Jikalau tauhid adalah solusi utama akan ancaman terbesar manusia, yakni Api Neraka, maka ia sudah pasti efektif sebagai solusi permasalahan manusia yang lebih kecil dari Api Neraka. Kedigdayaan Islam di masa silam dicapai melalui implementasi tauhid ke seluruh sendi kehidupan. Secara naluriah, ia adalah satu-satunya jalan menuju kejayaan Islam.

Pahlawan Nasional, Pendiri Syarikat Islam dan seorang “guru besar” tokoh pergerakan Indonesia, H. Oemar Said Tjokroaminoto rahimahullah, menekankan urgensi tauhid dalam pergerakannya,

Tidak bisa manusia menjadi oetama jang sesoenggoeh-soenggoehnya, tidak bisa manoesia menjadi besar dan moelia dalam arti kata sebenarnnya, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soeci dan oetama, kalau ada banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja. Keotamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa tertjapai karena tauhid sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin: tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja. (Amelz, 1952, op. Cit., hlm.1).

Tauhidic mindset Tjokroaminoto selaras dengan metodologi (manhaj) dakwah yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul, para Sahabat Muhajirin dan Anshor, para Imam Mazhab, serta para da’i yang hanif. Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.”

Kejayaan peradaban Islam, berlakunya negeri bersyariat Islam, dan generasi pemimpin Rabbani adalah “bonus” dari Allah bagi kaum yang mentauhidkan Allah dengan benar. Islamisasi sains, kaderisasi ulul albab, dan tegaknya syariat Islam bermuara pada tauhidullah.Tanpa tauhid, manusia tidak akan pernah sampai pada tujuan. Bahkan ia tersesat dengan kesesatan melebihi hewan ternak.

“Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” {QS. Al-A’raaf: 179}

Dakwah pertama para Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukanlah shalat, puasa, haji, jihad, dan zakat. Perintah pertama para Utusan Allah adalah adalah peniadaan segala sesuatu sesembahan, laa ilaaha, dan penetapan sesembahan yang benar, illallah.

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh saja, dan jauhilah Thaghut’.” (An Nahl: 36)

Inilah metodologi dakwah yang juga diterapkan Rasulullah saat mengutus sahabat Mu’adz ke Yaman, Rasulullah berpesan, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah

  1. Supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala.

 

  1. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam.

 

  1. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).

Dakwah selainnya seperti menyampaikan ilmu fikih, muamalah, manthiq, mengajarkan bahasa Arab, dan siyasah syar’iyah tetaplah vital meski tingkatan amal dalam syariat berbeda-beda sesuai keutamaannya berdasarkan Al Quran dan Sunnah. Begitu pula dengan dosa riba, khamr, membunuh, durhaka kepada orang tua, mencuri, homoseksual. Dosa-dosa besar tersebut tidaklah melampaui besarnya dosa syirik. Luqman al Hakim, ayah dari Ibunda Nabi Isa, berkata,

“Wahai puteraku, janganlah berbuat syirik kepada Allah, karena sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar. (QS. Luqman : 13).

Syirik menghapus amal, menjadikan seorang hamba kekal di neraka, serta sumber kerusakan dan ketidakadilan. Itulah mengapa, seorang hamba Allah bertauhid yang melakukan dosa lebih mulia dari seorang manusia yang melakukan banyak kebaikan namun berlaku syirik.

“Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Qs. Az Zumar: 65)

Tauhid adalah parameter seluruh kebaikan dan keburukan. Kualitas suatu dakwah, perkataan, perkumpulan, tulisan, dan hubungan sesama manusia dalam limgkup negara atau yang lebih kecil darinya tergantung dari seberapa besar kadar tauhid yang terkandung di dalamnya.

Lantas apakah dakwah ini relevan untuk diserukan ke tengah-tengah kaum muslimin yang memang saat ini telah menyembah Allah Yang Satu? Bukankah periode penyembahan berhala berakhir setelah Islam diutus di Mekkah?

Kondisi umat saat ini serupa dengan masa sebelum Rasulullah diutus di Mekkah. Kala itu mayoritas manusia di Jazirah Arab mengimani bahwa yang menciptakan, mematikan, mengatur, menjaga, dan mengabulkan do’a adalah Allah.

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf : 87)

Namun Allah tidak membenarkan tauhid (rububiyah) semisal itu tanpa menunaikan hak Allah untuk disembah tanpa menyembah sesembahan lainnya (uluhiyah). Sebab, thowaf, kurban, dan doa yang mereka persembahkan kepada berhala yang mereka letakkan di sekeliling ka’bah tidak menghantarkan mereka kepada keimanan yang benar.

 Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS Yusuf : 106)

Sebagaimana kaum musyrik Mekkah, mereka menganggap tauhid versi mereka ini justru merupakan jalan yang terbaik karena sesuai dengan keyakinan para leluhur mereka yang menganggap berhala-berhala itu adalah wasilah untuk mendekatkan kepada Allah (taqarrub).

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [Az-Zumar: 3]

Masih terlampau banyak praktek kesyirikan yang dilakukan manusia di negeri ini, dan azab Allah tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja. Azab itu tidak hanya berupa bencana alam dan penyakit, ia bisa berupa perpecahan terus menerus dan jauhnya mayoritas penduduk negeri dari mendalami, mencintai, dan membela agama mereka. Ia juga bisa berupa menjamurnya Ulama su’u, ulama yang justru mengaburkan dan menjauhkan manusia dari akidah dan manhaj yang benar.

Tiba saatnya para da’i, ustadz, kyai, habib, syaikh, dosen dan penuntut ilmu serta orang awam seperti saya dan semisalnya bermuhasabah mengenai metode dakwahnya. Edukasi tauhidic mindset tidak boleh jenuh diserukan dan terus dikokohkan hingga tertanam kuat di hati umat. Dakwah ini harus menjadi prioritas di atas tema dakwah lainnya.

Proses ini tidaklah instan dan mustahil dijalani dengan kesabaran karbitan, apalagi dengan akhlaq dan adab serampangan. Aksi pemboman, pemberontakkan, dan mencela pemimpin di podium umum selamanya tidak akan pernah mengantarkan umat ke dalam kondisi di mana maslahat lebih dominan dari mafsadat.

“Barang siapa yang ingin menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka janganlah terang-terangan , namun ambillah tangannya dan bersendirianlah dengannya (rahasia), jika ia menerima (itu yang diharapkan) dan jika tidak, maka ia telah melaksanakan tugas”. (HR Ahmad, ibnu Ashim).

Imam Syafi’I rahimahullah juga berkata, ““Nasehatilah aku ketika sendirian, dan jauhi nasehat di depan jama’ah. Karena nasehat ditengah manusia adalah salah satu macam mencaci maki yang aku tidak suka mendengarnya. (Mawa’idz imam Asy Syafi’I 1/23).

Selain itu, aksi kekerasan yang bukan pada tempatnya akan berujung pada kekacauan dan mengancam kaidah dharurriyat al khams, yakni lima hal pokok yang dijaga syariat; agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Bersimbah darahnya kaum muslimin, hilangnya harta benda mereka, diinjak-injaknya kehormatan dan kemuliaan mereka, serta terputusnya garis keturunan mereka akibat pembantaian dan pengeboman justru bertentangan dengan kaidah dan tujuan syariat. Minimal, kerusakan dan fitnah yang ditimbulkannya jauh lebih mematikan dari keburukan yang ada dan telah menetap sebelumnya. Sudahkah kita mendapat pelajaran dari Arab Spring?
وَضِدُّ تَزَاحُمُ المفَاسِدِ

يُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ المفَاسِدِ

Lawannya, jika bertabakan dua mafsadat,

Pilihlah mafsadat yang paling ringan

 

Ketika mayoritas manusia di suatu negeri telah mentauhidkan Allah dengan benar, maka di saat itulah penduduknya lebih layak mengharapkan pertolongan, kekuatan, dan hidayah persatuan dari Allah untuk menghidupkan misykat peradaban Islam. Sebaik-baiknya bekal dalam perjalanan panjang dalam dakwah ini adalah apa yang diutarakan oleh H.O.S. Tjokroaminoto rahimahullah, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat?

Wallahu A’lam. Allahu Musta’an.

 === 

Dimuat di Islampos, 25 Mei 2016.

 

Advertisements