Mau Sukses Harus Radikal

Radikal berasal dari kata Latin (radix) yang berarti akar. Google membawa perubahan radikal dengan menerobos batas-batas dunia maya yang sebelumnya merubah wajah jurnalisme secara radikal. Air Asia dengan konsep penerbangan berbiaya murahnya merubah struktur industri penerbangan sipil secara radikal – menjebol dominasi status quo maskapai-maskapai dengan konsep full service. Gerakan Kemal Attaturk pun radikal, mencabut akar Keislaman Imperium Utsmaniyah dan menggantinya dengan sekulerisme. Seluruh Nabi adalah radikal, mencabut akar kesyirikan dan menggantinya dengan kekokohan Tauhid. Seseorang harus merubah keadaannya secara radikal, baik itu penghasilannya, bisnisnya, kedewasaannya dan kehidupan keluarganya sehingga dengan Izin Allah, nasib pun berubah menjadi lebih baik. Radikal tidak sama dengan radikalisme, apalagi dengan ekstrimisme. Islam tidak mengenal “isme”.

“Alcohol is especially harmful to proper hydration – not a problem as this is not served on board.”

(Saudi Arabian Airlines Terms, Conditions/Passenger Advice).

Minuman beralkohol adalah salah satu dari menu spesifik yang tidak dihidangkan sebagian maskapai di Timur Tengah dan Afrika Utara dalam in flight meal mereka. Maskapai-maskapai yang mengadopsi sebagian kaidah syariah tersebut bahkan memiliki kode etik khusus dalam berbusana bagi awak kabinnya, selain dari juga ritual doa dalam beberapa fase penerbangannya. Tidak ada istilah baku dalam dunia penerbangan komersial akan layanan semacam ini. Analogi yang dirasa tepat adalah perbankan syariah (sharia compliant bank) yang secara radikal dan perlahan merubah tatanan perbankan di Eropa.

Qantas – The Spirit of Islam

Terang saja, ketentuan-ketentuan “syariah” yang tidak populis di mata warga dunia ini mengundang kontroversi regulator penerbangan dan mendatangkan kecaman dari publik. Namun justru keberadaannya bukan saja semakin diterima, tetapi juga diadopsi oleh maskapai-maskapai lainnya, seperti salah satu maskapai tertua di dunia, Qantas, misalnya.

Di pertengahan 2013 lalu, Qantas diprotes karena keputusannya meniadakan minuman beralkohol dan makanan mengandung daging babi dalam rute penerbangan menuju Timur Tengah. Peniadaan “radikal” sejumlah hidangan in flight meal ini sebenarnya murni bisnis dan sebagai bagian dari kesepakatan codeshare dengan Emirate Airlines.  Sebagian publik Australia mengritik langkah Qantas melalui beberapa satir yang dimuat di media-media Australia – Qantas disebut sebagai “Al Qantas”, “Qantas – The Flying Mosque-a-roo”, dan “Qantas, The Spirit of Islam.” Kemudian dalam sebuah pernyataannya, pihak maskapai menegaskan bahwa menu-menu dalam penerbangan Qantas seringkali merefleksikan kultur wilayah tujuan layanan penerbangannya, dan Timur Tengah tidak terpisahkan dari nilai-nilai Islami

Syariah Merambah Industri Aviasi

Maskapai yang mengadopsi nilai syariah sebenarnya bukan bid’ah dalam industri penerbangan komersial. Sebelumnya, perusahaan leasing pesawat berbasis syariah sudah lebih dulu muncul. Pertengahan Juni 2014 silam, Airbus Group bersama Islamic Development Bank (IDB) berbasis di Jeddah, Kerajaan Arab Saudi, menyepakati sistem pembiayaan pesawat berdasarkan syariat Islam sebagai upaya memenuhi permintaan yang meningkat akan leasing pesawat dari berbagai maskapai di Timur Tengah, Asia dan Afrika. Garuda Indonesia sendiri beberapa kali bekerja sama dengan pihak perbankan syariah dalam beberapa layanannya dan melibatkan pembiayaan syariah dalam pembelian armada Boeing 777-300ER-nya.

Meski sebuah maskapai tidak perlu secara lugas menyatakan bahwa mereka mengusung konsep syariah ini, namun pada kenyataannya sejumlah maskapai secara parsial telah menerapkan sebagian kaidah syariah Islam dalam layanan penerbangannya. Saudi Arabia Airlines, Pakistan Airlines, Kuwait Airways, Afriqiyah Airways (Libia), Egypt Air, Royal Brunei Airlines, Firnas Air (Inggris) dan Rayani Air (Malaysia) adalah beberapa di antaranya

“Harta Qorun” Maskapai Syariah

Terdapat tidak kurang dari 1.8 miliar umat Islam di dunia. Berbicara segmen pasar, angka tersebut jelas menggiurkan secara bisnis. Low cost carrier telah merubah wajah penerbangan komersial dunia untuk selama-lamanya. Southwest Airlines sukses menggebrak industri penerbangan dunia dengan layanan penerbangan low cost carrier-nya di pertengahan 70an. Sukses Southwest di AS diikuti oleh suksesnya maskapai dengan konsep serupa di Eropa, RyanAir dan di Asia melalui AirAsia.

Penulis buku “The Golden Circle” dan “Start With Why”, Simon Sinek, mengatakan salah satu rahasia Southwest adalah keberhasilan mereka menggugah keyakinan (belief) konsumen. Simon Sinek mengatakan, people don’t buy what you do, they buy why you do it. Konsumen menimbang suatu produk dan layanan tidak saja berdasarkan harga, nama besar, fitur, atau iklan saja. Lebih jauh lagi, suatu produk atau jasa hampir pasti menuai sukses di pasar ketika mampu menyentuh belief (keyakinan) konsumen. Ketika konsumen dan produsen memiliki belief yang sama mengenai suatu produk atau jasa, maka produk atau jasa tersebut telah memiliki ikatan yang jauh melampaui dari sekedar fitur, harga dan nama besar.
Sebagai Contoh Microsoft dan Apple. Microsoft memiliki produk-produk yang lebih beragam dan lebih dikenal di masyarakat dunia dengan harga relatif lebih terjangkau. Sedangkan segmen Apple lebih sempit dengan harga yang lebih mahal, serta varian produk yang lebih sedikit dari Microsoft. Dari nama besar, Apple tidak sepopuler Microsoft di awal kemunculannya. Namun demikian, Apple bukan hanya bertahan, melainkan meraup segmen pasar yang dibentuknya sendiri. Apple mewakili identitas dan karakter individu kostumernya yang berbeda dari status quo Microsoft. Inilah salah satu alasan tingkat keterisian maskapai premium Garuda Indonesia tetap tinggi di tengah gegap gempita maskapai-maskapai berbiaya murah.

Konsep people don’t buy what you do, they buy why you do it inilah yang membuat sharia compliant airline memiliki potensi membuat gebrakan sekaligusmemberi pilihan kepada konsumen, dengan catatan konsep ini harus dapat “menyentuh” bagian otak yang berfungsi sebagai pengambil keputusan melalui why-trust ­ untuk dapat bersaing. Trust bersifat sangat personal dan selalu muncul dari keseragaman visi dan misi. Trust inilah yang bernilai lebih dari catatan angka kecelakaan yang rendah, baiknya on time performance suatu maskapai, atau pesawat-pesawat baru yang dioperasikan maskapai.

Ketenangan Adalah Kemewahan

Dalam dunia penerbangan, konsep semisal sharia compliant airline ini bukan hal yang baru apalagi tabu. Meski sejak awal kelahirannya dunia penerbangan mengusung asas “sekulersime”, yakni pelayanan optimal kepada konsumen tanpa memandang ras dan keyakinan, berbagai maskapai di dunia secara parsial telah mengadopsi layanan spesifik seperti ini. Maskapai flag carrier Garuda Indonesia menyediakan Kosher Meals (Yahudi) dan Moslem Meals (Islam). Kesamaan antara Kosher dan Halal sendiri adalah tidak menghendaki adanya unsur babi dalam makanan dan minuman (Khazanah Republika – 18 Desember 2008).

Sejatinya, alternatif layanan syariah ini tak ubahnya seperti kemewahan dan nilai lebih yang ditawarkan maskapai penerbangan komersial dengan bentuk berbeda. Sebagian calon penumpang memilih terbang dengan maskapai yang memiliki segudang penghargaan demi rasa aman, kenyamanan dan kemewahan meski harus membayar mahal. Namun demikian, masing-masing individu dari berbagai latar belakang budaya dan keyakinan memiliki pandangan berbeda dalam mendefiniskan kenyamanan dan kemewahan.

Kenyamanan bepergian juga dapat diperoleh dari kesamaan visi, belief, “why” antara maskapai dengan penumpang, dan penumpang dengan penumpang lainnya.  Bagi penumpang beragama Islam, bepergian dengan maskapai penerbangan yang mengadopsi nilai syariah membuat mereka merasa lebih aman dan memungkinkan mereka tetap “dekat” dengan nilai keyakinan yang dianutnya. Faktor-faktor ini secara psikologis membuat penumpang merasa lebih tentram dan nyaman, melebihi kenyamanan terbang dengan kabin mewah dengan sajian hidangan dari tangan-tangan chef terampil kelas dunia. Kemewahan apa lagi yang dapat seorang penumpang dapatkan selain rasa aman dan tentram di hati ketika bepergian melalui udara?

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (HR Bukhari Muslim)

Mudharat Khamr Dalam Penerbangan

Islam menjaga lima hal esensial dalam keberlangsungan hidup layak sesuai kaidah syariah. Di antara kelimanya adalah akal dan jiwa. Selain akal yang menyimpang saat berada di bawah pengaruh alkohol, jiwa puluhan hingga ratusan penumpang pun bisa menjadi taruhannya.Minuman memabukkan dalam sebuah penerbangan komersial telah terbukti tidak hanya mengganggu ketertiban dan kenyamanan di kabin penumpang, namun juga membahayakan sebuah penerbangan itu sendiri.

Alkohol, atau lebih tepatnya minuman yang memabukkan (Khamr), sangat dekat dengan salah satu penyebab kericuhan, keonaran, perilaku yang tidak menyenangkan dalam kabin penumpang pesawat komersial.  International Air Transport Association (IATA) menyatakan penyebab dominan perilaku onar penumpang dalam kabin adalah minuman beralkohol (Guidance on Unruly Passenger Prevention and Management), selain dari pengaruh obat-obatan dan narkotika. Mendobrak pintu kokpit, pintu kabin, mengamuk di dalam kabin, menyerang/mengganggu awak pesawat, adalah di antara karakter kasus-kasus keonaran di dalam kabin penumpang berkaitan dengan di bawah pengaruh alkohol.

Pilot tidak terkecuali. Termaktub dalam “Pilot Saftey Brochures” yang dirilis Federal Aviation Administration (FAA), menyatakan bahwa minuman beralkohol berdampak buruk terhadap performa penerbang. Badan otoritas penerbangan sipil Inggris, CAA, juga menyatakan bahwa pengaruh alkohol sangat berpotensi memicu perilaku penumpang di luar kewajaran saat mengudara (Cabin  Safety – Disruptive Passenger Guide, Civil Aviation Authority). Ironisnya, tindakan preventif pun terkesan setengah hati. Awak kabin (hanya) direkomendasikan untuk berhenti menyajikan alkohol kepada penumpang yang terlihat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, atau tidak menyajikannya kepada penumpang yang sudah terlihat teler saat memasuki kabin pesawat di gate.

Munculnya Rayani Air pada penghujung 2015  menyuarakan optimisme akan alternatif model bisnis yang relatif baru untuk digarap. Selain itu, maskapai syariah juga dapat diproyeksikan sebagai salah satu dari sekian solusi untuk menekan angka kasus dugaan Islamofobia yang kian marak pasca tragedi 9/11, Perang Afghanistam, Perang Irak, Charlie Hebdo, Bom Paris, dan sepak terjang Donald Trump di AS. Model bisnis ini sama sekali tidak menomorduakan co-existent antar umat bergama di dalam kabin penumpang. Bahkan, dengan mengadopsi nilai syariah dengan baik, maka (seharusnya) kenyamanan, ketertiban serta keamanan bepergian di udara dapat dinikmati oleh setiap makhluk yang bernyawa.

Allahu A’lam, Allahul Musta’an.

====

Esai ini dimuat di Harian Republika, 20 Januari 2016, Halaman 6 (Opini).

Advertisements