadis itu langsung dari Ibn Unais dan kembali pulang ke Madinah di hari yang sama. Total perjalanan adalah dua bulan pulang pergi (hanya) untuk kejelasan sumber sebuah informasi.

Seorang dengan kualitas factchecker serupa juga terdapat dalam diri Abdullah bin Abbas, seorang ahlul bait yang didoakan khusus oleh Rasulullah agar paham takwil Al Quran. Suatu hari Ibnu Abbas mendengar sebuah hadis dari seorang sahabat Nabi lainnya. Beliau lantas mendatangi kediaman si narasumber yang kebetulan ketika itu sedang tidur siang. Ibnu Abbas menggelar kain dan tidur di depan rumah sahabat tersebut. Cuaca pada hari itu berangin dan berdebu.

Ketika sang narasumber menyadari kehadiran Ibnu Abbas, ia berkata, “Maha Suci Allah, anak paman Rasulullah ada di sini! Ada apa wahai Ibnu Abbas?” Ibnu Abbas mengutarakan maksudnya. Kemudian sahabat itu berkata, “Mengapa tidak engkau utus saja seseorang sehingga aku yang datang menemuimu?” Ibnu Abbas menjawab, “Bukan seperti itulah adab murid kepada gurunya.” (al Faqih wal Mutafaqqih, al Khatib al Baghdadi).

Antara Dugaan Dan Keyakinan

Sedangkan peradaban lainnya tidak meletakkan adab informan sebagai faktor penting menentukan keabsahan suatu informasi. Padahal salah satu yang membedakan antara keyakinan dan dugaan adalah sumber yang terpercaya. Sebab, berdasarkan syariat Islam, dugaan tidak berfaedah terhadap kebenaran (QS. Yunus : 36). Ia tidak bermuatan ilmu atau hujah. Jika dipaksakan, dugaan berpotensi menyesatkan.

Charles Darwin menyusun The Origin of Species (asal muasal spesies) berlandaskan teori (dugaan). Sementara Ibnu Katsir menyusun al Bidayah wan Nihayah (Sejarah Manusia Hingga Akhir Zaman) berdasarkan informasi dari Al Quran (Quranic Science) dan Assunnah (hadis). Hasilnya, ide pertama mengajak manusia bernasab kepada kera, sedang yang kedua menyadarkan kekhalifahan manusia di bumi sebagai makhluk spiritual yang berakal.

Oleh sebab itu Imam Bukhari tidak mengambil informasi dari seseorang yang berdusta kepada seekor unggas. Ulama di era Imam Ahmad bin Hambal kerap mencermati keseharian narasumber selama dua bulan untuk mengetahui perihal perawi hadis. Salah satunya adalah menanyakan tentangnya kepada sejumlah orang di sekitarnya. Hingga mereka yang ditanya balik bertanya, “Apakah engkau hendak menikahkannya dengan putrimu?”

 

Katanya… Katanya

Don’t believe everything that you hear. Upaya mencatat narasumber hadis dilakukan oleh Imam Bukhari melalui kitabnya berjudul Tarikh al Akbar yang memuat biografi sekitar 10.000 perawi hadis. Khawatir terlalu panjang, Imam Bukhari “meringkasnya” menjadi 10 jilid. Imam Bukhari hafal seluruh narasumber yang tercatat dalam “database” tersebut, mulai dari tanggal dan tahun kelahiran perawi, wafatnya, siapa gurunya, akidahnya, dan track record hubungan dengan sesama.

Don’t talk to strangers juga berlaku dalam ilmu hadis. Jika ada satu informan yang tidak jelas asal-usulnya dalam satu rantai periwayatan, ia dapat mencederai derajat keabsahan informasi seluruhnya. Oleh karenanya, selama 16 tahun Imam Bukhari mendatangi tidak kurang dari 1080 perawi untuk mendapatkan sekitar 300.000 hadis dimana sebanyak 7.563 beliau tulis dalam kitab Jami ash-Shahih.

Beliau hafal seluruh hadis beserta nama dan biodata para perawi di setiap hadis diluar kepala. Patutkah kita heran mengapa ia tidak dinobatkan sebagai bapak jurnalisme, atau pelopor penulisan biografi dunia, atau pionir Management Information System?

Mutiara Yang Disia-siakan

Ditinggalkannya warisan “jurnalisme salaf” ini menyumbang penyebab terbelakangnya umat Islam. Selain itu, dapat kita rasakan bersama betapa dahsyatnya kerancuan dari penyelewengan informasi mengenai Islam. Fitnah dan kerancuan (syubhat) tidak hanya tersebar di media dan lembaga-lembaga pendidikan Islam saja, namun di kalangan kalangan para cendekia dan ulamanya.

Pemikir Islam yang condong pada metodologi sejarah para orientalis menyumbang kerancuan di benak umat. Sehingga hakikat LGBT masih saja diperdebatkan. Inklusivisme, pluralisme, dan westernisasi-liberalisme pun dianggap sebagai manhaj alternatif. Oleh sebab itu, sebagian cendekiawan Muslim yang sudah terkena virus pemikiran Orientalis tidak boleh dibiarkan hidup terombang-ambing. Mereka perlu diberi nasehat yang bijak agar kembali kepada kesadarannya bahwa mereka adalah umat Islam yang memiliki acuan dalam hidup, kerangka dalam berfikir, dan anutan dalam beraktifitas. (Metodologi Orientalis dalam Studi Hadits dan Pengaruhnya terhadap Cendekiawan Muslim, Kharis Nugroho, Lc,).

Namun musibah terbesar dari semakin ditinggalkannya ilmu hadis adalah terasingnya teladan Rasulullah (Sunnah). Jika ajaran Rasulullah sudah asing, maka pamor “teladan” selain dari Rasulullah akan naik. Sehingga masih terdapat Umat Muslim mengadakan syariat yang tidak ada asal-usulnya dari Rasulullah, tidak pula dari tiga generasi pertama (termasuk Imam Mazhab), ataupun dari para ulama hadis.

Tradisi menulis hadis menyumbang besar terhadap kegemilangan peradaban Islam. Tidak ada peradaban tanpa didahului budaya menulis. Doktor Hisam ‘Afanah dari Universitas Al Quds telah mendata jumlah manuskrip yang ia lakukan hingga tahun 1948. Hasilnya, ada 262 juta jilid manuskrip yang masih menumpuk di pelbagai perpustakaan (Generasi Salaf Menulis Kitab, Hidayatullah).

Jelaslah bahwa umat Islam tidak pernah mengalami the Dark Age, atau Zaman Kegelapan. Justru keterbelakangan umat Islam karena terlalu mengekor pada peradaban yang pernah mengalami Zaman Kegelapan.

Tinggalkan Bermedsos ala Jahiliyah

Maka kita Islamisasi saja. Bukan tampilan medsosnya kita ganti dengan bahasa Arab, atau memajang gambar Ka’bah di beranda akun medsos kita. Melainkan mengimplementasikan karakter Islam dalam bersinggungan dengan informasi.

Ghibah di medsos kita ganti dengan pujian atau diam. Menghindari dusta dalam berkelakar. Menyampaikan hadis shahih dalam menasihati dalam agama. Mendoakan pemimpin yang beriman ketimbang mencelanya. Menyebar salam ketimbang sapaan kebarat-baratan. Secara umum, seluruh warisan jahiliyah di medsos kita Islamisasikan.

“Sejatinya Islamisasi adalah karakter Islam yang sesungguhnya, dan bukan akulturasi. Islam bukan produk budaya Arab. Sebab praktek kehidupan Jahiliyyah di-Islamkan. Menikah disucikan, berdagang ditertibkan, berperang diatur, ibadah ditentukan dengan tata cara khusus, kemusyrikan di-tauhid-kan. (Dr. Hamid Fah,i Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil – Islamisasi Sains).”

Mengacu pada adab ulama salaf, khususnya ulama hadis dalam bersinggungan dengan berita, terdapat sejumlah kaidah yang dapat diterapkan. Pertama, kita teliti terlebih dahulu apakah berita tersebut bertentangan dengan syariat kemudian logika? Apakah sumbernya kredibel? Terakhir, kita timbang apakah ia berpotensi mencederai orang lain baik itu jiwa, harta, agama, atau kehormatannya?

 

Berhati-hati Dalam Menyebar Postingan

Sebagaimana ilmu, terkadang tidak semua informasi itu layak disebarkan. Sahabat Ibnu Mas’ud berkata, “Tidaklah engkau menceritakan sesuatu kepada suatu kaum sedang akal mereka tidak mampu menerimanya, melainkan ia akan menimbulkan fitnah pada sebagian dari mereka.” (HR. Muslim).

Meneladani para ulama hadis dalam bermedsos memberikan keutamaan amalan akhirat berupa mengikuti Al Quran dan Sunnah, serta menunjukkan adab kita kepada para ulama terdahulu. Selain itu, kita akan terbiasa dengan adab (kode etik) jurnalisme yang selaras dengan worldview Islam, bukan worldview Dark Age atau jahiliyah.

Tidak kalah penting pula bahwa dalam meneliti, menerima, menyebarkan, dan menolak suatu informasi haruslah ber-adab. Jangan sampai selepas membaca tulisan ini ada seseorang yang memaki di grup, “Antum semua riwayatnya dhaif!” kemudian left group, maka ini sikap kurang adab (bi-adab).

Allahu A’lam. Allahul Musta’an.

===

Dimuat di Islampos, 9 September 2016

Advertisements