Budaya menulis mendorong kemajuan suatu peradaban sekaligus keunggulan identitas peradaban Islam. Sayangnya keberadaan ekstrakurikuler jurnalistik khususnya di institusi pendidikan Islam di Indonesia tidak merata dan sepi peminat. Budaya menulis di kalangan para pendidik pun dinilai masih rendah sehingga berujung pada minimnya role model.

Padahal dalam ruang lingkup sekolah, menulis adalah tool of expression bagi siswa untuk memahami jati diri. Menulis membangun kepekaan terhadap realita lingkungan sekitar dan kesadaran posisinya sebagai anggota masyarakat. Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, identifikasi variasi kondisi dan pertumbuhan kejiwaan siswa dapat dilakukan melalui karya tulis dan menumbuhkan perasaan self-worth.

Berpendidikan Dan Berintelektual

Tujuan kegiatan menulis siswa ditujukan tidak saja untuk kaderisasi insan yang berpendidikan melalui proses identifikasi, namun juga membentuk intelektualitas melalui proses telaah fakta, panca indera, dan proses identifikasi dilengkapi dengan informasi yang benar.

Dalam perspektif pendidikan Islami, proses di atas bertujuan membentengi fitrah lurus dari ide relativisme, liberalisasi agama, penyimpangan orientasi seksual, dan praktek kecurangan di lingkungan sekolah.

Menulis berkaitan erat dengan budaya membaca. Idealnya, membaca dibarengi dengan nilai keimanan sebagaimana Firman Allah, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, [Al-Alaq:1].” Membaca dan menulis sebagai pintu pertama menuju seluruh lautan ilmu tidak boleh menafikan aspek akidah. Sebab, pemisahan ini bertentangan dengan metodologi keilmuan ulama dan ilmuwan Islam klasik. Mengacu kepada informasi yang benar berasal dari Al Quran dan hadis meminimalisir sikap permisif terhadap fenomena penyimpangan sistematis di lingkungan sekitar.

Kritik Terhadap Kecerdasan Majemuk

Psikolog Howard Gardner dalam bukunya berjudul Frames of Mind (1983) membagi intellegence menjadi delapan, yakni visual-spatial, bodily-kinaesthetic, musical, interpersonal, intrapersonal, logical-mathematical, naturalist, dan linguistic. Gardner berpendapat bahwa seseorang hanya memiliki satu atau dua karakter kecerdasan dominan.

Dalam konteks menulis, teori Gardner berujung pada kesimpulan bahwa tidak semua individu memiliki kemampuan menulis yang menonjol (linguistic intelligence). Alhasil, berdasarkan teori Gardner, mendidik siswa dengan kecerdasan logical-mathematical yang dominan untuk menggambar sebuah desain bangunan (spatial-intelligence) tidaklah efektif, sebagaimana mengajarkan seekor ikan untuk memanjat sebuah pohon dengan ketrampilan bak seekor kucing. Padahal jika seekor ikan dikaruniai keimanan dan akal yang lurus sebagaimana manusia, maka ia akan menimbang batasan kemampuan dalam perspektif qadha.

Dikotomi Menulis

Seperti pemikir barat sejak abad 18 lainnya, Gardner memisahkan agama dari sains. Pijakan teori Kecerdasan Majemuk berangkat dari studi biologis dan kebudayaan yang mengacu pada Intellegence Quotient (IQ). Di lain sisi, Islam memandang kecerdasan sebagai paduan antara kemampuan kognitif dan batin (bashirah), keimanan, dan pandangan tentang kehidupan setelah kematian seperti disabdakan Rasulullah, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

Aktifitas kognitif saja belum menjamin seseorang untuk berada pada tabiat lurus. Bahkan sejak abad 18, kecerdasan IQ berujung pada gugatan terhadap keabsahan sendi akidah dengan dalih kenetralan sains dan empirisme.

Gardner melihat kecerdasan bermuara pada nature dan proses intelektual individu. Sedangkan Islam melihatnya sebagai karunia Allah yang diturunkan kepada manusia dan memposisikan proses pencarian menuju pemahaman sebagai sebab. Dengan kesempurnaanNya, batas-batas kemampuan manusia berupa kecerdasan bawaan, bakat dan minat bukanlah penghalang.

Gardner mungkin akan menggelengkan kepala jika melihat langsung masyarakat jahiliyah di Jazirah Arab dengan kebiasaan meminum minuman keras, judi, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, dan melanggengkan pelacuran. Dari kacamata Kecerdasan Majemuk, masyarakat semisal itu tidak memiliki tempat bagi suatu bentuk intelligence manapun.

Namun kemunculan Islam ternyata merubah masyarakat jahiliyah menjadi generasi ilmu sekaligus peletak dasar peradaban dunia hingga hari ini. Dalam kurun waktu relatif singkat, Islam melahirkan beberapa generasi emas di bidang ilmu seperti Andalusia dan Dinasti Abbasiyah.

Gardner juga memisahkan kecerdasan menulis dari tujuh intelligence lainnya dan meletakkannya sama rata sebagai kecerdasan yang “bisa ada atau tidak ada” pada individu. Kecerdasan Majemuk ala Gardner perlu dikaji ulang agar tidak menghambat semangat eksplorasi siswa dalam meneladani tradisi keilmuan Islam. Selain itu, pendidik bertanggungjawab terhadap pemupukkan semangat ber-amar ma’ruf nahi munkar melalui tulisan.

Ilmuwan Islam Dan Kecerdasan Majemuk

Karakter multitalenta ilmuwan dan intelektual Muslim justru membuktikan sebaliknya sepuluh abad sebelum gagasan Howard Gardner. Peradaban keilmuan Islam membuktikan bahwa menulis adalah fitrah intelektual yang harus “ada” dalam menyelami seluruh bidang sains.

Abu Yusuf Al-Kindi (801-873) adalah penulis buku yang produktif. Tidak kurang dari 270 buku mengenai berbagai disiplin ilmu telah ditulisnya. Mulai dari matematika, filsafat, farmasi, dan geografi. Imam Thabari (839-923) adalah penulis fenomenal. Sepanjang hidupnya ia telah menulis sekitar 385.000 lembar karya dalam berbagai bidang berbeda yang dikuasainya, di antaranya sejarah tafsir, hadis, fiqih perbandingan, linguistik, sya’ir dan a’rudh (kesusastraan), dan retorika.

Abu Raihan Al Biruni (973-1048) secara purna membuktikan bahwa kegiatan menulis terkait erat dengan penguasaan cabang disiplin ilmu lainnya. Selain menulis ensiklopedia, Al Biruni menguasai ilmu fisika, astronomi, matematika, sejarah, farmasi, filsafat sekaligus berprofesi sebagai guru.

Ibnu Khaldun (1332-1406), penulis kitab Muqaddimah, telah meletakkan dasar filsafat sejarah, ilmu sosial, demografi, historigrafi dan kebudayaan untuk pertama kalinya dalam sejarah keilmuan hanya dalam satu karyanya. Kitab tersebut juga merupakan salah satu buku perintis ekonomi modern (Republika, 24 Juni 2009).

Kompetensi keilmuan multi-disipliner adalah karekteristik menonjol dari para ilmuwan Muslim. Harus diakui, sedikit sekali tokoh cendekiawan barat yang memiliki klasifikasi semisal itu. Terlebih menjadi peletak dasar disiplin ilmu baru melalui beberapa karya monumental. Apakah Howard Gardner ketika mencetuskan teorinya ini tidak mengkaji sejarah ilmuwan Muslim klasik adalah sebuah kemungkinan.

Sekularisasi Sains

Jika ada satu cabang “ilmu” yang tidak berasal dari diskursus keilmuan peradaban Islam, maka hal itu adalah gagasan pemisahan agama dari ilmu pengetahuan. Sekulerisasi semisal ini seharusnya tidak dinisbatkan kepada Islam. Bukan karena tidak adanya “pemikir Islam” turut menyuburkan dan menyebarkannya, melainkan metode (manhaj) ini tidak dikenal dalam metodologi keilmuan Islam.

Imam Malik menyebutkan bahwa generasi Islam tidak akan berjaya kecuali dengan menempuh apa yang membuat generasi sebelumnya berjaya. Dapat kita simpulkan, kegemilangan umat Islam dicapai dengan mengikuti atsar (jejak) para ilmuwan klasik Islam.

Program ekstra-kurikuler jurnalistik di sekolah atau pemaparan teori kepenulisan di ruang kelas tidaklah cukup. Birokrat pendidikan harus mulai mengapresiasi karya tulis guru dengan layak. Hal ini mendorong produktifitas karya tulis sebagai teladan pada siswa. Kita harus segera atasi kerinduan siswa akan panutan di shaf-shaf terdepan kaderisasi ulul albab.  Wallahu a’lam.

===
Dimuat di Harian Bogor Today.

 

Advertisements