Betapa bid’ah telah memicu perdebatan panjang di antara kaum Muslimin di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Celakanya, tema bid’ah ini menjadi salah satu akar perselisihan yang tidak jarang berujung pada perpecahan hingga permusuhan. Dan memang begitulah tabiat pembahasan mengenai bid’ah ini jika dipahami dengan landasan berpikir yang keliru. Bid’ah juga dapat mengundang bencana dahsyat, sampai-sampai menyebabkan dijungkirbalikan-nya suatu kota.

Ibnu Manzhur (1233-1311) berkata mengenai definisi bid’ah“Bada‘asy syai-a, yabda‘uhu bad‘an wabtada‘ahu; artinya menciptakan atau mengawali sesuatu. Sedangkan makna dalam konteks syariat menurut kesepakatan ulama klasik adalah mengadakan suatu tata cara atau pemahaman dalam agama yang belum pernah ada, atau tidak dicontohkan oleh setidaknya generasi pertama Islam.

Naik Haji Pakai Unta

GPS, Smartphone, pengeras suara di masjid, Airbus A350 XWB, Internet, radar, surface to air missile, dan perangkat elektronik lainnya sejatinya adalah wujud inovasi (bid’ah) dengan segudang manfaat. Berangkat dari hal ini, Muhammad “Iron Man” Kusrin sejatinya adalah seorang ahlul bid’ah yang relatif membanggakan. Inovasi semisal ini tidak hanya menebar manfaat bagi manusia keseluruhan dalam keberlangsungan dan kualitas hidup, namun juga menopang aktifitas dakwah dan praktek ibadah.

Sehingga kita tidak perlu pusing memikirkan bagaimana caranya agar seekor unta mau menyeberangi samudera menuju Tanah Suci, atau repot-repot naik ke atap masjid dan berteriak sekuatnya untuk membangunkan warga saat waktu Subuh tanpa pengeras suara. Karena tidak ada satu pun ulama besar dan terpercaya, baik itu dari generasi terdahulu maupun ulama kontemporer, memaknai bid’ah seperti ini.

Jika menilik apa yang melatari munculnya stigma negatif dari bid’ah ini sebenarnya adalah konsensus ulama generasi klasik yang menjadikan masa awal Islam sebagai parameter. Sebab, layaknya seorang bayi, Islam pada awal kelahirannya belum bercabang, belum terpecah menjadi menjadi aliran, baik itu dalam bilangan atau definisi.

Pada era awal itulah Islam merupakan entitas yang utuh dengan keotentikan terjamin melalui “jaminan” dari Sang Pembuat Syariat. Pada masa awal Islam itu pula ulama generasi awal sepakat bahwa Islam dipahami dengan semurni-murninya berdasarkan Al Quran [ayat 100 Surah At Taubah] dan sejumlah perkataan Nabi.

Di tengah maraknya berbagai macam aliran baru yang mengatas-namakan Islam dan dinilai keluar dari kaidah-kaidah baku Islam, sejatinya kembali kepada Islam generasi “akar” dapat menjadi pisau rekonstruksionisme dalam memaknai Islam sehingga meminimalisir kebingungan di tengah maraknya “perang pemikiran” saat ini.

 

Kaum Sodom, Pelopor Homoseksual

Inovasi juga dapat menjadi malapetaka kolektif bagi suatu negeri, seperti yang menimpa kota keponakan Nabi Ibrahim. Para penduduk kota Bab Edh Dhra (Sodom) telah melakukan sesuatu praktek penyimpangan seksual yang sebelumnya belum pernah dilakukan manusia di peradaban manapun. Para lelaki di kalangan mereka melakukan hubungan seksual sesama jenis dan di saat yang sama, memusuhi mereka yang menentang praktek penyimpangan seksual tersebut.

Ketika Nabi Luth dan sejumlah pengikutnya meninggalkan kota tersebut pada waktu Subuh, seketika itu kaumnya tertimpa suatu bentuk siksa yang juga belum pernah ditimpakan kepada selain mereka.

Dan sudah merupakan sunatullah bahwa para penyeru kebenaran akan mendapat segala bentuk tentangan termasuk sebutan-sebutan buruk. Satu yang menarik, Al Quran telah mengindikasikan akan adanya sebutan “sok suci” yang disematkan kepada para penentang praktek seksual semacam ini.

“Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”.”[Al-A’raaf: 82]

Kembali Kepada Akar

Secara fitrah baik sadar atau tidak, sebagian besar umat Muslim di Indonesia sebenarnya telah menerapkan dan memaknai konsep bid’ah dengan benar. Ini terlihat melalui respon umat Muslim di Indonesia dalam menyikapi munculnya “dakwah” Lia Eden, gerakan Ahmadiyah, sepak terjang ISIS, kelompok yang mencederai para sahabat senior (Assabiqunal Awwalun) hingga fenomena Gafatar.

Dengan berpegang pada salah satu poin Arkaanul Iman (Rukun Iman), yakni beriman kepada para Rasul-Nya, termasuk keyakinan bahwa Nabi terakhir telah diutus sehingga tidak ada lagi Nabi setelahnya, umat Muslim dapat melihat gambaran jelas tentang korelasi peristiwa umat terdahulu dengan realita sekarang. Selain itu, memahami dengan baik bahwa kebenaran Al Quran dan Hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam yang shahih bersifat absolut banteng kuat dalam menyikapi setiap klaim adanya “wahyu” baru yang diturunkan melalui Malaikat Jibril pasca kerasulan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Parameter selanjutnya adalah menggugat salah satu dari sekian banyak penyelewengan ISIS dan afiliasinya, yakni pembunuhan membabi buta serta pengkafiran serampangan. Padahal, “jihad” versi mereka sangat bertentangan dengan teladan generasi awal Islam. Tidak main-main, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan bahwa tidak akan mencium aroma surga bagi umatnya yang membunuh seseorang non-Muslim ketika seseorang tersebut berada di bawah perjanjian damai, atau tidak dalam medan pertempuran. Jika sedemikian dahsyatnya ancaman membunuh seorang non-muslim (Mu’ahad), bagaimana perkaranya membunuh sesama Muslim tanpa sebab?

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Musnahnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbutuhnya seorang muslim.” (HR. Muslim, An Nasa’i dan At Tirmidzi. Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2439, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

>لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اِشْتَرَكُوْا فِي دَمِّ مُؤْمِنٍ لَأَكَّبَهُمُ اللهُ فِي النَّارِ

Seandainya penduduk langit dan bumi bersekongkol untuk membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan menelungkupkan mereka ke dalam neraka.” (HR. At Tirmidzi. Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2442, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)

 

Pun halnya dengan kelompok yang mencederai kehormatan dan menggugat kualitas keimanan sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, fenomena ini bukanlah barang baru. Semuanya terekam dalam buku-buku sejarah yang diterima secara global dan ditulis oleh ahli tarikh terbaik umat ini menggunakan metode isnad (ilmu periwayatan) yang ketat, di antaranya adalah buku karya Imam Thabari (Tarikh Al Rusul wal Muluk) atau karya Ibnu Katsir (Al Bidayah Wa Nihayah). Mengadopsi kaidah penelitian ilmu hadis ke dalam penyampaian khabar sejarah bukan saja meminimalisir distorsi ahistoris, namun juga menjadikannya sumber rujukan ilmyiah terhadap sejarah dengan tingkat keakuratan yang tinggi.

Menggugat keabsahan kualitas iman dan kejujuran para sahabat juga sejatinya mempertanyakan Islam itu sendiri. Lebih jauh lagi, hal ini juga menggugat keabsahan Nabi sebagai Manusia Terbaik di mana Al Quran diturunkan kepadanya.

Melalui para sahabatlah dua sumber utama ajaran Islam, Al Quran dan Assunnah, dapat kita ketahui. Lebih dari itu, secara sosial melalui mereka jugalah kita mengetahui bagaimana mengamalkan Al Quran dan Assunnah dengan benar dan berhasil (Hidayah Nur Wahid – (Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fi al-Fitnah). Di dalam Al Quran mreka disebut sebagai “Khoiru Ummah”, umat terbaik,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Ali Imron: 110].

Tak terkecuali dengan Gafatar. MUI saat ini tengah mengkaji dan meneliti Gafatar dan jika berdasarkan kajian ditemukan adanya kaitan Gafatar dengan Al Qiyadah yang berpaham agama, maka fatwanya sudah jelas sesat (Republika 20 Januari 2016). Secara garis besar, salah satu alasan Gafatar menuai kontroversi adalah lagi-lagi klaim turunnya wahyu Tuhan “baru” melalui Malaikat Jibril, sehingga meng”ilhami” Mussadeq untuk mendirikan Komunitas Millah Abraham (Komar).

Terkait fenomena Gafatar ini, perlu langkah-langkah bijaksana yang perlu dilakukan oleh masyarakat, ormas, MUI, dan pemerintah. Pertama, anggota masyarakat sebaiknya menerima kembali dengan tangan terbuka dan tanpa diskriminasi terhadap eks anggota Gafatar yang kembali ke komunitasnya. Mereka harus dirangkul kembali karena mereka sebenarnya hanyalah korban indoktrinisasi. Mereka diajak dialog secara terbuka dan elegan tentang paham keagamaan dan kebangsaan. (Muhammad Roy Purwanto – Republika, 29 Januari 2016)

 

Mekanisme Defensif Ulul Albab
Adapun mengenai maraknya gerakan LGBT, maka seseorang tidak harus menjadi mujtahid dalam samudera ilmu fiqih untuk meneliti hakikat fenomena ini. Bahkan, dengan menggunakan logika sehat yang sederhana, perkawinan sesama jenis sejatinya mengancam keberlangsungan eksistensi manusia di bumi melalui kelahiran generasi selanjunya. Secara etimologi, hal tersebut jelas termasuk ke dalam bentuk teror.

Tidak hanya manusia yang dilengkapi dengan akal daya analitis, hewan pun secara naluriah menolak perkawinan semisal ini. Sangat disayangkan memang ketika di tengah gegap gempita modernisasi, manusia sebagi makhluk berakal justru mengalami degradasi moral ke sebuah tingkatan yang kita pun enggan menyebutnya.

Di lain sisi, Inovasi dan kreasi bukan saja bisa menjadi wajib hukumnya demi kemashlahatan manusia, namun juga menjadikan kita sebagai insan yang mensyukuri nikmat Tuhan berupa akal, cipta dan rasa. Adapun pergi haji ke Istambul dan thowaf di Masjid Hagia Sophia, atau menulis deretan syair karangan kita dan mengklaimnya sebagai wahyu Tuhan yang baru saja diturunkan melalui Jibril, maka inovasi semacam ini lain ceritanya.

Sebenarnya, sebagian besar dari apa yang terjadi di zaman ini, baik itu yang terjadi di Timur Tengah, di Tanah Air, dan di belahan bumi lainnya, merupakan pengulangan-pengulangan. Rekam jejak sejarah peradaban manusia melalui kisah-kisah kaum terdahulu menuntut manusia untuk mengambil pelajaran sehingga dapat menimbang rentetan peristiwa masa lalu serta menimbang dengannya pada zaman ini. Dengan begitu, kita bukan saja tidak mudah kaget, namun juga memiliki salah satu karakteristik Ulul Albab, yakni mereka yang dapat mengambil pelajaran dari kisah umat terdahulu dan memikirkan sebab-akibat peristiwa-peristiwa tersebut serta dengan kebenaran yang didapatinya melalui proses tafakur menambah pengagungannya terhadap ayat-ayat Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements