Pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu seakan telah menyimpulkan fenomena LGBT di Indonesia dengan sangat jitu. LGBT menjadi senjata “pemusnah” handal dalam medan perang proksi melebihi hulu ledak nuklir. Tidak hanya dari kacamata pertahanan nasional saja, maraknya isu LGBT juga kembali menjadi medan proxy war antara gerakan revivalis dan modernis Islam.

Tak terkecuali bagi media. Isu LGBT menjadi medan dalam perang proksi pemikiran baik itu media nasional maupun internasional. Lebih jauh lagi, ia menjadi tolak ukur baru sejauh mana umat muslim berpegang pada Kitab Suci dalam merenungi realita zaman, sebuah perang proksi antara pergolakan akal, hati, dan Pesan Tuhan.

Perang Proksi merupakan pertarungan dua kubu melalui “pemain pengganti” demi menghindari konfrontasi langsung. Setelah Perang Dingin, Pemberontakan Permesta, dan Konflik Suriah, aroma perang proksi muncul di tengah kita dalam bentuk kontroversi LGBT.

Pembenaran LGBT telah mampu memasuki celah dalam berbagai aspek; baik itu demokrasi, psikologi, filsafat, media informasi, dan studi kebudayaan. Hanya satu ranah yang sulit ditembus hingga kini, yakni aspek agama. Kalaupun dipaksakan, maka hasilnya hanyalah deretan silogisme yang tidak bulat sempurna dan berbuntut kontroversi hebat. Sehingga, sejarah membuktikan bahwa penting bagi penggiat LGBT untuk turut menyuburkan pemisahan agama dari kehidupan bernegara dan dalam tatanan sosial.

Perang Persepsi

Pada akhirnya, kontroversi LGBT menuntut umat muslim melihat kembali acuan apa yang ampuh dalam memilah realita zaman. Yakni sebuah tolak ukur dalam memilah fakta untuk melihat gambaran utuh suatu permasalahan. Proses ini mengharuskan kita untuk melibatkan akal, realita, indera dan informasi yang tepat.

Sebab, pengetahuan akan sesuatu saja tidaklah sempurna. Pengetahuan membuat seseorang berpendidikan, sedangkan pemahaman membentuk intelektualitas. Akan tetapi pemahaman lebih mendesak agar arif menelaah realita dari sekedar pengetahuan. Pengetahuan saja belum cukup untuk menarik kesimpulan dan bertindak berdasarkan dengannya. Sebagai muslim, pemahaman yang diharapkan adalah proses berpikir yang selaras sesuai definisi Ulul Albab dalam Al Quran. Meski Ulul Albab dapat dimaknai dengan intelektualitas seorang muslim, namun perbedaannya dengan atribut intelektual lainnya sangatlah fundamental.

Para intelektual menganggap LGBT bahwa merupakan keniscayaan sebagai bagian dari pergeseran nilai seiring perubahan zaman. Padahal, kesimpulan tersebut tidak melalui proses analisa yang menghasilkan pemahaman melalui informasi yang lengkap, melainkan hanya berbasis pengetahuan yang bersifat relatif seiring bergesernya masa. Karena jika muncul hipotesa baru di kemudian hari, maka persepsi kebenaran pun bergeser. Menilai sesuatu yang berubah-ubah dengan acuan yang juga kerap berubah akan menghasilkan sesuatu yang rapuh, sehingga menyalahi fitrah manusia untuk berpegang pada sesuatu yang kokoh.

Ketika hendak mengetahui perihal suatu benda, panca indera berperan dalam mengidentifikasi benda tersebut sehingga jelaslah bentuk, tekstur, warna dan dimensinya. Dari penginderaan terhadap realita benda itu, kita memperoleh gambaran yang memicu respon naluriah dan berujung pada kesimpulan. Namun Ini belum sesuai dengan proses berpikir yang dikehendaki Islam dalam menilai kebenaran. Aktifitas tersebut hanya proses mengidentifikasi berdasarkan naluri saja.

Karena unsur terpenting yang luput dalam proses berpikir di atas adalah informasi sebelumnya mengenai benda tersebut. Tanpa melibatkan informasi yang benar, proses identifikasi menghasilkan dugaan atau bahkan khayalan belaka. Namun ketika proses di atas juga melibatkan unsur informasi yang benar, maka sinergi akal, otak, fakta dan informasi akan menghasilkan pemahaman yang benar. Dan persepsi inilah yang sangat berpengaruh terhadap manusia, karena persepsi tidak akan timbul kecuali melalui pemahaman.

Pentingnya Validitas Informasi

Perilaku sebuah kaum tidak dapat dipisahkan dari ideologi yang dianutnya, sehingga menganalisa aspek budaya saja, atau hukum dan sosial saja tanpa memahami ideologi yang mendorongnya adalah bentuk mutliasi sejarah, sehingga tidak ilmiah. Selama ini, aktifis LGBT mengutip informasi teks primer kitab suci secara parsial dan subjektif.

Misal dalam memaknai definisi pernikahan berdasarkan ketentuan agama. Mereka beranggapan bahwa rasa suka sama suka terlepas kecenderungan orientasi seksual seharusnya dapat diterima. Sebab, penolakan LGBT saat ini ditengarai oleh dominasi heteroseksual yang telah diterima sebagai persepsi “kenormalan”, dan tidak membentur kaidah agama. Padahal dari aspek historis, keberlangsungan umat manusia, risalah kenabian, termasuk peradaban yang kita nikmati selama ini, bergulir melalui kodrat heteroseksual itu.

Berdasarkan informasi sejarah pula menunjukkan bahwa ketika ada suatu golongan yang “berhasil” mempraktekan hubungan sesama jenis ini, buntutnya adalah bencana, penyakit ganas, kekacauan dalam masyarakat, serta semakin pudarnya Nilai Ketuhanan dari kehidupan. Mustahil, sesuatu yang dapat mengancam keselamatan dan keberlangsungan manusia itu sendiri disebut sebagai fitrah, kodrat dan kebutuhan dasar manusia. Ini jelas bertentangan dengan HAM.

Sejatinya, pernikahan diperuntukkan untuk keberlangsungan generasi melalui proses kelahiran. Ini tidak dapat dicapai dengan hubungan sesama jenis. Sehingga, hubungan sesama jenis tidaklah dapat dikatakan pernikahan, melainkan hanya hubungan pemuas hasrat biologis belaka.

Di dalam pernikahan, person yang terlibat di dalamnya diharapkan menikmati ketenangan hati. Ironisnya, berdasarkan sebagian kesaksian pelaku hubungan sesama jenis itu sendiri, pergolakan nurani yang hebat, termasuk rasa malu dan bersalah, kerap mewarnai keseharian mereka. Dari sisi psikologis, jika tekanan semisal itu tidak segera diatasi maka akan memicu mental disorder.

Sebagai insan beragama yang selaras dengan falsafah Pancasila, peran informasi dalam Al Quran seharusnya tidak akan pernah dapat dikesampingkan dalam mengarungi kehidupan. Tidak juga berarti kita berkutat pada faktor eksternal saja, namun juga menghidupkan kembali lembaran-lembaran Al Quran di rak buku kita yang bisa jadi selama ini telah menunggu lama untuk dibuka. Sehingga, informasi yang benar mengenai sepak terjang Kaum Nabi Luth di Kota Sodom dan Gomora tidak luput dari cerita yang dikisahkan kepada anak cucu kita.

Allahu A’lam, Allahul Musta’an.

===

Dimuat di Islampos, 9 Maret 2016 (Opini).

 

 

 

 

Advertisements